Abandoned Flower

Abandoned Flower
Resah


__ADS_3

Suasana ruang rapat begitu mencengkam, wajah Winter tidak bersahabat dan tempramennya sangat buruk. "Mari kita mulai rapatnya." Ucapnya dingin.


Salah satu petinggi disana dengan terbata bertanya, "Tu.. tuan Winter, apa anda sudah mendengar kabar tuan Agustin??"


Winter menatap pria itu tajam. "Aku sudah mendengarnya. Apa karena hal itu kita tidak perlu mengadakan rapat???"


"Bu.. bukan begitu maksud saya. Baiklah, kita mulai rapatnya."


Rapat mengenai hasil budidaya masyarakat yang mereka sokong, juga beberapa bisnis Ferkalon yang sedang berjalan menjadi rapat yang penuh ketegangan. Karena mood Winter buruk, semua laporan yang tidak memuaskannya membuat pria itu marah dan melempar hasil laporan. Winter mencubit pangkal hidungnya.


Sebenarnya apa yang sudah terjadi..? Kenapa Agustin juga ikut membuatku merasa resah seperti ini?!


Hampir selama 2 jam rapat berlangsung akhirnya selesai, "Yah ampun rapat tadi sangat mencengkam, diusiaku yang tidak muda lagi ini merasa seperti terkena serangan jantung." Count Balres yang menjadi salah satu penasihat Winter salam bidang keuangan mengusap tengkuknya yang kaku.


Para petinggi yang mengikuti rapat semua setuju dengan ucapan Balres, "Tuan Winter memang tidak bisa diterka, auranya terkadang membuatku sesak nafas."


..


Dylan menatap Winter yang masih duduk diam diruang kerjanya, mau tak mau pria itu bersuara. "Tu.. tuan Winter. Rapat sudah usai, mari kita..."


"Buka jendelanya!" Ucap Winter.


"Hah? Apa?" Dylan menjadi bingung.


"Aku bilang buka jendelanya!!"

__ADS_1


"Ba.. baik!!" Dylan membuka jendela besar yang menghubung ke balkon dengan pemandangan taman istana.


Winter menahan tawanya, "Pfft... Benar benar ide yang bagus! Bahkan Agustin juga berkomplot!" Winter terbahak semakin membuat Dylan menatapnya ngeri.


Benar benar ide yang bagus Flower... setelah ini kamu akan berlari menuju aku?? Dengan wajah manjamu yang seakan tidak menyimpan dosa mendatangi aku dan mengaku salah.


"Baiklah, kamu minta aku mengalah kan??" Winter bangkit berdiri dan memerintahkan Dylan. "Siapkan kendaraan! Aku akan menuju ke kediamannya sekarang!! Agustin juga disana kan?!"


Dasar wanita licik, wanita jahat! Eruslah membuat aku mengalah padamu!!


Dengan gelisah Dylan menyiapkan apa yang Winter minta, Agustin memang berada disana untuk membereskan yang sudah terjadi.


'Braaaakkk!!!' Dengan keras Winter membuka pintu rumah yang sudah menjadi tempat tinggal Flo dan pelayannya beberapa bulan ini. Jerit tangis terdengar dari sana bahkan beberapa penduduk sekitar berkerumun menatap iba.


"Kenapa kamu terbaring seperti ini anakku?!!! Kamu baru saja mengirimkan uang! Kenapa?!!" Keluarga Nora menangisi jenasah Nora yang ditutup oleh kain karung rami.


Keluarga Gloria pun menangisi jenasah anaknya bahkan sudah beberapa kali ibunya pingsan karena tidak kuat melihat jenasah anaknya yang mengerikan dengan luka begitu besar dilehernya.


Winter yang menyaksikan itu semua menggepalkan tangannya dan mendesah kasar dia mengingat bagaimana Flo meminta agar dayangnya diperlakukan baik karena dayang dayangnya sudah seperti anak anaknya, dan bagaimana dayang dayang itu juga membela Flo apapun yang terjadi. Hati Winter semakin resah dengan tergesa dia masuk kedalam bagian rumah.


Winter melihat seorang pelayan kepercayaan Agustin sedang gelisah memerintahkan beberapa pelayan lainnya untuk merawat Agustin yang lagi lagi terjatuh pingsan.


"Dimana Agustin??" Tanya Winter. "Antar aku menemuinya!"


"Tuan Winter?! Saya..."

__ADS_1


"Tidak perlu memberi hormat! Antar aku!" Wajah Winter mengeras.


Setelah Winter memasuki kamar dimana Agustin beristirahat dia semakin resah.


"Meskipun tadi tuan Agustin sudah sadar tapi beliau terus menerus jatuh pingsan lagi, beliau rerus menerus mengigau dan meminta maaf pada tuan duke terdahulu, tuan Michael. Karena merasa gagal menjalankan mandatnya." Pelayan itu dengan takut memberi informasi.


"Dimana Flo sekarang?" Tanya Winter dingin.


Pelayan itu semakin menunduk takut. "So.. soal itu.. hanya mayat ketiga pelayannya dan para pengangkut tandu yang ditemukan." Pelayan itu menjeda dan semakin terbata. "Se.. sementara nyo.. nyonya Flo sepertinya diikat dibatang pohon tua dan dibakar oleh para parampok itu."


Dibakar?!!!!


Winter tercengang dan mencoba tetap fokus setelah mendengar apa yang terjadi pada Flo.


"Menurut para penebang kayu yang pertama kali menemukan tempat mengerikan itu, mereka hanya melihat setumpuk abu dibawah pohon dan tali yang hangus." Tambah pelayan itu lagi.


Bahkan Dylan yang mendengar hal itu memasang wajah syok, tubuhnya sampai bergetar karena merasa ngeri. Dia hanya mendengar kabar bahwa Flo dirampok dan dibunuh namun dia tidak menyangka perampok keji itu membakar nyonya nya.


Dia dibakar?!!


Tubuh Winter terhuyung dan menopang tubuhnya pada tembok.


"Tu.. tuan Winter?! Anda baik baik saja?!" Dengan sigap Dylan menopang Winter


Tidak mungkin!!! Ini semua pasti bohong!!

__ADS_1


"Jangan sentuh aku!!!" Winter menepis kasar tangan Dylan. "Sekarang kita pulang ke istana bunga!!!" Wajah Winter terlihat sangat marah san segera pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2