
Setelah berbicara dengan Flo tadi, Winter mengunjungi Summer. "Bagaimana keadaanmu? Memar dipipimu cukup parah."
Summer yang menunduk malu, mengusap pipinya perlahan. "Aku hanya terjatuh dikamar mandi kemarin."
Winter hanya diam dan menatap Summer. "Summer.." panggil pria itu lembut. "Aku akan memelukmu, jadilah wanitaku."
Summer terkejut bukan main mendengar ucapan Winter. "Per.. pertama, silahkan tuan Winter duduk dulu." Summer menarik kursi dan mempersilahkan Winter untuk duduk.
Setelah duduk Winter kembali menatap Summer. "Jadilah wanitaku, maka itu akan menjadi perisai yang kuat untuk melindungimu."
Meskipun Summer merasa bahagia namun dia tidak ingin gegabah, karena dia hanya tidak ingin mendapatkan masalah lagi dengan Flo. Meski rasa benci dan kesal terhadap Flo yang telah menghina dan merendahkan status dirinya namun setelah kejadian kemarin Summer seakan melihat sisi lain dari nyonya duchess Ferkalon. "Bagi tuan Winter, apa arti diriku? Aku hanya marchioness muda yang sedang mempelajari bisnis dunia perdagangan ayahku. Meski aku belajar bisnis disini namun apa aku sangat memerlukan perlindungan tuan Winter?"
Winter terdiam sebentar, "Aku memberimu waktu untuk berpikir." Pria itu bangkit berdiri. "Harapanku hanya satu, agar Flo tidak bisa melukaimu lagi. Jika perlu aku akan memberimu status selir."
Summer terdiam melihat Winter yang keluar, dalam hatinya bercampur aduk. Senang, dia jelas senang dan dia sangat menginginkan Winter namun serasa ada yang salah dalam hatinya.
Apa aku boleh menganrtikannya seperti itu? Tu... Winter. Apa aku boleh mengartikannya kamu memiliki kasih sayang padaku?
****
Hari perayaan festival musim semi akan segera berlangsung, dalam perayaan itu jelas Winter akan duduk diastas podium bersama tetua keluarga Ferkalon. Dan disinilah Leana yang merencanakan sesuatu. "Nyonya Leana yakin??" Kepala pelayan Leana bertanya sekali lagi. "Podium adalah tempat resmi untuk keluarga Ferkalon, apa nyonya yakin mau membawa nona Summer naik kesana??"
Leana tersenyum miring, "Putriku Olivia sudah lama sedang diluar negri untuk keperluan bisnis keluarga Ferkalon, anggap saja aku wanita tua yang merindukan putrinya. Dan aku menganggap Summer seperti putriku sendiri." Leana menjeda. "Semua orang juga sudah tau, 3 hari berturut turut ini Winter terus menemui Summer. Jadi kau jangan lancang menasehatiku!"
"Ma.. maaf nyonya. Saya hanya kuatir nyonya duchess akan berbuat sesuatu."
"Winter akan melindungi Summer, dan untukku ini semakin menarik. Apa yang akan dilakukan oleh wanita iblis itu melihat Winter duduk berdampingan dengan Summer." Leana tersenyum licik membuat pelayannya meringis khawatir.
****
Bendera negara berkibar dimana mana, tari tarian terus mengiringi acara dimana rata rata semua tamu hadir memeriahkan acara. Winter bersama tetua keluarga Ferkalon lainnya sudah duduk diatas podium, menikmati minuman dan mengobrol. Tak lama muncullah Leana bersama Summer dan hendak naik keatas podium, "Winter, tante yang sudah tua ini akan bosan dan kesepian jika kalian hanya membicarakan bisnis. Ijinkan tante membawa serta Summer untuk menemani tante berbincang, melupakan kerinduan pada Olivia."
Winter terdiam sebentar dan melihat Summer yang berdiri dibelakang Leana menunduk dengan senyum yang tersipu. "Tentu saja tante Leana."
"Terimakasih Winter." Leana tersenyum dan menggandeng Summer naik untuk duduk bersebelahan dengan Winter.
__ADS_1
Para selir dan Flo mempunyai tempat tersendiri karena mereka bukanlah keturunan langsung keluarga Ferkalon, terlebih Flo juga belum menerima penobatan gelar duchess secara resmi. Flo hanya bisa memandang Winter diatas podium yang duduk bersebelahan dengan Summer meski wajah Flo nampak dingin namun hatinya terasa sangat sakit.
Suara tawa dan raut wajah bahagia terus tampak disegala penjuru, semua menikmati pesta dan minum bersama. Namun tidak dengan Flo, wanita itu hanya duduk diam sendiri dalam aula pesta yang meriah itu.
Winter meminum gelas Wine nya, dia menjadi diam semenjak kedatangan Summer. Winter memahami pasti akan ada banyak rumor mengenai Summer yang duduk diatas podium, namun jika Winter membawa Flo tentu saja akan lebih banyak membawa konflik internal.
Pandangan mata yang terus tertuju padaku.. aku bisa merasakannya kamu duduk disana dan terus menatapku. Dengan duduk terpisah dari orang orang, kamu hanya menatapku saja. Kenapa kamu seperti itu, selalu sendirian. Yah apalagi kalau bukan karena sifatmu yang buruk itu sehingga tidak ada yang mau dekat dekat denganmu kan?
'Tak!!'
Winter menaruh gelasnya sedikit keras, entah kenapa perasaan kesal dengam cepat merayapi hati Winter, pria itu menggertakkan giginya dan mengernyit.
Tapi... orang orang seperti kalian.. lancang sekali! Mengasingkan dan merendahkan dia seperti itu!! Aku akan...
Winter hendak bangkit berdiri dan saat itu juga matanya dan mata Flo bersibobrok.
Flo...
Flo mengalihkan pandangannya dari Winter dengan dingin.
Flo bangkit berdiri, berjalan anggun dengan gaunnya dan meninggalkan aula pesta.
Kamu mau kemana? Kamu kau pergi kemana setelah mengacaukan pikiranku seperti ini?! Aku membencimu Flower...
Tanpa Winter sadar, Summer terus memperhatikan dirinya yang tidak lepas menatap Flo sedari tadi.
****
"Nyonya Flo." Agustin menemui Flo dihalaman yang jauh dari aula pesta. "Seperti yang anda perintahkan saya datang menemui tengah malam."
"Kamu sudah menemukan dia??"
Agustin hanya menganggukkan kepalanya pada Flo.
Flo berbalik dan akan melangkah pergi. "Antarkan dia diam diam ke kediamanku."
__ADS_1
"Baik nyonya."
Tanpa mereka sadari ada salah satu pelayan kepercayaan Dylan mendengar pembicaraan mereka. Karena merasa curiga, pelayan itu terus membuntuti Agustin.
..
"Permisi nyonya Flo. Kami sudah datang." Suara Agustin terdengar dari balik pintu kediaman Flo.
Ethan muncul dan tersenyum melihat Flo, "Apa yang membuatmu ingin bertemu secara pribadi seperti ini denganku Flo?"
Tak lama setelah itu Agustin pamit undur diri, Flo mempersilahkan Ethan duduk dan menyuruh Altez menghidangkan teh. "Kamu masih saja tidak tertarik dengan festival di Luckingham??"
"Yahhh.. seperti dirimu, mungkin aku tidak disana juga karena banyak yang tidak menyukaiku. Bedanya kamu tetap hadir hanya untuk melihat Winter." Canda Ethan. "Jadi kepentingan apa yang membuatmu mengundangku kemari? Kamu tau sendiri sangat berbahaya jika ada yang tahu aku disini, jangan mengulur waktu terlalu lama."
Flo meneguk teh nya dan menatap Ethan. "Aku masuk ke Luckingham saat berumur 6 tahun hampir selama 20 tahun aku disebelah Winter namun keadaan masih tetap saja sama. Sedari dulu kamu yang paling tahu apa keinginanku."
Ethan tersenyum tipis. "Tentu saja menjadi duchess dan istri Winter."
Flo terdiam sambil memainkan cangkir teh miliknya. "Dari dulu aku selalu memakai tanganku sendiri untuk menyingkirkan orang yang menghalangi jalanku dengan kejam dan tanpa ampun. Namun sekarang muncul orang yang tidak dapat kusingkirkan dengan tanganku sendiri."
"Jangan bilang maksudmu adalah nona Summer Grace." Ethan sedikit khawatir
"Benar." Flo menjeda. "Aku pernah menjambak rambut wanita yang akan dikenalkan pada Winter dulu. Menampar pipi selir hingga sobek dan berdarah, namun Winter tidak pernah sekalipun marah dan menghukumku. Tapi.. hanya karena Summer, wanita itu.." Tangan Flo bergetar dan suaranya tercekat. "Aku benci saat Winter mengabaikan aku yang selalu berbuat kejam tapi, aku lebih benci melihat Winter yang mengkhawatirkan Summer dan menghukumku karena wanita itu. Tolong..." Flo menatap dalam Ethan. "Tolong bunuh Summer, tolong bunuh wanita itu untukku!"
..
Sementara itu di aula pesta, Dylan yang sudah menerima kabar dari pelayan kepercayaannya segera melaporkannya pada Winter.
"Maaf tuan Winter, ada sesuatu yang harus saya sampaikan." Ethan mendekat dan berbisik ditelinga Winter.
Winter membatu sesaat setelah mendengar laporan dari Dylan. "Apa itu benar?!"
"Iya tuan Winter."
Winter mengepalkan tangannya erat.
__ADS_1
Flower!! Apa lagi kali ini..?!