Abandoned Flower

Abandoned Flower
Pandai Menghadapi Anak Kecil


__ADS_3

Tubuh anak laki laki itu kurus dengan rambut yang memanjang dan berantakan, memakai kaos tanpa lengan yang kumal dan celana pendek yang kotor. Anak itu terus mengerang dan memberontak, air matanya sudah berjatuhan karena takut akan Lloyd yang menatapnya tajam tanpa bergeming.


"Arrgh! Lepassss!" Anak itu terus saja berusaha memelintir tangannya agar terlepas dari Lloyd.


"Hah hah!" Camell yang baru menyusul Lloyd terengah dan mengatur nafasnya sebentar. "Tu.. eh Leo! Kamu ini ngapain?!" Camell menahan pergelangan tangan Lloyd sebagai kode untuk melepas anak itu agar tidak melukainya karena jelas Lloyd menggenggamnya dengan sangat erat. "Leo!!" Camell menatap serius Lloyd sebagai peringatannya yang terakhir atau bisa saja tangan anak itu akan patah.


Lloyd menghempas tangan anak itu cukup keras hingga anak itu jatuh tersungkur hingga mengeluarkan sebuah kantung dari balik bajunya.


"Ini kan... bungkusan gelang yang aku beli tadi di pusat desa??" Camell melongo melihat bungkusan itu ditanah lalu mengambilnya, dia menatap anak itu dengan wajah terkejut juga sedih tidak menyangka anak seusia itu mempunyai tangan yang cepat untuk mencuri.


"Kenapa kamu mencurinya??" Tanya Camell pada anak itu dengan suara yang melunak.


Anak itu berteriak marah menjawab Camell tanpa sopan santun. "Apa urusan kamu?!!! Tadinya barang itu kan milik kami!!! Kalian para orang orang kaya yang merampasnya!! Kakakku yang bilang begitu, kalian para orang kaya dengan uang yang terus bertambah banyak karena mengambil apa yang kami miliki!!!"


Camell dan Lloyd saling bertukar pandang, lalu Camell kembali melirik anak itu. "Jadi dengan alasan itu kamu membenarkan mencuri, begitu?!!" Tanpa perasaan Camell pun menyentil kening anak itu.


"Aduhh!!" Anak itu berteriak dan memegang keningnya yang sakit.


"Siapa namamu???" Camell bersidekap memasang wajah galak.


"Ron..." Keluh anak itu.


"Dari mana anak kecil seusia kamu belajar hal hal jahat seperti ini??" Camell memelototi anak itu.


"Usiaku 12 tahun!!! Aku bukan anak kecil!!" Ron kembali meneriaki Camell.


"Kamu ini kenapa malah berteriak dan membentak?? Kalau kamu berurusan sama orang jahat kamu bisa dalam bahaya tauk?!" Camell dengan tegas memarahi Ron. "Aku bilang begini karena aku masih baik sama kamu." Lanjut Camell dengan suara melunak. "Maksud kakakmu itu pasti bukan menyuruhmu untuk mencuri. Memangnya kakakmu bilang boleh mencuri milik orang kaya??"


"Kakak tidak bilang begitu..." Ron menundukkan kepalanya. "A.. aku tahu kalau mencuri itu perbuatan buruk, ta.. tapi.."


"Iya benar!" Camell menyela. "Kalau kamu tahu itu perbuatan buruk harusnya kamu bilang apa??"


Ron menatap ragu Camell dan Lloyd secara bergantian, dengan terbata dia meminta maaf. "A.. aku minta maaf." Cicitnya.


Camell tersenyum puas. "Kamu melakukan yang benar." Dia mengusap kepala Ron.


Lloyd akhirya mendekat kearah Ron dan Camell. "Kondisinya yang berkekurangan ini harusnya menjadi tanggung jawabku." Lloyd mengeluarkan 5 keping emas dari saku celananya. "Ini..."


"Jangan." Camell menahan tangan Lloyd.

__ADS_1


"Ini bukan uang besar tapi cukup untuk dia makan." Lloyd sedikit bingung kenapa Camell menahannya.


"Bukan itu masalahnya, aku tahu kalau bersimpati itu penting. Tapi bukan itu yang anak ini minta, dia sendiri malah mencuri. Menurutmu dia pantas dikasihani seperti itu..?"


"Kamu..!" Lloyd tidak setuju dengan pemikiran Camell.


"Kalian kira aku sendiri yang ingin mencuri?!!!" Ron berteriak kesal setelah bingung melihat kedua orang dewasa yang berdebat di depannya. "Aku mencuri bukan karena tidak ada uang untuk makan!!! Dan meski kelaparan sekalipun aku tidak melakukan hal hal buruk seperti mencuri!!!" Ron berteriak dan menangis dengan marah.


Camell menyunggingkan senyumnya, inilah yang dia ingin  cari tahu sedari tadi. "Lalu kenapa kamu mencuri???" Camell bersidekap.


"Ka.. kakakku! Dia.. mau dijual sebagai budak!!" Ron menyusap kasar air matanya yang terus berjatuhan.


Camell dan Lloyd cukup shock mendengar alasan Ron mencuri.


"Budak?!!" Camell memasang wajah serius dan berjongkok sejajar dengan Ron dan memegang pundak anak itu. "Kakakmu mau dijual kemana?? Kamu tahu siapa yang mau membeli kakakmu??"


"Aku tidak tahu!" Ron terus terisak isak. "Tapi sering ada bapak bapak yang muncul di desa, katanya kalau mau kakakku bebas aku harus memberi uang padanya."


"Kapan kamu janjian ketemu sama bapak itu??" Camell terus mengorek informasi.


Ron mengusap air matanya. "Aku tidak janjian, karena dia sering datang makanya aku memberi dia uang itu saat bertemu dengannya. Kalau aku sedang ada uang  karena takut akan hilang makanya aku disuruh cepat cepat memberikan uangku padanya."


Sudah menipu, lalu dia juga memeras anak sekecil ini!!


Lloyd tiba tiba memegang pundak Camell. "Kamu mengobrol dulu saja dengan anak ini, aku pergi dulu."


Camell hanya mengangguk dan membiarkan Lloyd pergi dengan urusannya, karena Camell yakin bahwa Lloyd pun tidak akan membiarkan masalah ini.


Baru pertama kali aku melihat wajah tuan duke semarah itu... Jelas jelas negara ini melarang keras sistem perbudakan. Mau dia bangsawan ataupun raja sekalipun, jika melakukan perdagangan manusia maka akan kehilangan seluruh hak kebangsawanannya sekaligus.


Lloyd berjalan sendiri menuju gang kecil dan mengangkat tanganya, dalam sekejam muncul semua pengawal dan Utha sebagai komandonya. "Ada yang bisa kami bantu tuan duke???"


"Aku dengar ada transaksi jual beli budak disini!"


Utha terkejut bukan main. "Hah??! Bukankah kekaisaran melarang keras?? Siapa yang melakukan itu?!"


"Tugas kalian untuk menguak hal itu, buntuti anak kecil yang berbicara dengan nona Camellia. Karena katanya anak itu sering bertemu dengan penjual beli budak itu."


"Baik tuan duke, aku akan segera memberi tahu pengawal lainnya."

__ADS_1


Lloyd hanya mengangguk dan kembali menyusul Camell.


Camell mengusap air mata Ron dengan sapu tangan yang dia bawa saat melihat Lloyd kembali, dan tanpa bertanyapun Camell jelas bisa membaca raut wajah Lloyd.


Tanpa tuan duke bilang pun aku tahu bahwa dia tidak akan membiarkan masalah ini.


"Ron, sekarang dengarkan aku baik baik." Camell memegang kedua bahu Ron. "Sebenarnya kami ingin membeli suatu barang dari bapak itu, karena itu kami sedang mencari dia. Kalau kamu mempertemukan kami dengan bapak itu maka kami akan memberi imbalan juga tidak akan menghukum perbuatanmu yang mencuri itu."


Ron mengerjapkan matanya. "Aku akan dapat uang???"


"Benar, tentu saja tugas dariku akan ada upahnya. Tapi ini tugas penting loh, apa kamu bisa melakukannya??" Camell tersenyum tegas.


"Ten.. tentu saja bisa!"


"Baiklah. Jika kamu bertemu bapak itu katakan untuk menemui kami di penginapan Sevritti dipusat desa. Apa kamu tahu??" Ucap Lloyd.


"Aku tahu! Penginapan besar itu kan... aku selalu diusir kalau mau masuk kesana." Ron menggaruk pipinya.


"Nanti aku akan bilang kalau kamu mau datang." Camell tersenyum. "Terus ini rahasia antar kita, kalau ada yang memberitahu bapak itu duluan pada kami maka kami akan memberi uangnya pada orang itu."


"Kok bisa begitu?? Kenapa banyak syarat??!" Ron tidak terima.


Camell tersenyum miring. "Kan kami memberikan uang pada orang yang mengerjakan tugasnya."


Ron memajukan bibirnya sedikit kesal dan menggumam sendiri. "Aku tidak bisa pamer pada teman teman deh."


"Itu tidak akan terjadi kalau kamu tidak bilang pada orang orang." Lloyd menunduk dan memberikan 10 koin emas pada Ron. "Ini uang mukanya, syaratnya beli makan dan kebutuhanmu jangan berikan pada bapak itu."


Ron tertawa riang. "Serahkan tugas ini padaku!!" Lalu pria kecil itu berlari pergi.


Lloyd menatap Camell sekilas dan kembali mengambil barang belanjaan mereka yang jatuh dijalan tadi. "Aku tidak tahu kalau kamu pandai dalam menghadapi dan membujuk anak kecil."


Camell tertawa. "Jelas lah, aku kan punya adik!" Tiba tiba Camell merindukan si bocah nakal Galant.


"Adik???" Lloyd mengernyit.


"Hah??!" Camell tersadar kalau dia masuk ke Luckingham sebagai putri angkat dari seorang Count yang tidak mempunyai anak lainnya. "Ah itu.. mak.m maksudku, adik junior di akademi! Haha!" Camell tertawa kaku.


Meski gerak gerik Camell sangat mencurigakan dimata Lloyd namun pria itu tidak lanjut bertanya.

__ADS_1


__ADS_2