Abandoned Flower

Abandoned Flower
Dia Masih Hidup


__ADS_3

Kota yang menjadi tempat Winter menetap benar benar jauh dan terpencil, Ethan mengemudi sepanjang hari dengan kecepatan penuh tanpa mengenal lelah. Akhirnya esok malamnya pun Ethan baru tiba disana, dengan tergesa Ethan menuju kantor tempat Winter menghabiskan waktunya selama ini.


Dylan terkejut melihat kemunculan Ethan yang mendadak tanpa kabar. "Tuan Ethan?? Ada apa kesini malam malam?" Dylan terkejut dan melihat kesana kemari apakah Ethan datang sendiri atau bersama seseorang. "Apa ada yang darurat??"


"Aku datang sendiri." Ethan seakan bisa membaca isi pikiran Dylan. "Dimana Winter?! Apa dia sudah tidur?Aku harus menemuinya segera, beritahu kedatanganku"


"Tuan Winter belum tidur, dia sedang..."


Tiba tiba pintu ruang kerja Winter terbuka dan Winter muncul akrena mendemgar suara dari dalam. "Ada siapa Dy... Ethan??!" Kening Winer berkerut. "Kenapa kamu kesini? Mengapa tidak mengirimkan surat saja kalau ada keperluan?"


"Winter..."


Pria itu langsung menyuruh Ethan masuk, melihat raut wajah Ethan yang begitu serius membuat Winter sedikit menegang. "Apa ada hal yang begitu mendesak??"


"Winter, aku kesini sacara langsung untuk bertemu denganmu karena ada hal yang harus aku sampaikan sendiri. Pertama aku hendak meminta maaf atas kesalahan besar yang telah aku lakukan padamu."


Kening Winter semakin mengernyit. "Kesalahan besar?? Ada apa? Apa di Luckingham terjadi sesuatu??"

__ADS_1


Ethan menggelengkan kepalanya. "Bukan itu. Aku pernah mengatakan bahwa kamu yang sudah mematahkam cabang pohon terakhir. Aku juga bilang bahwa yang mencabut semua akarnya sampai pohon tidak bisa berkembang adalah aku."


Winter berdecak, ".....Sebenarnya apa yang mau kamu sampaikan?" Dia benar benar merasa lelah dan mencubit pangkal hidungnya. "Kamu pasti tidak datang jauh jauh kesini hanya untuk berbasa basi dan berfilsafat seperti ini kan??"


"Akar pohon... yang aku kira telah mati itu kini sudah mengeluarkan tunas baru dan sudah bercabang. Bahkan kuncup bunganya mulai terlihat lagi."


Winter semakin mendesah kesal menunggu Ethan meneruskan kalimat yang tidak dia pahami.


"Flower Amber, dia masih hidup." Ucap Ethan pada akhirnya.


"Apa aku terlihat sedang bercanda denganmu Winter?!" Ethan menatap serius wajah Winter. "Aku sudah bertemu dengan Flo dan melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dia kesal... karena aku masih seperti dulu."


Wajah Winter memucat dan tangannya bergetar, "Di.. dia masih hidup???" Nafas Winter seakan tercekat. "Flo.. masih hidup??"


"Benar Winter." Ethan menampakkan kesungguhan pada wajahnya. "Flo masih hidup."


"Apa kamu melihatnya sendiri???!" Winter masih saja tidak percaya.

__ADS_1


"Aku melihatnya Winter, aku bertemu dengannya secara langsung. Dia masih hidup seperti bunga yang terus bermekaran di puncak gunung Dalkota."


"Dengan mata kepalamu sendiri???"


"Benar Winter, aku menjamin itu." Ethan terus berusaha meyakinkan Winter.


Winter berdiri dengan terhuyung, "Flo masih hidup..." pria itu terlihat shock dan tidak bisa mengontrol dirinya dengan baik hingga hampir terjatuh.


"Winter...?!" Ethan dengan sigap membopong pria tinggi itu sebelum benar benar jatuh.


"Ba.. bagaimana?" Suara Winter bergetar dan terbata bata. "A.. apa dia tidur dengan lelap?? Apa dia makan dengan baik??"


"Ap.. apa dia masih tersiksa dengan mimpi buruknya tiap malam?? Apa tu.. tubuhnya ada yang terluka??" Winter menatap Ethan frustasi. "Dia.. dia tidak sakit kan?? Dia baik baik saja seperti dulu kan?? La.. lalu apa benar wanita itu benar benar Flo???!"


"Winter...!" Ethan mencoba menenangkan pria itu yang terlihat ling lung dan tidak terkontrol. "Flo masih hidup, namun.. dia menderita luka bakar serius sehingga sulit untuk bergerak."


Winter semakin terjerumus dalam rasa terkejut juga shocknya.

__ADS_1


__ADS_2