
Sedari pagi matahari bersinar cerah, suasana pasar juga ramai karena ini akhir pekan begitu juga dengan dagangan piring mereka yang laku. Wajah Gemma, Nora dan Gloria tersenyum sangat lebar karenga penghasilan mereka hari ini sangat lumayan.
Saat sedang membenahi barang dagangannya, Nora yang tersadar pertama. "Eh?!"
Wanita itu langsung menyikut nyikut Gloria yang berada disebelahnya agar juga ikut melihat apa yang membuatnya terkejut saat ini.
"Ada apa denganmu sih?!" Gloria gemas dengan tingkah Nora yang selalu membuatnya geleng geleng kepala.
"Itu.. tuan kepala.." Nora berbisik bisik untuk memberitahu Gloria dan tetap menatap orang itu karena sungkan.
"Tuan kepala??? Apa sih..?!" Gloria mengadahkan kepalanya kesal namun sejurus kemudian dia menutup mulutnya setelah melihat apa yang Nora lihat. Sekarang giliran Gloria menyikut nyikut Gemma yang sedang menyuguhkan minuman untuk Flo.
"Astaga!! Teh nya tumpah!!" Kesal Gemma. "Kalian tidak bisa diam yah?! Lapak ini sempit! Untuk rok nyonya tidak basah!!"
"Itu.. tuan Agustin disini!!" Gloria berbisik penuh penekanan hingga Flo yang acuh sedari tadi melihat kearah dimana Agustin berdiri menatap mereka semua.
Gemma tak kalah terkejut dan langsung menyadarkan dua rekannya untuk menyapa Agustin.
"Tuan Agustin! Kami memberi salam!" Ucap mereka kompak.
Setelah tersenyum dan menganggukkan kepalanya, giliran Agustin mendekat dan menyapa Flo. "Saya Agustin memberi salam pada nyonya Flo." Ucapnya formal.
Flo hanya menipiskan bibirnya, "Aku bukan lagi bagian dari Luckingham, tidak perlu bersikap formal padaku. Ada apa yang membuatmu datang kesini??"
"Aku ingin berbicara berdua dengan nyonya Flo. Bisakah??"
Flo menatap ketiga pelayannya yang menunggu reaksi darinya. "Kita bicara di kedai itu saja." Flo menunjuk sebuah kedai teh yang sepi pengunjung dan Agustin menuruti permintaan Flo.
Setelah memesan, mereka berdia duduk dalam diam. Agustin menghela nafas panjang sebelum memulai berbicara dengan Flo. "Nyonya, besok Luckingham akan memasang pengumuman dimana mana. Berita tersebut akan keluar secara resmi, namun sebelum berita itu tersebar aku ingin nyonya yang mengetahui pertama kali sebagai orang yang berada diluar Luckingham."
Flo masih terdiam mendengar perkataan Agustin, membuat pria itu kembali melanjutkan perkataannya. "Tuan Winter akan memperistri nona Summer dari keluarga Grace. Dan nyonya Leana berniat untuk mengajak semua tetua Ferkalon agar nona Summer diangkat menjadi duchess."
Flo hanya diam mendengar itu semua, entah perasaan apa lagi yang bisa menghancurkan hatinya atau membuatnya melebur menjadi buih.
"Seperti janjiku pada tuan Michael, kini nyonya sudah tidak ada hubungan apapun dengan Luckingham. Hiduplah dengan baik nyonya Flo, lupakan semua perasaan, buanglah serpihan harapan terakhir itu."
__ADS_1
"Memperistri..." Gumam Flo kecil, lalu dia bangkit berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Agustin.
Bukannya kembali pada ketiga pelayannya yang mungkin sedang menunggunya, Flo berjalan dan terus berjalan dengan perasaan yang sangat gamang. Dia melewati banyak tempat hiburan, dan hari semakin gelap. Ketika sudah lelah, Flo berhenti dipersimpangan jalan yang dekat dengan rumah wanita penghibur disana. Terdengar suara tawa dan suara nyanyian yang berasal dari sana.
Flo hanya berdiri diam menatap langit, samar samar terdengar nyanyian lagu bunga liar dari dalam sana.
"🎶Ada bunga yang tumbuh diistana, namanya bunga liar. Bentuknya seperti bunga, tapi hatinya sangat liar. Karena itulah dia disebut bunga liar🎶"
Flo menunduk dan menyayikan bait lagu itu dengan suara serak. "🎶🎶Langit memanggil, dan bunga liar itu menjelma menjadi bunga pir yang menutupi langit🎶🎶"
Bait lagu terakhir yang tidak pernah dinyanyikan oleh siapapun. Aku pikir.. aku akan mekar seperti bunga pir yang menutupi langit suatu saat nanti. Tapi....
Flo mencengkram erat tangannya sendiri dengan bergetar dia menahan dirinya karena terngiang ngiang ucapan Agustin dimana Winter akan menikah demgan Summer.
"..tidak ada hubungannya yah.. Karena aku meminta agar tidak bertemu lagi, jadi.. inikah jawabannya?? Inikah perasaan Winter yang sesungguhnya??" Flo berjongkok dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, nafasnya tersendat oleh sengukan tangis tanpa suara.
Sementara itu kabar Winter akan menikah dengan Summer sudah menyebar keseluruh Luckingham tak terkecuali Altez. "Orang gila!! Kalau mau menyebar rumor itu pakai otak! Awas saja!!" Altez mengambil mantel dan topi bundar miliknya. "Nyonya!! Aku akan kesana untuk menemuimu!"
Altez berjalan cukup jauh dan naik kendaraan umum untuk bisa sampai ke alamat yang pernah Gemma tuliskan dalam surat untuknya. "Permisi permisi!!" Altez mengetuk pintu dan segera dibukakan.
"Ada apa? Mana nyonya Flo??!"
Gloria dan Nora juga keluar, "Nyonya belum pulang!! Tadi tuan Agustin kesini dan berkata ingin berbicara dengan nyonya."
Tak lama perdebatan mereka terhenti mendengar langkah kaki. "Nyonya Flo!!" Seru mereka bersamaan.
Flo terlejut dengan kemunculan Altez, namun dia lebih terkejut karena keempat pelayannya langsung menyeret dia untuk masuk. "Diluar dingin! Hari mulai gelap, masuk dan hangatkan diri nyonya!!"
Begitu mereka berlima sudah masuk dan duduk melingkar sambil menikmati teh dan makan malam, Altez tidak berhenti mengoceh. "Pelayan pelayan di Luckingham tidak berhenti bergosip setiap hari, berkata tidak masuk akal bahwa tuan Winter akan menikahi nona Summer itu!! Ayo kembali nyonya, kita beri pelajaran pada pelayan yang kurang ajar itu! Kita cambuk dan colok matanya!!"
Gemma, Gloria dan Nora yang mendengar itu juga marah dan memanasi Altez untuk bertindak.
"Pfftt!" Flo tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah keempat pelayannya yang berapi api.
"Kenapa nyonya tertawa??" Altez menatap Flo bingung. "Nyonya akan kembali kan???"
__ADS_1
Flo hanya diam menatap Altez, membuat Gemma, Gloria dan Nora saling pandang dengan sedih.
"Nyonya akan kembali ke Luckingham kan?? Kenapa tidak menjawab??" Altez menaikkan intonasinya. Karena juga tidak mendapatkan jawaban dari Flo. "Aku menyapu setiap hari!! Mengelap semua perabotan sampai mengkilap dan tidak ada debu setitikpun!! Aku juga belajar sastra menulis seperti yang nyonya suruh sedari dulu!! Kenapa tidak menjawab?!! Nyonya akan kembali kan???!" Mata Altez sampai berkaca kaca dengan deru nafas yang memburu membuat ketiga temannya semakin sedih.
"Ini sudah malam, kalau kamu tidak kembali ke Luckingham sekarang. Kamu tidak akan diijinkan masuk." Ucap Flo dingin.
Baru saat Altez ingin kembali beragrumen, Flo menatapnya tajam. "Kembali sekarang!" Tegas Flo kembali.
Altez mengusap kasar air matanya dan berlari keluar setelah mengambil mantel juga topinya.
"Apa tidak apa apa Altez diusir seperti itu nyonya??" Tanya Gemma hati hati. "Padahal Altez sudah bertahan disana untuk menunggu nyonya kembali."
Flo terdiam sebentar, "kalian sendiri.. kenapa terus bertahan denganku??"
Gemma menghela nafas panjang. "Rasa kesetiaan dan nyawa itu bukan hal yang bisa kita buang begitu saja. Terkadang tidak ada pilihan selain bertahan, meski keadaannya membuat kita kesulitan dan muak. Bukankah kita harus tetap menguatkan diri untuk bertahan."
..
Flo membuka jendela kamarnya, lagi lagi dia menatap langit malam.
Semua membingungkan.. kamu bilang kamu tidak membuangku.. kamu juga bilang bahwa hubungan kita bukan hubungan yang bisa terptus begitu saja.. apa semua ini artinya ada jalan untukku?? Tapi kenapa dari banyaknya jalan tetap saja aku tidak melihat jalan untukku?? Aku tidak mengerti...
Semikir angin malam berhembus menerpa wajah Flo, dia mencium aroma parfum yang khas. "Ethan??" Ucapnya pelan.
Terdengar suara kekehan dari samping jendela Flo, "Kamu seperti penyihir yang punya kekuatan supranatural hanya mencium aroma parfum sudah tahu siapa orangnya." Ethan muncul berdiri ditaman depan jendela Flo. "Apa kamu sehat sehat saja Flo??"
Flo menatap pria dihadapannya, "Ethan, dimana paman Michael saat ini??"
Ethan menaikkan alisnya mendengar pertanyaan Flo.
"Aku tahu kamu mengetahui dimana beliau tinggal kan?"
"Apa kamu tau Flo bahwa kamu tidak bisa bertemu begitu saja dengan beliau." Ethan menatap Flo dalam.
"Aku membencimu, aku benci kamu yang bisa bertemu dengan paman Michael dan menjadi orang kepercayaannya." Flo menjeda. "Paman Michael adalah orang pertama yang menyebutku cantik sambil tersenyum hangat, setelah dia pergi aku terus menerus menangis." Flo menatap Ethan serius. "Pertemukan aku dengan paman Michael."
__ADS_1