Abandoned Flower

Abandoned Flower
Pria yang Tidak Tahu Etika


__ADS_3

Pria muda itu membetulkan tata letak kacamatanya, bingkai tipis berwarna perak itu selalu bertengker indah diwajahnya dan semua menjadi pas dengan wajahnya yang tampan. Menjadi grand duke diusia muda tidak membuatnya gentar akan prasangka dan penilaian banyak orang, karena dia telah di didik sejak kecil dengan ketat dan keras hanya karena dialah satu satunya calon penerus duke saat itu. Tapi dia hanya masih tidak begitu memahami tujuan ayahnya yang sedikit tergesa menjadikan dia grand duke dan pensiun sedini mungkin.


Padahal kalau mau dilihat dari segi kinerja dan fisik ayahnya tentu masih sangat baik, mungkin saja ayahnya bisa menjabat sebagai grand duke hingga 10 tahun mendatang.


Keputusan tergesa gesa itu memang awalnya mengejutkan bagi Lloyd dan para bangsawan yang telah lama bekerja bersama Ethan. Namun semakin kesini Lloyd paham, terlebih lagi secara mendadak ayahnya mengusulkan sebuah pernikahan seakan ada rencana besar dibalik itu.


Namun banyak rencana Ethan yang tentu saja menjadi tidak begitu masuk akal bagi Lloyd karena dia baru berusia 24 tahun dan ibunya yang menjadi nyonya rumah ini masih bisa mengurusi segala keuangan istana dengan sangat baik. Lalu juga di era modern ini biasanya para pria menikah diatas usia 26 tahun. Lagi lagi Lloyd hanya diam mengikuti alur rencana ayahnya, dan hal tidak masuk akal kembali terjadi.


Saat mengumpulkan calon para duchess, ayahnya memasukkan satu kandidat yang katanya merupakan kerabat jauh Ferkalon. Tidak dari fraksi bangsawan manapun dan tidak pernah sedikitpun eksis dalam dunia bisnis apalagi politik.


Awalnya Lloyd mengira bahwa kandidat terkuat adalah Dakota Cynes Bourbon, merupakan putri pertama tuan Marquis Antonio Bourbon yang merupakan orang kepercayaan Ethan dalam pengurusan segala bisnis perdagangan dan juga Cynes adalah teman Lloyd sedari kecil tentu saja semua akan menjadi lancar dan mengumpulkan sekutu menjadi mudah meski tidak ada perasaan asmara yang terlibat.


Tapi tebakan Lloyd salah karena hampir setiap hari ibu dan ayahnya menjejali info tentang wanita dari kerabat jauh itu seakan menunjukkam dukungan kuat dari kedua orang tuanya.


"Camellia Blooming Ferkalon." Lloyd mengepalkan tangannya erat dan memasang wajah agak masam, menyebut nama yang sudah sering dia dengar dari mulut kedua orang tuanya. "Pasti hanya segelintir bangsawan pinggiran yang mencoba untuk masuk kedalam Luckingham." Decih pria itu.


..


Perjalanan panjang yang Ethan tempuh bersama Camell akhirnya berakhir, mereka tiba juga di Luckingham. Camell melihat sekeliling begitu gerbang utama istana itu dibukakan, mobil Ethan bergerak dengan perlahan seakan membiarkan Camell memandang hamparan kebun istana yang tersaji dengan cantik.


"Paman!" Wajah Camell berseri, "Ini sangat berbeda dengan apa yang ibu ceritakan padaku!" Tentu saja Flo sudah menceritakan indahnya Luckingham pada Camell, danau yang jernih, hamparan kebun bunga dan juga indahnya pohon bunga lilac saat bermekaran.

__ADS_1


Ethan tertawa renyah melihat Camell yang berseri dan ceria seperti ini, bukankah memang istana membutuhkan lebih banyak tipikal manusia yang bisa membawa kebahagiaan seperti Camell?


"Sudah banyak yang berubah disini Camell, paman akan membawamu berkeliling." Ethan menepikan mobilnya dan mereka disambut oleh kepala pelayan disana.


Pria tua itu membungkukkan kepala pada Camell dan tersenyum hangat. "Selamat datang nona Camellia, perkenalkan saya Agustin kepala pelayan yang telah mengabdi hampir seluruh hidup saya disini."


Camell menaikkan alisnya, dia teringat cerita ibu dan ayahnya, Agustin nama orang yang dia bisa percaya di Luckingham. Namun pesan Flo dan Winter sangat jelas, bahwa Camell tidak pernah boleh membahas identitasnya meskipun Agustin, Ethan juga Ester mengetahui hal itu. "Selamat siang tuan Agustin." Camell membungkukkan badannya. "Senang berkenalan dengan anda, mohon bantuan untuk kedepannya."


Ethan mengusap sayang kepala Camell dan tersenyum, "Camell, ada urusan yang paman harus kerjakan sebentar bersama tuan Agustin, barangmu akan diurus oleh pelayan. Kamu bisa berkeliling sebentar disini sampai paman kembali dan akan membawamu mengelilingi Luckingham."


Camell tentu saja antusias, dia sangat penasaran dengan luasnya hamparan kebun bunga di sisi barat istana yang terlihat sejak dia masuk tadi.


Agustin dan Ethan menaikkan alisnya bersamaan, entah mengapa ada perasaan menggelitik dalam hati mereka. Kebun utama Luckingham, kebun dimana Flo bertemu Winter pertama kali, kebun dimana Flo selalu menghabiskan waktu dan menunggu sosok Winter dan sekarang Camell juga terlihat sangat mengagumi kebun itu. "Baiklah, nikmati waktumu." Ethan tersenyum dan tak lama kemudian dia berlalu bersama Agustin.


Sepeninggal Ethan, tanpa membuang banyak waktu Camell segera melangkahkan kakinya. Dia selalu tersenyum dan menundukkan kepala setiap berpas pasan dengan pelayan maupun tukang kebun disana. "Kalau menurut cerita ibu akan ada danau tidak jauh dari sini." Gumam Camell antusias.


Ini sudah pukul 11 siang, namun sinar matahari begitu hangat dan kilau yang terpancar dari pantulan danau itu bagaikan ribuan berlian terhampar. Angin sepoi sepoi juga bertiup, dibawah  pohon bunga lilac pemandangan kebun ini sangat indah dan menakjubkan bagi Camell.


Gadis itu terus berjalan tanpa melihat sekeliling menuju danau karena terlalu terpesona, tanpa dia sengaja kakinya tersandung sesuatu hingga dia terjerembab terjatuh ketanah.


"Akh!" Camell mengusap siku tangannya, jika saja dia tidak memakai kemeja panjang sudah pasti akan lecet.

__ADS_1


"Apa kamu tidak punya mata?!" Suara sinis itu mengganggu Camell membuat dia menoleh kearah sumber suara.


Pria yang memakai kemeja putih dan vest berwarna abu sebagai luaran, memegang buku dan menatapnya dengan tajam dibalik lensa bening kacamata yang bertengker dihidung mancung pria itu. "Selain tidak punya mata apa kamu juga bisu?!" Pria itu berdecak kesal dan langsung bangkit berdiri karena Camell juga tidak kunjung menjawab dia, malah menatapnya dengan tatapan yang sukar diartikan.


Lloyd sedang membaca buku dibawah pohon yang rindang menghindari rapat para bangsawan yang selalu mendesak soal jalur perdagangan baru yang sudah sering sekali dia tolak.


Camell berdecak tidak kalah sebal, memang dia tidak melihat ada orang disana. Namun sebagai seorang pria yang melihat wanita terjatuh bukankah sebaiknya dia menolong lebih dulu?


"Harusnya anda...!" Camell menatap sengit pria yang mungkin tingginya mencapai 187cm dihadapannya itu.


Ucapan Camell terpotong karena langkah kaki seseorang. "Astaga tuan Lloyd! Akhirnya aku menemukanmu! Kemana saja anda sedari ta... Camellia??! Bagaimana bisa kamu disini?!!" Utha asisten pribadi Lloyd terkejut melihat teman seakademi nya di Luckingham.


"Utha!!!" Camell pun terkejut namun bahagia, setidaknya dia punya teman disini.


Lloyd mengernyitkan alisnya melihat dua manusia dihadapannya yang bereuni dan sangat berisik. Tanpa ancang ancang Lloyd pergi dari sana mengabaikan kebisingan dibelakangnya.


Saat Utha senang melihat temannya yang sudah hampir sebulan ini tidak bertemu dia tersadar bahwa Lloyd sudah berjalan menjauh. "Astaga!" Utha panik melihat kepergian Lloyd. "Camell nanti kita berbincang lagi yah, banyak yang aku mau tanyakan tapi aku harus mengejar tuan Lloyd karena pekerjaannya menumpuk! Sampai nanti Camell!" Utha melambaikan tangannya dan tersenyum lebar saat berlari mengejar Lloyd.


Camell tertawa melihat tingkah Utha dan membalas lambaian tangan Utha dan sosok pria itu menghilang dari pandangannya tak lama kemudian.


"Dia bilang siapa?? Lloyd?? Pria itu??" Camell mendengus tak suka. "Pria yang tidak tahu etika!"

__ADS_1


__ADS_2