Abandoned Flower

Abandoned Flower
Badai dalam Hati


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, musim dingin sudah dimulai. Angin dingin bertiup kencang menusuk hingga kedalam kulit disertai hujan rintik yang lembab. Dengan tubuh yang gemetaran Hally menutup kedua telinganya dengan tangan mungilnya itu, matanya yang bulat berkaca kaca dengan setitik air pada ujungnya.


"Hally masuklah ke kamar dan kunci pintunya!!" Perintah Simon.


Tanpa membantah gadis mungil itu berlari kedalam kamar dan mengunci pintu, dengan segera juga dia meringkuk diatas kasur dan menangis. Nonaaa... hiks.


Suara jeritan dan rintihan terdengar melengking malam itu, Simon sekuat tenaga menahan tubuh Flo yang memberontak dan berteriak diatas kasur.


"Panaassss!!! Aakh!! Panas!!! Aku sangat kesakitan!!" Jerit Flo tidak tertahan, airmata mengalir dan wajah pucat itu seperti cangkang kosong.


"Apinya sudah padam!! Api sudah padam!!" Sekuat tenaga Simon menahan tubuh Flo yang meronta dan kejang dengan kuat. "Kendalikan dirimu nona!!"


"Aakh!!! Panassss!!!" Flo menjerit dalam tangisannya.


"Tidak ada api!! Kendalikan dirimu! Tarik nafas dan hembuskan pelan pelan!" Simon masih berusaha untuk menenangkan Flo dan menahan tubuhnya yang meronta ronta.


"Aakhh!!!! Ughhhh!!!" Flo terus meronta dan menangis seakan mengalami kesakitan yang sangat menyiksa.


"Jangan kehilangan kesadaran, anda harus bertahan!" Simon melihat Flo mulai mengendalikan dirinya, dia tahu Flo pasti berusaha sekuat tenaganya untuk melawan pentakit mental ini. "Benar begitu, lihat mata saya! Ambil nafas dan hembuskan perlahan." Simon mengendurkan pegangannya pada tangan Flo dan membiarkan wanita itu meraup sebanyak banyaknya udara. "Bagus lakukan begitu terus dan ulangi lagi... Bagus sekali.."


Malam itu hujan terus turun dengan lebat membasahi bumi hingga akhirnya mereda dan bulan berganti matahari. Suara kicauan burung dan sinar matahari hangat mulai masuk melalui celah rumah sederhana yang terbuat dari kayu itu. Flo membuka matanya perlahan, setelah melalui malam panjang saat penyakitnya kambuh maka dipagi hari dia hanya akan merasa sangat kelelahan dan sekujur tubuhnya sakit.


Flo menyadari bahwa Simon tertidur dekat dengan kasurnya, bersandar pada sisi dinding kayu dan kepalanya terantuk antuk.


Flo tersenyum tipis melihat pemandangan itu lalu duduk, pergerakan yang dia lakukan juga membangunkan Simon. "Anda sudah bangun?" Simon membenarkan posisinya lalu bangkit menghampiri Flo. "Anda sudah bertahan dengan baik." Simon tersenyum menatap Flo.


Flo hanya balas tersenyum, dia menatap keluar jendela dan terdiam.

__ADS_1


Setelah berganti pakaian dan sarapan, Flo duduk diam saat Simon membantunya mengoleskan obat racik pada kaki juga tangannya yang terkena luka bakar. ".....Itu penyakit yang sudah lama saya derita. Tentang ingatan buruk yang terus berulang, setiap saya mengalami mimpi itu, saya akan terus menjerit bahkan sampai mulut saya terkadang mengeluarkan busa. Lalu setelah menangis tanpa henti saya akan pingsan." Flo menjeda. "Saya tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya diri saya ini saat penyakit itu kambuh, maka saya selalu berusaha menutupinya dari orang orang."


Flo menggigit bibir bawahnya kecil, dia selalu menutupi sosoknya ini dari Winter. Berusaha sekuat tenaga membuat dirinya terlihat keras dan kuat namun mungkin inilah titik terlelah dalam hidupnya. "Karena sosok saya yang seperti itu sudah terlihat oleh orang lain.." Dia menatap Simon, "Saya tidak perlu menutupinya lagi. Ternyata... senyaman ini." Flo tersenyum lembut sangat cantik.


Flo duduk dengan nyaman diteras rumah sederhana itu, rumah itu dikelilingi oleh sepetak kebun kecil yang ditumbuhi berbagai macam sayur. Ada juga kandang berukuran kecil yang memelihara kelinci dan ayam, Flo dengan santai duduk disana menikmati terpaan cahaya matahari yang hangat.


Jika saja dulu aku bisa seperti ini pada Winter.. menunjukkan diriku yang seperti ini. Akan bagainana jadinya yah? Kalau dipikir pikir aku selalu mencintai Winter sepenuh hati namun.. aku sekalipun tidak pernah memperlihatkan diriku yang sebenarnya. Flower Amber Dulcan adalah wanita yang seperti ini.. dibalik perkataan  setajam duri, dibalik sikapku yang selalu kasar. Ada badai dan hujan lebat dalam hatiku, ada seorang anak kecil yang menyedihkan dan selalu menangis.


Akulah anak kecil itu, anak yang selalu menangis meraung raung. Kenapa... aku tidak bisa memperlihatkan sosokku yang seperti itu padamu?


****


Jauh dari pusat ibu kota, sebuah bangunan kantor tidak terlalu besar yang masih dalam kepemilikan keluarga Ferkalon masih terlihat ada aktifitas disana meski sudah hampir tengah malam hari. Badai angin salju mulai bertiup disana, salju lebih cepat datang pada pesisir kota dibandingkan ditengah kota.


Hanya suara kayu terbakar pada perapian yang menemani malam sunyi itu, tak lama pintu kantor itu terbuka. Dylan masuk membawa secangkir teh panas.


Pria muda itu menghembuskan nafasnya kasar. "Tuan Winter, ini sudah larut malam. Sudah cukup bekerjanya, lama lama anda bisa sakit." Dylan berdecak dengan kesal. "Cuaca malam ini dingin sekali, saya akan menambahkan kayu kedalam perapian." Dylan meletakkan cangkir teh itu dan bergegas akan memasukkan kayu kedalam perapian.


"Tidak perlu." Ucap Winter datar. "Aku tidak merasa dingin."


Dylan hanya bisa menghela nafas, lama lama aku cepat menjadi tua disini!


"Apa anda akan terus menerus membaca strategi bisnis dan bekerja keras?? Tolong perhatikan kesehatan anda tuan Winter. Anda sudah 6 bulan lamanya menetap disini, dikota terpencil yang dimana bisnis Ferkalon tidak berjalan baik disini. Tapi anda bersikeras untuk membangun dan memutarbalikkan ekonomi disini. Saya tidak..."


'Braaakkk!' Winter memukul mejanya.


"Kalau sudah selesai kamu bisa keluar sekarang!" Pria itu bahkan tidak menatap Dylan dan terus memfokuskan matanya pada lembaran berkas ditangannya.

__ADS_1


Begitu Dylan keluar ruangan Winter, pria itu mendesahkan nafasnya kasar. Menyenderkan tubuhnya dan menutup matanya dengan siku lengan.


Benar... tubuhku sangat kelelahan. Memilih tempat sejauh mungkin dari Luckingham.. menetap seorang diri disini.. mencoba bekerja sekeras mungkin hanya agar... aku tidak memejamkan mata.


Karena saat aku memejamkan mata... wajahmu.. wajah yang selalu muncul dalam benakku. Flower....


Tanpa tersadar Winter tertidur dan bermimpi, dalam mimpinya dia benar benar melihat Flo datang tersenyum padanya. Memeluk dirinya dengan hangat, menangkup pipi Winter dengan tangannya yang lembut. Bibir tipis merona yang selalu Winter dambakan semakin mendekat dan mencumbunya dengan lembut hingga akhirnya Winter tersadar bahwa semua itu hanyalah mimpi.


Winter memilih untuk mencuci wajahnya, saat dia kembali ke meja kerjanya dan melihat surat diatas meja yang selalu dia simpan dengan baik. Pria itu memgambil surat itu dan merengkuhnya, surat terakhir yang Flo kirimkan. Surat terakhir yang dia dapat, yang dia perintahkan juga untuk berkata bahwa surat itu telah dibakar habis tanpa melihat isinya. Dengan mengumpulkan segenap keberanian Winter membuka dan membaca surat itu.


Winter, ini adalah rambutku. Aku memotong dan memberikan rambut ini padamu sebagai bentuk sumpahku. Bahwa perasaan dan hatiku tidak akan pernah berubah padamu. Alasan aku mengembalikan gelang ini juga karena aku berharap kamu yang akan memasangkan sendiri gelang ini pada tanganku. Aku tidak mempunyai apa apa lagi saat ini selain nyawaku, dengan mempertaruhkan segalanya aku memohon padamu. Dengan mempertaruhkan perasaanku aku meminta, tempatkan aku hanya disisimu.


Tangan Wintwr bergetar dan dia mulai kembali menangis setelah memebaca surat itu.


Begitukah Flo?? Kamu mempertaruhkan nyawamu sendiri saat itu hanya ingin meminta hal ini padaku?? Aku.. aku...


"Huks.. hukks.." Nafas Winter tersengal karena berusaha menahan tangisnya.


'Aku akan menajdi istri Winter!'


'Winter pohon bunga lilac sudah mekar!!'


'Sekali saja.. apa kamu tidak bisa melihat perasaanku sekali saja?!'


'Aku tidak ingin menjadi duchess aku hanya ingin menjadi wanitamu!'


Semua perkataan Flo seakan berputar putar dalam kepala Winter membuat pria itu semakin tenggelam dalam tangisannya.

__ADS_1


Padahal kamu berulang kali menyatakan perasaanmu tapi aku sama sekali tidak pernah mendengarkanmu. Aku... sudah tidak punya keyakinan lagi, Flo. Aku sudah tidak bisa melakukan apa apa lagi...


__ADS_2