Abandoned Flower

Abandoned Flower
Mimpi Buruk


__ADS_3

Gemma, Gloria dan Nora duduk dengan cemas diteras depan rumah sederhana itu, mereka sedang membuat tembikar saat mendengar kabar bahwa Flo jatuh kedalam danau oleh pengawal istana. Mereka disuruh untuk menunggu di dalam rumah dan menyiapkan keperluan Flo saat dia pulang nanti. Mereka bertiga sangat khawatir, terlebih lagi Ronan sudah beberapa waktu ini tidak pernah muncul lagi. Mereka sangat mengandalkan Ronan dalam menjaga Flo.


Begitu pintu terbuka dan mereka melihat Flo, Nora lah yang paling pertama berlari menghampiri Flo dan memeluknya.


"Apa nyonya baik baik saja?! Kami cemas setengah mati hiks! Bagaimana bisa nyonya jatuh kedalam danau!!"


"Kamu gila yah?! Lihat pakaian kotormu itu mengotori baju nyonya!!" Gloria menarik ujung kerah baju Nora agar terlepas dari Flo.


"Apa nyonya baik baik saja? Kami sudah menyiapkan air hangat untuk mandi." Gemma memasang raut wajah khawatir.


Flo hanya menatap mereka datar, "Aku akan mandi sekarang." Wanita itu berjalan masuk dengan tenang dan meninggalkan ketiga pelayannya.


"Nora!! Bagaimana bisa kamu main peluk nyonya seperti itu!" Gloria memarahi Nora setelah sosok Flo menghilang masuk kedalam rumah. "Aku takut sekali aku pikir kamu akan mati!!"


Nora hanya diam abai dengan omelan Gloria. "Aneh sekali.. ini aneh.." Gumam wanita itu.


"Apanya yang aneh! Kamu jangan macam macam terhadap nyonya, jangan lancang hanya karena sekarang kita tinggal dan hidup bersama!" Kali ini Gemma yang mengomel.


"Apa kalian tidak sadar nyonya berbeda. Seperti ular yang berganti kulit. Nyonya benar benar menjadi orang yang berbeda." Nora mengusap dagunya tidak peduli dengan tangannya penuh dengan kotoran tanah liat yang membuat wajahnya semakin cemong. "Coba kalian pikir dengan baik, nyonya yang selama ini kita kenal bukanlah nyonya yang seperti sekarang ini. Dia mungkin akan langsung menampar kita jika bajunya terkena kotoran seperti tadi. Apa nyonya sedang menahan diri??" Nora beranalisi.


"Mana mungkin begitu..." Gloria sedikit menjadi ragu akan ucapan Nora.


"Apa jangan jangan.." Gemma memasang wajah serius kearah Nora. "Nyonya sedang membiarkanmu terus menerus lancang dan melakukan kesalahan, mengumpulkannya.. kalau sudah banyak. Dia akan mencambuk dan memenggal kepalamu!"


"Apa?!!!" Nora langsung memegang lehernya. "Heeehhh omonganmu dijaga yah!!!" Nora menggosok tangan kotornya pada wajah Gemma.


"Aaah kotor!!! Dasar anak tidak tahu sopan santun ini! Gloria peganggi dia akan aku pukul dengan piring tembikar!!"


****


Setelah mandi dan nerganti pakaian Flo duduk diam memegang gelang yang melingkari tangannya,


Aku tahu seberapa berharganya gelang ini bagi Winter.. tapi aku tidak tahu apakah aku boleh menganggap ini sebagai perasaan Winter yang sesungguhnya apa bukan..

__ADS_1


Tiba tiba Flo teringat akan perkataan Ethan,


'Temukan jawabannya Flo...'


Ethan??? Dia pasti tau sesuatu kan??? Aku harus menemui dirinya. Dia pasti ada dirumah di kota. Tapi para pengawal istana itu....


Flo menegpalkan tangannya erat dan berpikir, lalu dia mengambil secarik kertas dan pena.


..


"Diantar ke kediaman saudagar Edmun??" Gemma menerima surat dari Flo. "Bukankah saudagar Edmun itu yang membeli semua piring keramik kita?? Apa hubungannya beliau dengan ini??"


"Tolong sampaikan surat itu pada tuan muda disana." Ucap Flo.


"Tuan mudanya??" Gemma terkejut. "Tapi tuan muda itu kan selalu berusaha untuk mendekati nyonya? Apa nanti tidak akan menimbulkan..."


Flo menatap Gemma tajam, "Lakukan tugasmu dan jangan banyak bertanya!" Tegas Flo.


"Ba.. baik saya segera kesana!!" Gemma langsung memasukkan surat itu kedalam saku bajunya dan segera pamit.


Tuan Oscar Delaut Edmun, tentu anda sudah mengenal saya. Saya menulis surat ini untuk meminta bantuan anda, karena saya anggap anda lah yang paling mampu. Tolong anda bawa barang barang yang saya sebutkan dibawah ini dan datanglah ke alamat yang tertera sekarang juga. Terimakasih.


Dengan mengikuti petunjuk dalam surat yang Flo berikan, Oscar dengan rombongannya mendatangi tempat tinggal Flo.


"A.. ada apa ini??!" Nora cukup shock ketika membukakan pintu, namun Gemma yang sudah mendengar rencana Flo mempersilahkan mereka semua masuk.


Iringan musik, suara tawa dan obrolan terdengar dari teras depan rumah Flo. Meski tidak berukuran besar namun nyatanya rumah itu bisa menampung 10 hingga 15 orang.


Flo memakai jubah panjang berwarna gelap, dia menatap semua pelayannya. "Dengarkan aku, ketika aku sudah kekuar dari rumah ini. Bersikaplah seakan aku masih di dalam rumah."


"Baik nyonya!" Jawab mereka bersamaan.


Pengawal istana yang diperintahkan untuk mengawasi Flo hanya menggeleng kepalanya disudut jalan dekat rumah Flo. "Dari tiba tiba melompati jembatan hingga mendadak mengadakan pesta dirumahnya. Nyonya Flower seperti orang yang sangat sulit diterka."

__ADS_1


Tepat pukul 9 malam pintu rumah itu terbuka, rombongan Oscar pun berpamitan untuk pulang.


"Terimakasih jamuannya! Kami pamit pulang."


"Ayo ayo bereskan rumah! Siapkan air hangat untuk nyonya mandi!!" Terdengar suara Gemma memerintahkan Gloria juga Nora dari dalam rumah setelah rombongan itu berlalu.


"Nyonya ayuk masuk kedalam! Diluar dingin!" Nora pun meneriakkan hal yang sama membuat para pengawal dari istana tetap pada posisinya mengawasi rumah Flo.


Rombongan itu berjalan hingga ke dekat pusat kota, Flo membuka jubahnya. "Tuan Oscar, terimakasih atas bantuannya. Sampai disini saja, aku akan berjalan sendiri ke kota karena sudah dekat. Kalian bisa pulang."


Oscar dengan wajah yang tersipu menatap Flo, "A.. aku akan selalu bersedia membantu jika itu..." Pria itu berbicara dengan gugup.


"Tuan Oscar." Potong Flo. "Aku adalah wanita yang telah menikah, jangan menaruh perhatianmu padaku." Flo tersenyum menatap Oscar. "Aku harap kamu bisa menemukan wanita baik yang juga mencintaimu. Terimakasih untuk bantuannya malam ini." Flo memakai kembali jubah dan tudung kepalanya dan segera berlalu dari hadapan Oscar yang menatap Flo nanar.


Flo berjalan menuju sebuah kediaman dikota, rumah yang tidak terlalu besar dan tanpa penjagaan. Ethan terkejut melihat Flo berdiri diluar depan rumahnya dan segera keluar menemui Flo.


"Apa yang membawamu kemari? Bagaimana bisa??" Tanya Ethan khawatir.


"Aku bisa menyelesaikannya. Aku kemari hanya untuk bertanya apa maksud dari perkataan terakhirmu?" Flo membuka tudung kepalanya.


Ethan tergugu melihat tangan Flo lalu dia terkekeh. "Dulu kamu memanjat pohon dan menyembunyikan gelang itu, sekarang gelang itu sudah melingkar ditanganmu. Apa lagi jawaban yang ingin kamu dapatkan? Kamu bahkan menerjang bahaya kesini."


"Gelang ini.." Flo menatap tangannya sendiri. "Kelihatannya bagaimana?"


"Itu gelang peninggalan ibu Winter kan?? Aku tidak akan salah, karena bentuk gelang itu unik dan hanya ada 1 di dunia. Jadi kamu sudah mendapatkan hati Winter setelah meninggalkan Luckingham kan?" Ethan tersenyum.


Flo terdiam sebentar. "Namun hanya separuh hati." Ucapnya rendah.


Ethan tersenyum. "Goyahkan hatinya lagi, maka mungkin hal menarik akan terjadi. Lakukan sesuatu yang benar bukan dengan melompat kedalam danau. Itu hanya akan menyiksa hatinya bukan mendapatkan hatinya."


"Kamu tahu??" Flo terkejut.


"Aku tahu semuanya, bukankah ada alasannya aku berkata demikian padamu. Kamu sendiri yang paling mengetahui jawabannya." Ethan menghembuskan nafas panjang. "Pulanglah ini sudah larut, aku akan mengatur agar kamu pulang dengan aman."

__ADS_1


Malam itu selepas Flo kembali ke kediamannya dia berharap bisa tertidur pulas namun kenyataannya dia bermimpi buruk. Flo bermimpi dirinya terjebak dalam sebuah tempat dan api menyala dengan besar seakan ingin membakar habis dirinya. Wanita itu terbangun dengan terkejut dan nafas terengah engah. "Seluruh tubuhku terbakar! Mimpi apa aku tadi? Hah hah hah... aku yakin sekali wanita dimimpi tadi adalah aku!" Flo menarik rambutnya frustasi. "Kenapa aku bermimpi buruk seperti itu?!" Tubuh Flo bergetar ketakutan.


__ADS_2