Abandoned Flower

Abandoned Flower
Ada Apa Ini?!


__ADS_3

"Aku sudah mencari tahu semuanya." Lapor Irene, "Seperti dugaan ku memang tuan Marquis Antonio Bourbon ada campur tangan dalam pemilihan lumbung."


Camell menaikkan alisnya dan mengalihkan pandangannya dari buku yang dia baca sedari tadi. "Apa yang terjadi??"


"Marquis Antonio membawa selembar petisi yang sudah ditanda tangani oleh pejabat lainnya dalam pemilihan lumbung kehadapan tuan duke.  Para bangsawan pendukung marquis Antonio mencurigai prestasi nona dalam penanganan wilayah barat. Meskipun prestasi itu benar sekalipun, tapi nampaknya mereka menganggap kalau pujian dan penghargaan yang nona terima sebelum kompetisi ini tidaklah layak." Jelas Irene.


Camell memasang wajah tidak suka, semakin kesini dia semakin memahami kalau cara kerja politik selalu kotor dan tidak lurus. "Mencurigai?? Apa masuk akal padahal tuan duke sendiri yang menjelaskan hal itu??"


"Sejujurnya masalah bukan pada kejujurannya. Meskipun yang dikatakan tuan duke fakta tapi kejadian itu sebelum kompetisi dimulai dianggap tidak adil." Irene menerangkan kenyataan yang pahit itu.


"Jadi mereka berharap aku tidak perduli dengan kasus penjualan budak di wilayah barat???!" Kesal Camell.


Irene mendesah nafasnya panjang. "Yang diinginkan marquis Antonio adalah menyerahkan lumbung wilayah barat pada nona demi menunjang putrinya, nona Cyness. Kejadian wilayah barat hanyalah dalih yang tepat saat itu. Meskipun ada adu mulut dengan tuan duke, tapi petisi itu membuat tuan duke terpaksa menyetujuinya."


Camell menaikkan alisnya, "Jadi itu murni bukan keputusan tuan duke??" Irene hanya menganggukkan kepalanya menjawab Camell. "Baiklah satu hal yang pasti kini aku tahu siapa yang menjadi lawan dan kawan dalam kompetisi ini, jadi aku tidak perlu repot repot membuang tenaga untuk mencari tahu."


Irene tersenyum menenangkan Camell. "Teguhkan hati nona, diistana memang banyak musuh." Irene menjeda. "Ngomong ngomong sebentar lagi tamu untuk nona Camell akan segera tiba."


Camell melebarkan matanya dan melirik jam besar disudut ruangan. "Sudah jam segini yah?? Baiklah jika dia tiba kamu bisa langsug menyuruhnya keruanganku dan minta tolong Maya untuk menyiapkan hidangan teh di beranda."


Setelah Irene pamit dari ruangan Camell, wanita itu tersenyum lebar tidak sabar menanti siapa yang datang. Kemarin surat balasan dari Winter tiba dan isi dalam surat itu menerangkan bahwa Winter sudah berunding dengan Ethan dan akan mengirimkan seseorang yang kompeten untuk membantu Camell dalam kompetisi ini dan mereka tidak menyebutkan siapa orangnya sebagai bentuk kejutan untuk Camell.


"Tamu nona sudah tiba." Maya masuk dan memberi tahu Camell, lalu mempersilahkan seseorang masuk setelah mendapat persetujuan dari Camell.


Camell menatap pria muda dihadapannya, begitu juga pria muda itu. Senyum dan gejolak rasa yang mereka tahan karena situasi yang tidak memungkinkan untuk mereka saling berperilaku seperti saat dirumah.


Galant terus menerus mengulum senyumnya menatap Camell yang sudah berubah dari segi penampilan dalam ingatan terakhir mereka bertemu.

__ADS_1


Akhirnya setelah Camell menyuruh Maya dan Irene meninggalkan mereka berdua barulah Camell menatap adiknya penuh rindu dan sayang. "Kenapa bisa kamu yang dikirim ayah kesini???"


Galant meresap teh yang disajikan untuknya. "Aku sudah mendengar semua cerita ayah, ibu dan paman Ethan." Pria muda itu menjeda sebentar meredam gejolak emosionalnya. "Aku benar benar tidak menyangka kak.. eh kamu akan menjadi duchess."


Camell tersenyum, tentu saja Galant tidak bisa memanggil Camell dengan sebutan kakak. Karena bisa gawat jika ada yang tahu dan tidak boleh ketahuan juga. Galant datang sebagai saudara tiri kekuarga angkat Camell yang hanya datang untuk berkunjung saja.


"Akademi tidak mengijinkan aku keluar dengan mudah, tapi aku terlejut bahwa kenyataannya status paman Ethan bisa mempermudah itu." Lanjut Galant. "Jadi alasan kita harus bertemu itu.."


"Kamu harus membantu aku dalam kompetisi calon duchess!" Ujar Camell mantab.


"Langsung pada tujuan yah, aku kira kamu merindukan aku!" Cibir Galant.


Camell tertawa renyah. "Itu sudah pasti, tapi ini hal yang mendesak aku harap kamu bisa membantu. Mengingat ayah menyampaikan kalau kamu sangat kompeten jadi jangan mengecewakan aku." Camell menyerahkan rangkuman mengenai lumbung yang dia buat.


Galant menerima itu dengan menjebikkan bibirnya. "Keluar dari akademi pun aku masih harus belajar." Pria bertubuh tinggi itu membaca dengan seksama laporan yang Camell buat. "Ini sangat rapi dan terperinci, lalu apa yang kamu butuhkan?"


"Jelas saja rapi, aku merangkum itu selama 4 hari. Mempertimbangkan, menghitung jumlah penduduk dan konsumsinya. Juga membuat laporan termasuk pengaturan biaya lumbung!" Ujar Camell pongah. "Tapi aku butuh informasi lebih dalam tentang lumbung selatan!"


"Iya!" Tegas Camell. "Diantara 8 lumbung, wilayah selatan paling makmur. Tapi meski demikian penduduk mereka juga banyak, jadi kita harus merayu mereka untuk memberikan bantuan. Oleh sebab itu aku butuh informasi detailnya. Berapa banyak hasil panen yang bisa mereka simpan, berapa biayanya. Itu tugas pertama untuk kamu. Tolong dihitung yah!"


Galant membuang nafasnya dan tersenyum. "Kalau hanya tugas itu mah sudah selesai!" Dia mengeluarkan berkas dibalik mantelnya.


"Hah? Apa??" Camell merebut berkas itu dan membacanya dengan mata berbinar.


"Ayah sudah mempersiapkan itu dan memintaku memberikannya padamu." Bisik Galant rendah.


"Ini informasi yang aku butuhkan!!!" Lonjak Camell senang, tanpa membuang waktu dia dan Galant langsung bekerja dan mendiskusikan cara kerjanya. Tanpa terasa hampir 3 jam mereka berdiskusi dan Camell mendapatkan banyak titik terang dan koneksi dari Galant.

__ADS_1


"Terimakasih lohh kamu sudah jauh jauh datang dan membantu!" Camell menatap Galant.


"Kalau hanya ini mah..." Galant tersenyum dan mendekat kearah Camell lalu memeluk sayang dengan erat kakak satu satunya ini. "Tanpa disuruh oleh ayah pun aku yang akan selalu mendukung kakak dan menyayangi kakak sepenuh hatiku." Galant berbisik rendah membuat Camell mengeratkan pelukannya juga pada Galant.


Setelah beberapa saat mereka berpelukan Camell langsung mengajak Galant masuk karena adiknya itu sudah akan pamit untuk pulang. Mereka masih mengobrol dengan akrabnya sampai tidak sadar dalam ruangan Lloyd sudah berdiri menatap mereka.


"Tu.. tuan duke??!" Camell terperanjat melihat Lloyd dalam ruangannya terlebih dia menatap Camell dan Galant dengan pandangan sukar diartikan.


Ada apa yah dia kemari???


Camell bingung karena seingat dia hari ini bukan jadwalnya menghabiskan waktu dengan Lloyd.


"Harusnya tuan duke memberi tahu saya kalau akan datang." Camell tersenyum kaku.


Lloyd melirik Galant sekilas, pria muda dengan wajah yang tampan juga postur badan yang hampir setinggi dirinya. "Bagaimana mungkin aku mengganggu waktu yang akrab dengan 'keluarga'?" Sakras Lloyd.


Setiap tamu yang datang dari kuar tentu saja atas seijin Agustin dan dalam sepengatahuan Lloyd. Dia tahu kalau Camell akan kedatangan saudara tirinya hari ini.


"Aku mendengar sedikit info tentangmu." Lanjut Lloyd lagi. "Katanya kamu murid akademi yang sangat berbakat."


"Anda terlalu memuji saya tuan duke." Galant menjawab dengan tenang.


Kenapa aku merasa situasi yang tegang saat ini?! Camell jelas merasakan penekanan dari obrolan yang dua pria ini lakukan.


"Hmm.. Galant.." Camell merasa harus memisahkan kedua pria ini.


"Camell, aku harus segera kembali karena hari mulai gelap." Namun Galant cukup bisa membaca isi pikiran Camell dan tidak ingin membuat kakaknya cemas. "Jaga kesehatanmu dan sampai jumpa lagi." Galant hendak membelai kepala Camell sebagai bentuk salam perpisahannya.

__ADS_1


Diluar dugaan Camell dan Galant, secara implusif Lloyd menarik bahu Camell hingga berada disisinya untuk menghindari Camell dari tangan Galant.


Ada apa ini???!  Camell yang diliputi perasaan terkejut menatap Lloyd aneh, begitu juga Galant yang bingung dan terkejut dengan sikap Lloyd menarik Camell sampai tidak bisa berkata kata hingga suasana hening tercipta diantara mereka.


__ADS_2