
*5 tahun kemudian*
"Kupu kupu!! Bibi altez, cepat cepat! Kupu kupunya terbang!!" Gadis cilik dengan rambut coklat pekatnya dan irish mata abu gelap itu berlari lari tidak sabaran dan meminta Altez mengikutinya.
"Camellia!" Altez mengejar gadis cilik itu dengan nafas terengah. "Ini gila!! Aku bersama ibunya sepanjang hidupku, mengurusi ibunya sedari kecil hingga menikah dan kini aku harus mengurusi anaknya! Hah hah hah!"
"Camellia jangan berlari terlalu jauh!" Altez bertolak pinggang pasrah melihat anak itu berlari dengan cepat.
"Ayah pulang! Ayah pulang!!" Camellia malah berlari semakin jauh dari Altez begitu melihat mobil Winter dari kejauhan.
Winer tertawa lebar menyambut putrinya ketika turun dari mobil, dengan posisi setengah berjongkok dan membuka kedua tangannya bersiap menerima lompatan dari Camellia. "Bagaimana sikapmu hari ini?? Apa menjadi anak baik dan membantu ibu?"
"Tentu saja!" Gadis mungil itu mendongak pongah, "Ayah bisa bertanya pada bibi Altez, tadi pagi aku membantu ibu memakaikan sendal."
Winter tertawa dan mencubit pelan hidung mungil Camell, "Terimakasih sudah menjadi anak baik, ibumu sedang sangat kesulitan membawa adik bayimu dalam perutnya yang besar. Bersabarlah sebentar lagi kamu akan bertemu dengan adik kecilmu."
Interaksi antara Winter dan putrinya membuat Altez tersenyum ikut senang. Setelah Winter dan Flo pindah ke negara ini, Flo mengiriminya surat agar menyusulnya karena Flo sudah memasuki kehamilan 3 bulan dan membutuhkan Altez disisinya saat Winter pergi bekerja. Kehamilan pertama tentu saja selalu sulit bagi setiap wanita dan sangat memerlukan dukungan orang sekitar. Tentu saja dengan senang hati Altez menerima tawaran Flo saat mendapatkan surat itu, karena dia juga merasa tidak bisa berjauhan dengan Flo.
"Aaaaaahhhhh!" Tiba tiba terdengar suara teriakan dari arah dalam rumah membuat Winter terkejut.
"Apa itu suara Flo??" Tanyanya pada Altez dengan wajah khawatir.
"Iya sepertinya itu suara nyonya!" Altez mengambil Camellia dari Winter agar pria itu bisa segera lari kedalam rumah menyusul Flo.
"Flo?! Kamu tidak ap...." Winter yangbterengah akibat berlari membesarkan matanya melihat Flo sedang terduduk dilantai dan berusahan menggapai meja dengan posisi yang menurutnya sangat lucu.
"Ban.. bantu aku berdiri! Aku hanya berjongkok mengambil kancing yang terjatuh dan perutku terlalu besar sampai aku tidak bisa bangun sendiri!" Wajah Flo memerah karena dia tau betapa konyol dirinya saat ini namun dia juga sangat panik takut terjatuh.
"Bantu aku cepat!! Kenapa kamu hanya tertawa?!" Flo semakin meronta dan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Winter tertawa melihat Flo, "Apa yang bisa aku lakukan bahkan segara mempunyai dua anak pun kamu masih bisa bersikap imut seperti ini." Winter mendekat dan menggendong tubuh Flo dalam sekali angkat.
"Menggemaskan sekali!" Winter mengecup bibir Flo disaat bersamaan Altez datang bersama Camellia.
"Nyonya ada apa?!" Wajah terkejut Altez mendadak berubah dan langsung menutup kata Camellia dengan tangannya melihat kedua majikannya bercumbu.
"Dasar! Sudah aku peringatkan beberapa kali agar tidak bersikap begitu didepan Al!" Flo mencubit lengan Winter.
"Aakh! Sakit!" Winter hanya bisa meringis menerima cubitan itu tanpa bisa menghindar karena dia masih menggendong Flo.
"Ayah aku juga mau digendong!!" Camellia meronta turun dari Altez dan berusaha menarik tangan Winter membuat semuanya tertawa dengan tingkah gadis mungil itu.
"Apa aku mengganggu??"
Suara itu membuat semuanya melihat kearah pintu dan terkejut tapi hanya Camellia yang bersorak kegirangan menerjang orang itu.
"Ethan?! Kapan kamu tiba disini? Mengapa datang tidak memberi kabar??" Flo turun dari gendongan Winter dan menghampiri pria itu.
"Mengapa mendadak kamu datang jauh jauh kesini tanpa memberi kabar??" Winter juga ikut menghampiri Ethan.
"Kebetulan aku harus mengurus pekerjaan dinegara ini dan selesai lebih cepat dari perkiraanku. Jadi aku mampir kesini untuk melihat keponakanku yang cantik." Ethan mencubit pipi Camel gemas.
Mereka makan malam bersama dan berbincang hangat layaknya keluarga, begitu Altez sudah membawa Camel untuk tidur malam barulah Ethan memasang wajah serius seakan ingin mengatakan sesuatu.
"Aku tahu kamu pasti mempunyai alasan khusus jauh jauh kesini, katakan saja." Winter menyeruput teh panasnya sementara Flo juga menyimak dengan baik.
"Aku berniat membawa Camellia masuk kedalam Luckingham."
Perkataan Ethan memang membuat Winter dan Flo terkejut tapi mereka tetap tenang dan mendengar dahulu rencana Ethan.
__ADS_1
"Aku akan menjodohkannya dengan calon penerus duke. Putraku dengan Ester. Aku akan memasukkan Camellia sebagai keluarga dalam sisilah kerabat terjauh untuk mendapatkan nama keluarga itu. Kalian memang sudah menjadi orang meninggalkan Luckingham namun bukankah aku harus memberi tempat bagi Camellia? Menjadi duchess sudah merupakan takdir Camellia Blooming Ferkalon sedari lahir."
Winter dan Flo saling bertukar pandang, meski berat namun ada rasa setuju dalam hatinya untuk membawa Camellia kedalam Luckingham. Bagi Winer yang terlahir sebagai bangsawan tapi tidak bisa memberikan gelar bangsawan pada keturunannya juga merupakan hal yang sangat disayangkan. Strata dalam masyarakat masih sangat timpang, jika seseorang mempunyai gelar bangsawan akan hidup dan dipandanga dengan baik. Semakin tinggi gelarnya maka akan semakin baik pula kehidupannya.
"Biar kami memikirkan ini dahulu." Ucap Winter. "Sedari kecil aku tidak bisa memilih apa yang menjadi keinginanku, jadi aku akan bertanya pada Camellia. Jika dia sungguh menginginkannya maka aku akan mengirimnya ke Luckingham." Lanjut Winter. "Lagipula prediksi kelahiran anak kedua kami sudah dekat, Camell begitu antusias bertemu adik barunya." Winter mengelus sayang perut Flo.
"Benar, biarkan Camellia yang memutuskan mau apa tidak tinggal di Luckingham." Tambah Flo.
Ethan tersenyum dan mengambil cangkir teh nya, "Aku akan menunggu sampai kapanpun dan menghargai keputusan kalian. Dan aku berjanji jika Camellia masuk kedalam Luckingham maka dialah satu satunya calon istri penerus duke dan satu satunya yang akan menjadi duchess."
Ethan pamit pulang sebelum malam semakin larut, kini Winter dan Flo sudah berada dalam kamar dan bersiap akan tidur. Flo bersandar pada suaminya, "Winter, apa keputusan yang baik jika Camell masuk kedalam Luckingham? Apa memang benar takdirnya seperti itu??"
Winter mengelus sayang kepala Flo. "Bagaimanapun aku adalah duke terdahulu, jiķa Camell mengetahui hal ini mungkin dia akan merasa terkhianati. Politik dalam bangsawan tidak semudah membalikkan telapak tangan, memangnya ada cara yang lebih aman daripada pernikahan antara Camell dan calon penerus duke yang sekarang? Lagi pula berbicara takdir pun pertemuan kita adalah takdir."
Flo mengadahkan kepalanya dan menatap Winter jengah. "Kenapa kamu jadi suka berbicara gombal seperti itu?!"
"Kamu yang membuatku seperti ini." Winter dengan cepat meposisikan Flo dibawah dirinya dan menyingkap gaun tidur wanita itu. "Berhentikah khawatir hal hal yang belum terjadi dan aku yakin Camellia adalah anak yang kuat. Seperti namanya bunga dimusim dingin. Dia akan bertahan melewati semua musim yang terjadi dalam hidupnya."
"Saat aku kecil ibuku pernah menceritakan tentang putri dan pangeran dalam istana, aku sering berpikir kehidupan di dalam istana selalu bahagia dan menyenangkan dan aku ingin tinggal di istana. Jadi..." Flo semakin memasang raut wajah khawatir.
Winter membawa tangan Flo kedadanya, "Sekarang istanamu ada disini, istana yang hanya bisa dimasuki oleh kamu seorang. kamu menjadi ratu diistana itu, bunga yang paling indah."
Flo menatap Winter dan teringat lagu bunga liar dalam istana, dengan perlahan Flo melantunkan lagu itu. "Ada bunga yang tumbuh diistana namanya bunga liar, bentuknya bunga tapi hatinya liar. Karena itulah dia disebut bunga liar.."
"...Langit memanggil dan bunga liar itu menjelma menjadi bunga pir yang menutupi langit.." Winter menutup lantunan lagu itu.
Flo langsung bangkit duduk dan menatap Winter tidak percaya. "Kamu tahu lagu itu??"
"Iya aku tahu.." Winter menangkup pipi Flo dan tangannya melanjutkan apa yang telah dilakukannya tadi, "Aku juga tahu bagaimana perasaanmu saat menyanyikan lagu itu. Kamulah bunga pir ku... Flower." Winter mencium lembut bibir Flo dna kembali merebahkan wanita itu dikasur.
__ADS_1