
Ethan terus menatap Flo, wanita itu terlihat begitu lelah dengan semua ini. Pria itu menghela nafas sebentar, "Akan aku coba bicarakan ini, namun.. jangan sering menyiksa dirimu. Baiklah aku tidak bisa terlalu lama, jika Winter sekali lagi melihat aku bersamamu mungkin dia akan benar benar mencabik habis diriku." Pria itu terkekeh pelan.
"Apa maksudmu??" Flo terkejut.
Ethan tersenyum dan mendekat kearah Flo, "Ada pengawal istana yang mengawasimu. Memangnya kamu tidak tahu?? Coba kamu pikirkan baik baik apa maksud dari semua tindakan Winter, mengapa dia marah hari itu, mengapa dia mengusirmu dari Luckingham." Ethan menjeda dan memasang wajah serius. "Tikus seberapa besarpun upayanya untuk meminum semua air sungai, dia tidak akan mampu untuk minum melebihi kapasitas perutnya. Temukan jawabannya Flo." Ethan melambaikan tangannya dan pamit untuk pergi.
Flo terdiam mencerna semua perkataan Ethan.
Para pengawal istana yang melindungiku? Aku diusir dari Luckingham... Apa maksudmu Winter??
Tikus yang tidak mampu minum melebihi kapasitas perutnya... itu berarti sebesar dan sehebat apapun hal yang didepan mata tidak akan bisa didapat jika tidak sesuai kapasitas diri.
Bibir Flo bergetar, "Apa maksudmu aku tidak pantas?? Inikah maksudmu Winter?? Apa kamu bermaksud untuk bilang padaku agar tahu batasan diri??"
Gemma masuk kedalam kamar Flo, "Nyonya tidak tidur?? Ayo tutup jendelanya, sudah mulai hujan dan angin malam sangat dingin." Gemma menarik pelan tangan Flo namun wanita itu tidak bergeming.
"Nyonya?! Tidak boleh begini. Ayo masuk!!" Gemma mulai memasang raut khawatir.
Flo terdiam dan merasa lucu sekaligus menyedihkan, "Pffttt!" Dia berusaha untuk menahan tawanya, "Hahahaha!" Flo tertawa dengan menyedihkan. "Sebenarnya apa yang sudah aku lakukan sampai selama ini???"
Gemma tercengang melihat Flo namun dia tidak bisa berkata apapun.
Flo menyibak rambut panjangnya. "Memangnya sejak kapan aku bertindak mengikuti kemauan dan perintah orang lain? Bahkan jika aku menunggu 1000 tahun lamanya memang apa yang akan aku dapatkan?? Seperti bukan diriku saja.." Flo menggelengkan kepalanya. "Benar benar bukan seperti diriku saja. Tutup jendelanya! Hujannya semakin deras!!" Tegas Flo pada Gemma.
Gemma yang masih terkejut hanya bisa menjawab Flo singkat. "Baik nyonya."
****
"Apa kalian diserang orang tidak dikenal disana???" Dylan terkejut mendengar laporan dua orang pengawal yang sejak kemarin dia utus untuk mengawasi tempat tinggal Flo pada malam hari.
"Benar Sir Dylan. Maafkan kami, kami merasa malu sebagai prajurit istana bisa lengah seperti ini." Mereka menunduk hormat pada Dylan.
Dylan berdecak, "Bukan itu permasalahannya, lalu bagaimana keadaan nyonya Flo dan para pelayannya disana??"
"Nyonya baik baik saja didalam rumah, kami sudah memastikan itu. Kami hanya menduga duga namun diluar itu semuanya sangat baik baik saja."
"Ah sudahlah. Aku harus melapor semua pada tuan Winter. Lalu yang dipasar juga yang memborong dagangan mereka itu sudah dipastikan???" Tanya Dylan lagi.
__ADS_1
"Sudah Sir Dylan. Benar itu berasal dari saudagar itu."
"Baiklah. Kalian bisa kembali."
"Terimakasih Sir Dylan. Kami akan kembali mengawasi nyonya." Kedua pengawal itu langsung pergi begitu pamit undur diri.
..
"Jadi ada yang membeli semua dagangan mereka??" Winter menopang wajah dengan tangannya diatas meja, menatap Dylan yang datang untuk melapor hasil kerjanya.
Itu artinya ada orang yang memborong itu semua??! Raut wajah Winter terlihat tidak senang.
"Benar tuan Winter." Jawab Dylan.
"Siapa orang itu?? Apa para pengawal sudah menyelidikinya??"
Dylan menelan ludahnya kasar. "Dia adalah putra dari saudagar di daerah itu, keluarga itu sepertinya menyukai nyonya." Ucap Dylan lambat lambat karena takut.
Sesuai dugaan Dylan wajah Winter mengeras dan tidak senang, "Pria jelek itu memang berusaha mendekatinya! Cari tau identitasnya dengan benar!!"
"Apa lagi?!" Kening Winter mengernyit.
"Sebenarnya semalam dua pengawal istana diserang oleh orang tidak dikenal saat mengawasi kediaman nyonya." Dylan semakin bergidik melihat ekspresi perubahan wajah Winter. "Ta.. tapi nyo.. nyonya dan pelayannya semua baik baik saja. Hanya para pengawal yang diserang karena lengah mereka sempat tak sadarkan diri tapi semuanya be.. benar benar baik baik saja."
Dylan menunduk menunggu reaksi Winter sembari mencuri pandang dikit dikit karena tidak ada reaksi apapun dari atasannya itu.
Apa tuan Winter marah? Atau tidak marah?? Memahami isi hati beliau merupakan hal tersulit.. apalagi ini seperti menjadi tanggung jawab seumur hidupku. Kali ini sulit sekali menebak isi hati tuan Winter. Saya menyerah menebak isi hati anda tuan... padahal anda begitu menyayangi nyonya Flower, tapi kenapa anda memperistri nona Summer?! Selain itu...
"Panggilkan mereka."
Suara Winter memecah lamunan Dylan. "Ya? Panggilkan siapa tuan??"
"Para pengawal yang mengawasi Flo!" Tegas Winter.
"Ah! Ba.. baik tuan Winter."
..
__ADS_1
"Kami menghadap yang mulia grand duke Winter!!" Pengawal itu langsung memberi hormat saat Winter datang. "Ka.. kami sudah membuat kesalahan besar, kami pantas mati!! Kami sudah mengacaukan tugas yang diberikan.."
"Tutup mulut kalian." Ujar Winter. "Kenapa kalian dipilih? Karena kemampuan berpedang kalian yang terbaik disini? Jawab saja pertanyaanku ini, ketidaktahuan kalian dengan identitas penyerang karena kalian pingsan atau benar benar tidak tahu dengan orang itu?? Atau karena kamu tidak melihatnya??"
"Ka.. kami tidak melihatnya." Jawab mereka gugup.
"Berapa lama kamu kehilangan jejak Flo??"
"Se.. sekitar 1 jam."
"Lalu.. dimana Flo sebelum kalian diserang??" Tanya Winter lagi.
"Nyo.. nyonya berada di dalam rumah namun jendela kamarnya terbuka. Saya menduga nyonya sedang disana. Ka.. kami sedang mengawasi nyonya dan tiba tiba kami diserang. Hukum saja kelalaian kami tuan!" Pengawal itu sampai bersimpuh memohon ampun takut akan amarah Winter.
Tanpa berkata apapun Winter mengambil pedang pada atribut seragam Dylan dan menebasnya pada pengawal itu.
'Sreeeettttt...'
Beberapa helai rambut pemgawal itu jatuh kelantai. "Lain kali jika kau gagal menjalankan tugasmu, aku pastikan lehermu yang akan kutebas bukan rambutmu lagi. Pergi kalian!!!"
Pengawal itu pergi dengan tergesa terlebih Dylan juga menyuruh mereka pergi dengan tatapan matanya sebelum Winter kembali menyemprot mereka.
****
Siang ini Fko memilih untuk pergi sendiri tanpa pelayan pelayannya. Dia berdiri di jembatan danau dan berdiam diri. Flo teringat semua perkataan Ethan semalam,
Pengawal istana yang menjagaku?? Apa Ethan sedangĀ berbohong?? Pengawal istana menjaga dan mengawasiku.. cara paling mudah untuk memastikannya...
Flo membelakkan matanya karena menyadari sesuatu, lalu dia memanjat dan duduk diatas jembatan itu.
Cara paling pasti untuk membuktikannya..
Flo langsung melompat kedalam danau dari atas jembatan yang tingginya mencapai 3 meter itu.
'Bbyyuurrrr!!!'
"Nyonya Flower!!!!!"
__ADS_1