
"Nyonya Leana, nona Summer sudah tiba." Kepala pelayan kediaman Leana datang menghampiri wanita yang tengah menikmati sarapan paginya.
"Apa? Sudah datang?? Cepat cepat suruh dia kemari!" Wajah Leana terlihat sangat berseri dengan tidak sabar menanti Summer.
"Tante Leana, saya memberi hormat." Summer memberi hormat, tersenyum menemui Leana.
"Aduh anak muda ini kenapa begitu formal, duduklah. Maaf yah pagi pagi aku sudah mengundangmu kesini. Duduklah minum teh bersamaku." Dengan cekatan pelayan disana langsung menyuguhkan teh untuk Summer.
"Tidak apa apa tante, aku juga senang menemui tante." Summer tersenyum manis.
"Aduh lihat.. ucapanmu benar benar manis dan enak di dengar." Leana tertawa, "Aku mengundangmu pagi pagi karena ingin membahas masalah pengangkatan duchess. Kamu tahu sendiri kan istana sempat heboh karena masalah wanita tidak bermoral itu, para tetua juga sudah sangat meributkan perihal keturunan keluarga Ferkalon. Dan tentu saja sehabis kamu menikah kamu harus langsung dikaruniai buah hati untuk penerus Ferkalon selanjutnya."
Summer tersentak mendengar ucapan Leana, sekujur tubuhnya meremang tak nyaman.
__ADS_1
Leana menyipitkan matanya menatap Summer tajam. "Apa yang membuatmu ketakutan seperti itu??" Sinis Leana.
"Du.. duchess.. a.. aku tidak.." Summer terbata. "Jangan mengatakan hal yang menakutkan seperti itu tante."
Leana meletakkan cangkir teh nya dengan sedikit keras dan menatap Summer jengah. "Menakutkan??! Bukankah kamu juga sudah mengakui bahwa kamu menyukai Winter??? Lalu apa yang salah?!"
"Aku hanya ingin menjadi wanitanya saja, sedikitpun aku tidak bermimpi menjadi duchess." Ucap Summer pelan. "Orang seperti aku tidak akan bisa."
"Bodoh!!!" Bentak Leana. "Hanya menjadi wanitanya saja?! Sangat tidak berambisi! Winter juga sudah menaruh hati padamu, dimana lagi kurangnya? Kamu harus pintar! Ingat yah Summer Grace, begitu kamu menjadi duchess maka seluruh derajat kekuarga juga keturunanmu akan sangat terjamin!" Leana menunjuk wajah Summer. "Jangan menjadi orang bodoh, sisanya biar aku dan Agustin yang akan mengurus semuanya."
"Summer!! Bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu?! Setiap keputusanmu itu akan menjadi penentu bagi kekuargamu! Kamu bisa menaikan derajat keluargamu! Ah sudahlah!!!" Kesal Leana. "Kamu hanya perlu menuruti apa yang aku perintahkan." Desisnya tajam.
Summer terhenyak, dia hanya bisa diam mendengar kemarahan Leana.
__ADS_1
Begitu yah.. ini ternyata yang terjadi.. kebaikan dan ucapan baiknya ternyata hanya demi menggerakkan aku sesuka hatinya. Aku sebagai pion caturnya untuk dimainkan sesuai kemauannya.
****
Ronan datang menghampiri Winter diruang kerjanya, masuk setelah mengetuk pintu membuat Winter menaikkan satu alisnya melihat pria yang sudah lama tidak bersuara ini.
"Apa keperluanmu?" Suara datar Winter begitu dingin.
Ronan sudah mengikuti Winter 7 tahun lamanya, selama itu juga dia sudah memendam perasaannya pada Flower. Dia selalu menganggap dirinya rendah dan tidak pantas bersanding dengan Flo, keinginan Ronan hanyalah mengabdi pada Flower dan melindungi wanita itu. Dia merasa dirinya tidaklah pantas, namun melihat tingkah laku Winter, Ronan merasa Winter lebih tidak pantas untuk bersanding dengan Flo. "Aku ingin pergi meninggalkan Luckingham, aku akan melepas gelar kesatriaku."
Winter menaikkan sudut bibirnya dan tersenyum sinis menatap Ronan. "Apakah kau merasa begitu tinggi dengan gelar bangsawanmu itu yang bahkan tidak lebih tinggi dari gelar Baron? Meninggalkan Luckingham? Untuk menemui Flower??"
Ronan tidak terkejut jika Winter tahu bahwa dia mengawasi Flo selama ini, namun saat ini tekadnya sudah kuat dan dia akan menerima semua konsekuensinya toh bukankah Flo bukan lagi bagian dari Luckingham? Wanita itu sudah menjadi rakyat biasa setelah diusir dari istana. Ronan paham dengan baik semua hukum yang berlaku, seberat apapun itu Winter tidak akan bisa melarangnya. "Benar." Jawab Ronan singkat.
__ADS_1
Reaksi Ronan tampaknya membuat kemarahan Winer bangkit, pria itu melempar tempat penanya yang terbuat dari kayu hingga mengenai Ronan. "Kau pikir dirimu pantas??! Siapa dirimu? Apa kamu tidak berkaca dan ingin menantangku?!"
Ronan hanya diam tidak menanggapi tuan yang telah dia layani selama ini, kemudian pria itu melepas atribut juga lecana yang selalu terpasang pada seragamnya. Menanggalkan seragam kebanggaannya itu dan menyisakan sebuah kaos polos saja. "Aku memang tidak pantas, namun aku berjanji tidak akan membuat nyonya meneteskan air mata." Sesudah itu Ronan membungkukkan dirinya dan keluar dari ruangan Winter membuat pria itu mengeratkan kepalan tangannya marah.