
Untuk merayakan kompetisi Camell yang berjalan lancar, sesuai perjanjiannya dengan Cailaden mereka mengadakan minum teh bersama di taman. Pria itu terlihat sedikit resah menanti Camell datang ke taman, senyumnya terbit setelah melihat Camell bersama rombongan dayang dan pelayannya tiba.
"Dari sini aku yang akan membimbing nona Camell." Cailaden mengulurkan tangannya dan disambut oleh Camell.
"Taman ini indah!" Camell memandang kagum taman bagian timur istana yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya.
"Taman ini bernama taman Terion, duke terdahulu membangunnya saat mengundang ratu datang kesini." Jelas Cailaden.
"Astaga, jadi secara tidak langsung taman ini hanya bisa diakses oleh keluarga kerajaan??" Camell terkejut.
"Tadinya." Cailaden tertawa singkat. "Namun sejak kak Llo... ehm maksudku tuan duke sekarang naik tahta taman ini terbuka untuk siapa saja yang tinggal di Luckingham."
"Saya sangat menikmati teh dan hidangan yang luar biasa ini, terimakasih sudah mengundang saya pada jamuan seperti ini." Camell benar benar menikmati waktunya memandangi indahnya taman Terion. Bahkan taman ini lebih besar dari taman utama yang memiliki danau.
"Aku juga senang minum teh bersama nona Camell. Saya juga sudah mendengar nona Camell berhasil menyelesaikan proyek lumbung dengan sukses. Selamat yah." Mereka bercakap cakap cukup lama dan saling bertukar cerita mengenai tugas dan keseharian mereka.
Setelah hampir diujung acara minum teh mereka, Cailaden terlihat sedikit gusar dan malu. "Hmmm nona Camell, aku sudah menyiapkan sesuatu untuk nona sebagai hadiah kecil. Sekali lagi aku mengucapkan selamat." Lalu Cai memberi isyarat pada pelayan disana dan pelayan itu datang dengan membawa sebuah kotak kecil yang dibungkus dengan indah dan menyerahkannya pada Camell.
Camell terpukau dengan hadiah Cailaden. "Astaga ini cantik sekali!!"
"Silahkan dibuka." Cailaden tersenyum.
"Apa ini parfum??" Camell menatap kagum botol kaca yang berisi cairan dengan kelopak bunga mawar didalamnya.
"Aku teringat pada nona Camell begitu mencium wanginya." Semburat merah muncul diwajah Cailladen.
"Terimakasih, saya akan memakainya dengan baik." Camell menyimpan botol parfum itu.
__ADS_1
"Owh yah, nona Camellia. Sebentar lagi adalah hari ulang tahun tuan duke. Biasa akan diadakan pesta."
Camell terdiam mendengar ucapan Cailladen,
Ulang tahun tuan duke?? Sekitar penghujung musim gugur yah? Aku tidak tahu. Tapi menurut pengetahuan dasar calon duchess yang aku pelajari itu merupakan acara besar yang sangat penting bagi calon duchess. Aku benar benar melupakan hal yang satu ini karena sibuk dengan kompetisi.
Selagi melamun Camell tidak sadar bahwa Cailladen sudah berlutut didekatnya dan menjulurkan tangannya. "Maukah nona Camell memberikan kehormatan bagiku untuk bisa menjadi partner nona hari itu??"
Camell sedikit terkejut namun dengan cepat dia berpikir. "Dengan senang hati." Camell tersenyum hangat dan meminta Cailladen untuk berdiri.
Camell menatap kesegala arah dan menghela nafasnya panjang.
Perasaan tidak nyaman apa yah ini?? Hal yang harus aku khawatirkan harusnya sudah berkurang karena sudah mendapatkan partner pesta. Tapi entah kenapa aku teringat wajah tuan duke.. pesta hari ulang tahunnya.. dan disebelahnya adalah...
Ah itu bukan hal yang mengejutkan, mereka kan sepasang kekasih. Tapi kenapa? Apa perasaan ini gara gara ucapannya padaku kemarin itu??
"Bukan apa apa." Camell tersenyum. "Hari itu aku akan memakai parfum pemberian tuan Cailladen."
"Suatu kehormatan bagiku."
Entah mengapa setelah itu suasana hati Camell terus memburuk dan bahkan taman indah itu tidak bisa mengalihkan perhatiannya lagi.
****
"Nona ada telefon." Maya datang dan memberi info pada Camell yang menatap pemandangam taman istana malam hari dari dalam ruangannya.
Camell mengerutkan kening melihat alat komunikasi itu dan mendapati Lloyd yang menelfonnya.
__ADS_1
Tuan duke..? dia panjang umur yah!
Camell berjalan masuk kedalam kamar tidurnya dan menghela nafasnya panjang lalu baru mengangkat telepon itu setelah berdering kesekian kalinya.
"Kamu sibuk??" Lloyd langsung bertanya tanpa basa basi begitu teleponnya diangkat.
"Tii.. tidak tuan duke. Ada apa??" Camell berusaha bersikap normal.
"Aku ada ide bagus tentang piknik melihat daun gugur. Apa kamu bisa menunggang kuda???"
"Hah? Apa?? Kuda??" Camell terkejut, kereta kuda sudah mulai ditinggalkan kecuali untuk jalan terjal yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan bermesin. Bagaimana dia bisa belajar menunggang kuda. "Maa.. maaf. Saya belum pernah naik kuda."
"Oh yah?? Kamu belum pernah belajar menunggang kuda?? Setidaknya nona bangsawan pasti pernah belajar cara menunggang kuda meski hanya sekedar hobi." Lloyd cukup terkejut.
Yah karena ayah ibuku sudah melepas gelar bangsawan mereka, hobi mereka berdagang dan berkebun mana sempat berkuda!! Jerit Camell dalam hati. "Yah.. tapi aku belum pernah."
"Hutan yang akan kita datangi sangat bagus jalannya untuk menunggang kuda, jika kamu tidak bisa menunggang kuda maka hmmmm.." Lloyd terdengar seperti berpikir sebentar. "Kamu bisa naik kuda bersamaku, kita cukup menyiapkan satu ekor kuda saja!" Putus Lloyd.
"Hah?? Bu.. bukankah dalam keadaan ini keputusan seharusnya menjadi tidak akan naik kuda?!" Panik Camell.
"Tenang saja, aku akan memegangmu dengan erat. Kamu tidak akan jatuh." Lloyd terdengar sangat yakin. "Kamu cukup meminta pelayanmu untuk menyiapkan baju berkuda."
Mendengar ucapan Lloyd membuatnya semakin cemas, justru dia bukan takut terjatuh tetapi dia takut terlalu dekat dengan Lloyd. "Baiklah!" Camell menjeda sebentar. "Jika tidak ada kepetingan lagi saya akan menutupnya." Camell mendengus sebal.
"Aku bisa menganggap kamu setuju kan?"
"Iya iya tuan duke. Yah sudah saya tutup yah." Camell memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Lloyd mengerutkan alisnya melihat telepon yang sudah terputus. "Hari ini dia mudah marah yah?" Lalu pria itu menatap keluar jendela ruang kerjanya dan tersenyum tipis. "Aku tidak sabar memasuki musim gugur."