Abandoned Flower

Abandoned Flower
Grand Duke Baru


__ADS_3

"Apa anda tidak merindukan yang mulai grand duke??" Setelah 4 tahun Simon kembali menanyakan pertanyaan ini.


Flo sesengukan dan masih menutupi wajahnya. "Iya!" Isak wanita itu. "Iya aku sangat merindukannya!"


"Persipakan dirimu, nanti kita akan turun gunung bersama. Kita ajak Hally juga."


Flo masih terisak isak dan menganggukkan kepalanya berkali kali membuat Simon tersenyum hangat mendengar penuturan jujur dari Flo.


..


"Lihat!!! Yah ampun lampu itu cantik sekali!" Hally bersorak riang. "Astaga nona!! Lihat air pancur iru yang berada ditengah bundaran kota!!" Gadis 10 tahun itu kelewat antusias, bagaimana tidak ini pertama kali dalam hidupnya bisa turun ke ibu kota lengkap bersama ayahnya juga dengan Flo setelah seminggu lebih membujuk agar Flo bersiap turun ke ibu kota.


"Hally apa kamu kagum sekali?" Flo tersenyum melihat tingkah Hally yang riang.


"Iya nona! Aku senang sekali!!"


Ibu kota ramai ditiap sudut jalannya, hiasan bendera dan parade menghiasi disetiap jalan besar. Semua demi merayakan kemenangan menduduki wilayah setempat dalam misi memperluas wilayah negara. Tapi Simon yang melihat sekeliling sedari tadi merasakan kejanggalan, masyarakat memang berkumpul, bendera negara memang berkibar, parade terap ada namun wajah masyarakat tidak terlihat sedang merayakan kemenangan.


"Apa anda akan menginap disekitar sini??" Flo bertanya pada Simon ketika mereka sudah sampai dekat dengan pusat kota. "Kalau begitu saya akan memberikan salam perpisahan." Flo menundukkan kepalanya.


"Saya akan mengantar anda."


"Tidak perlu." Flo tersenyum hangat pada Hally dan Simon. "Salam perpisahan dilakukan lebih cepat lebih baik."


"Tapi tubuh anda masih..."


Flo mengambil tas kain dari Simon yang berisi pakaiannya. "Aku bisa memberi kabar pada anda besok." Lalu dia menatap Hally. "Hally kemarilah sebentar." Flo membuka tangannya untuk memeluk Hally, gadis kecil itu langsung berhambur dalam pelukan Flo. "Terimakasih yah.." Flo menepuk nepuk pelan pundak Hally.


"Ya??"

__ADS_1


"Selama ini aku sangat ingin mengucapkan terima kasih padamu." Ucap Flo dengan masih memeluk erat Hally.


"Nona kenapa anda berkata seperti itu??" Hally masih kebingungan. "Saya tidak melakukan apa apa." Meski demikian Hally membalas memeluk Flo erat.


"Aku harus bilang terimakasih dan maaf padamu sebelum terlalu terlambat." Flo melepaskan pelukannya. "Aku selalu teringat... anak anak itu.. aku belum sempat mengucapkan terimakasih pada mereka, bahkan aku juga belum sempat meminta maaf." Senyuman Flo berubah sendu mengingat Gemma, Gloria juga Nora. "Betapa bahagianya jika aku bisa mengatakan itu pada mereka meski hanya sekali saja."


****


Simon dan Hally akan menginap 1 hari di ibu kota, kini mereka memasuki rumah makan sederhana untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum menginap di hotel dekat sana.


"Selamat datang!" Wanita paruh baya menyambut mereka berdua ketika memasuki kedai yang sederhana itu. "Anda mau pesan apa?" Wanita itu menyiapkan meja untuk Simon dan Hally.


Simon yang sudah menyadari ada yang tidak beres dengan wajah para masyarakat sejak tadi kini semakin curiga karena di dalam kedai ini pun banyak warga yang terlihat berkumpul dengan wajah murung bahkan sedih. "Sebelum memesan, dari pada itu saya ingin bertanya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan beberapa warga disini? Mengapa suasana ibu kota terlihat begitu suram?"


"Ya?" Pemilik kedai itu sedikit bingung.


Wanita patuh baya itu menaikkan alisnya dan mengangguk mengerti. "Ah... itu. Jadi Yang mulia grand duke yang baru hari ini telah di nobatkan."


Simon tersentak berharap dia salah dengar. "Hah? Grand duke yang baru???"


"Benar." Pemilik restoran itu membenarkannya. "Hari ini sudah satu bulan sejak kematian grand duke terdahulu. Kemarin masa berkabung sudah usai, jadi hari ini penobatan duke baru. Duke Ethan Dalton Ferkalon." Pemilik kedai itu memasang wajah sendu. "Padahal duke terdahulu masih sangat muda dan baik hati. Kami para masyarakat sangat berharap duke yang baru bisa memikirkan kesusahan masyarakat seperti duke terdahulu."


"Ja.. jadi maksud anda.. duke terdahulu itu..." Simon terbata masih berusaha menerima apa yang baru dia dengar.


"Benar.. almarhum duke Winter Leonhard Ferkalon. Selama masa berkabung, negara penuh dengan air mata dan rakyat sangat bersedih karena kehilangan sosok seperti beliau."


Simon langsung berdiri dan menarik Hally, "Maaf saya pesannya nanti saja!! Hally ayo pergi!!"


Simon berlari menyusuri jalan untuk mencari Flo, wajahnya cemas dan takut begitu juga dengan Hally dia berlari sambil melihat sekeliling mencari Flo.

__ADS_1


Tidak!! Padahal aku berhasil membujuknya untuk turun dari gunung!! Mengapa?! Dia yang pernah hampir mati.. dan setelah 5 tahun akhirnya dia mengumpulkan keberanian untuk menghadapi kenyataan. Tapi, bagaimana bisa ini terjadi?! Bagaimana bisa?!!!


Simon seakan ikut merasakan kesakitan yang akan Flo derita jika mendengar kabar kematian Winter. Dia terus berlari berusaha mencari Flo.


..


Flo berjalan sedikit tergesa, dia gusar. Hatinya sangat gusar dan sulit untuk dimengerti, mendengar semua warga berbisik bisik tentang kematian duke. Mendengar warga yang berduka dan kehilangan disepanjanga jalan di pasar, hingga akhirnya Flo berhenti dirumah tempat dia bersama dengan ketiga pelayannya dulu.


Flo terjatuh melihat kondisi rumah yang berantakan dan tidak terawat itu. Nafasnya terengah dan sedikit sesak, dia bersandar pada pintu kayu dan menatap tidak percaya.


Et.. Ethan bilang aku bisa kembali kesini, katanya akan ada yang menunggu kedatanganku..


"Duke Winter meninggal saat sengketa wilayah dalam perang dingin itu, bagaimana bisa dia meninggal saat masih semuda itu?!"


"Meski berhasil merebut wilayah kekuasaa yang dijajah namun apa artinya jika duke terdahulu harus meninggal??"


"Ti.. tidak mungkin!" Nafas Flo terasa makin sesak mengingat apa yang warga bicarakan disepanjang jalan.


Setiap warga disudut jalan membicarakan perkataan yang tidak aku mengerti.. itu pasti hanya rumor gosip! Tidak mungkin terjadi!!  Dia sudah mati...?! Padahal aku mengabaikan semua omong kosong itu dan berlari kesini. Tapi... dimana orang yang menunggu kepulanganku?!


Flo menangis dan duduk diatas jalan, menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya. "Hiikss.. huuu.." Wanita itu terisak isak.


"Nyonya Flo?!"


Tiba tiba terdengar suara dari arah belakang yang membuat Flo tercengang.


Tidak mungkin!! Suara ini.. jelas jelas..


Dengan perlahan Flo mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang memanggilnya.

__ADS_1


__ADS_2