Abandoned Flower

Abandoned Flower
Hati Winter


__ADS_3

Flo tersentak, dia mendengar suara Winter. Flo langsung melangkahkan kakinya menyambut Winter, "Winter?!" Meski terengah dia tersenyum melihat Winter. "Ada ap..."


"Apa benar kamu menyembunyikan pelayan Summer??!" Winter terlihat tidak senang dan marah.


"Pela..." Flo menajamkan matanya melihat Summer yang terisak berdiri dibelakang Winter. "Kenapa.." Ucap Flo tidak percaya. "Ini kediamanku!!! Kenapa kamu membawa wanita itu datang kesini?! Kenapa kamu datang bersama wanita j*lang itu Winter?!!!" Flo berteriak marah.


Namun Winter semakin tidak peduli pada Flo dan dia bertanya kembali dengan marah. "Apa benar kamu menyembunyikan pelayan Summer dan akan menyiksa anak itu?!!"


Tubuh Flo gemetar akibat menahan amarahnya namun dia semakin kalut dan berniat memukul Summer. "Dasar wanita j*lang!! Aku sudah memperingatimu!!"


Dengan sigap Winter menahan tubuh Flo melindungi Summer dan menghempas kasar tubuh Flo hingga jatuh terjerembab ke lantai. "Aakhh!" Flo merasa sakit pada kaki dan telapak tangannya.


"Nyonya Flo!!" Altez menghampiri Flo yang jatuh. "Apa nyonya baik baik saja?!"


"Aku sudah memperingatimu Flower! Namun lagi lagi kamu mengabaikan perintahku! Memukul nona Summer hingga memar, apa kamu ingin mendapatkan pukulan yang sama?!" Hardik Winter.


Pria itu menatap para pengawalnya untuk menyingkirkan Altez, dengan segera para pengawal itu mengangkat tubuh Altez dan menahan 3 pelayan Flo lainnya. Lalu Winter mengangkat tangannya untuk memukul Flo, "Pukul saja aku!!" Flo semakin menantang Winter dengan wajah yang tidak percaya bahwa Winter akan memukulnya.


Winter menelan ludahnya kasar, sebesar itu kebenciaannya pada Flo namun dia juga tidak akan tega memukul seorang wanita.


"Tuan Winter!!!! Saya! Saya yang membawa paksa pelayan nona Summer! Nyonya Flo sudah memarahi kami, nyonya tidak tahu apa apa! Itu perbuatan saya!!" Altez berteriak sambil menangis mencoba melepaskan dirinya.


"Kami! Kami yang menahan pelayan nona Summer! Nyonya tidak salah apapun!!" Gemma, Gloria dan Nora juga meneriakkan hal yang sama.


Winter mengeratkan kepalan tangannya, "Menyedihkan! Hingga sampai seperti inipun masih membela majikan kalian! Bawa mereka ke penjara bawah tanah!! Kurung dan jangan beri makan selama 3 hari!" Dengan segera pengawal itu membawa mereka berempat dengan paksa.


Altez, Nora, Gloria dan Gemma masih saja berteriak bahwa Flo tidak bersalah.


Lalu Winter memerintahkan pengawal lainnya, "Geledah tempat ini dan temukan pelayan nona Summer!"


Tidak memakan waktu lama beberapa pengawal Winter menemukan Tris yang menangis lalu mengembalikannya pada Summer.

__ADS_1


"Sudah sampai seperti ini, apa lagi yang mau kamu katakan??!" Winter mengangkat dagu Flo kasar dan menghempasnya. "Berkali kali aku menegurmu dengan keras, harusnya kamu bisa mengerti kali ini, jika masih tidak mengerti maka aku akan memakai kekuatan. Lalu hukuman untukmu adalah dikurung dikediaman ini! Ayo!" Winter membalikkan badannya dan bersiap meninggalkan kediaman Flo dengan pengawalnya juga Summer.


"Winter.. mirip ayahku." Flo berkata rendah namun membuat Winter membatu berhenti. "Meski hanya sepenggal penggal ingatanku tentang orantuaku, namun aku bisa mengingat itu dengan jelas. Menginjak injak aku dengan cara yang paling menyakitkan namun tetap memaksa aku untuk tersenyum, ayah selalu bilang agar aku selalu kuat dan bertahan dalam segala situasi. Tapi sekalipun dia tidak pernah bertanya padaku, mana yang sakit, bagaimana agar kamu tidak merasa sakit."


Perkataan Flo membuat Winter mengeratkan kepalan tangannya kembali. "Aku.. akan membebaskan Altez. Hanya Altez!" Setelah berkata demikian Winter segera keluar dari kediaman Flo.


Kenapa... kenapa kamu seperti ini padaku Winter??


Tak lama Altez masuk dan pintu langsung ditutup membuat Flo tersadar, wanita itu berlari menuju pintu dan berteriak panik. "Winter?!!"


Kamu tidak bersungguh sungguh kan??!


"Buka pintunya!!! Buka!!! Aku tidak mau dikurung seperti ini!!! Bukaaaa pintunya Winter!! Winer!!" Sekuat tenaga Flo memukul pintu kokoh yang terbuat dari kayu tebal. "Apa salah Aku? Aku tidak bersalah apa apa!! Winter!!"


'Dug Dug Dug!!'


'Dug Dug Dug!!'


'Dug Dug Dug!!'


"Aku tidak melakukan apa apa!" Flo terhuyung membuat Altez semakin panik.


"Nyonya!!"


"Buka.." Desah Flo lemah sebelum kehilangan kesadarannya.


"Nyonya pingsan!! Hey kalian buka pintunya!!! Panggil dokter! Nyonya pingsan!!" Altez memapah tubuh Flo sambil berteriak kencang.


..


Altez menghela nafas panjang, dia membaringkan Flo yang pingsan diatas kasur. "Keterlaluan! Bahkan sampai nyonya pingsan mereka tidak bergerak sedikitpun!" Altez menyelimuti Flo dan menyalakan pemanas ruangan. "Istirahatlah nyonya Flo, besok jika pintu dibuka aku tidak akan membiarkan mereka!"

__ADS_1


"Tidurlah jangan khawatir, besok tuan Winter pasti akan membuka pintunya."


*HARI KE4*


"Buka pintunya!!!! Winter!!!"


'Dug Dug Dug!!'


'Dug Dug Dug!!'


'Dug Dug Dug!!'


"Nyonya..." Altez meratap sedih melihat Flo yang terus berusaha memukul pintu kayu itu sampai tangannya terluka.


"Altez.." Lirih Flo, "Dia pasti sudah tidur dengan wanita itu. Winter mengurungku agar bisa dengan bebar tidur dengan j*lang itu."


"Nyonya.." Altez mengusap air matanya kasar.


"Dengan apa.." Air mata Flo menetes jatuh hingga ketangannya. "Sebenarnya dengan apa dia bisa menarik hati Winter, kenapa dengan mudahnya wanita itu mendapatkan hati Winter?"


"Hati yang tidak pernah menghampiri aku meski aku menunggu lama."


Altez mendekat pada Flo dan memapah Flo, "Disini dingin, mari kita masuk nyonya."


"Iya benar. Kita harus masuk." Flo mengikuti Altez.


"Nyonya Flo.." Altez mengusap air matanya yang berjatuhan melihat Flo menangis tanpa suara.


Altez membalut perban pada kedua tangan Flo ketika dia sudah mengoleskan obat disana, dia masih saja terisak isak karena Flo hanya diam dengan pandangan kosong namun airmata itu tidak berhenti mengalir dari mata indahnya. "Sebenarnya seberapa sakit hati anda nyonya, sampai nyonya tidak bergeming sama sekali dengan luka ditangan anda. Padahal luka anda sudah sampai seperti ini.." Lirih Altez sedih.


Lalu Altez membaringkan Flo dan menyelimutinya, "Tidurlah nyonya, jangan pikirkan apapun. Tidurlah yang nyenyak, nyonya kami yang secantik bunga." Altez menyandarkan kepalanya pada sisi kasur Flo dan membasahi tempat itu dengan airmatanya.

__ADS_1


__ADS_2