Abandoned Flower

Abandoned Flower
Totalitas


__ADS_3

Camell mengerjapkan matanya, cahaya matahari yang masuk dari jendela cukup mengganggu tidurnya hingga dia terbangun. Kepalanya berat dan pusing, mungkin memang Camell sudah memasuki usia dewasa namun mengkonsumsi alkohol sebanyak malam tadi adalah yang pertama untuknya.


"Aduh.. kepalaku.." Camell mengerang dan berjalan keluar untuk mencari air minum membasahi kerongkongannya yang kering.


"Kamu sudah bangun??" Lloyd bersidekap menatap lurus Camell yang sedang menenggak air putih.


"Ekh!" Camell hampir tersedak dan buru buru menyelesaikan minumnya lalu tertawa kaku. "Haha iya, aku mandi dan berberes dulu!" Entah kenapa Camell merasa malu menatap Lloyd dan bergegas masuk kedalam kamar mandi.


Saat sarapan pun Camell lebih banyak diam karena kepalanya masih terasa berputar, Lloyd memperhatikan Camell yang makan dengan tidak semangat. "Karena kemarin kita naik kereta kuda seharian lalu malam hari kita minum terlalu banyak. Jadi hari ini kamu beristirahat saja. Lihat usaha cocok tanamnya lain kali saja."


Camel hanya terdiam memikirkan omongan Lloyd.


Diam saja aku pusing apalagi harus naik kereta kuda menuju tempat bercocok tanam..?


"Tapi.. saya sangat ingin melihat usaha cocok tanam itu secepatnya tuan duke." Camell ragu.


Lloyd mengernyitkan alisnya, dia mengenal banyak putri bangsawan yang pernah disodorkan untuk menjadi calon perjodohannya. Seperti Cyness salah satu contohnya, meskipun Lloyd tidak terlalu memahami wanita tapi dia yakin sekali tidak ada satupun putri bangsawan yang mau berepot repot masuk kedesa apalagi hanya untuk melihat usaha cocok tanam. "Selera kamu ini memang aneh aneh yah... dari ide tanam pohon, pergi ke daerah terpencil lah.. sekarang.."


"Haaahh.. memangnya siapa yang untung dari ketertarikan saya pada hal hal aneh." Camell menghela nafas memotong ucapan Lloyd.


Lloyd menahan senyumnya melihat Camell. "Kalau begitu kita melihat usaha cocok tanamnya siang saja, pagi ini kita jalan jalan sekitar desa. Bagaimana?"


Tiba tiba Camell menjadi semangat, "Baik!!! Aku siap siap dulu."


Beruntung bagi Camell ternyata penginapan yang mereka tempati dekat dengan pasar dipusat desa itu. Sedari pagi pagi buta hingga sekarang suasana pasar cukup ramai, Camell memakai terusan biasa sepanjang betis dan topi bundar untuk melindunginya dari terik matahari, sedangkan Lloyd juga memakai celana panjang dan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga batas siku. Mereka lebih terlihat seperti pasangan saudagar yang ingin mencari barang ketimbang bangsawan meskipun wajah mereka tetaplah berbeda dari masyarakat biasa.


Kalau dipikir pikir ini pertama kalinya aku berjalan jalan dipusat desa, aku belum pernah mengunjungi desa yang terpencil. Enak juga berjalan jalan disini...


Camell melirik kearah Lloyd, menatap pria itu untuk mencari tahu apakah dia juga merasakan hal yang sama seperti Camell rasakan.


"Apa tuan duke sering ketempat seperti ini??" Camell bertanya dengan suara rendah karena melihat wajah Lloyd yang datar.

__ADS_1


"Lloyd!"


"Maaf?" Camell bingung dengan jawaban Lloyd.


"Kamu mau memanggilku dengan gelar duke ditempat seperti ini??" Lloyd tersenyum mengejek. "Kamu tidak totalitas dalam berbaur dan menyamar yah??"


Camell mencibir kesal. "Bagaimana kalau ada yang tahu nama asli tuan duke???"


"Hmmm.." Pria itu nampak sedang berpikir, "Kalau begitu Leo saja. Panggil aku Leo."


"Leo?" Rasanya Camell ingin tertawa. "Kenapa Leo??"


"Karena saat aku kecil aku susah menyebut namaku sendiri dan aku menyebut namaku Leo sampai aku berumur 4 tahun. Apa kamu mengerti, Camell??!" Lloyd terlihat sedang menahan senyumnya.


Camell bersingut mundur dan mengernyitkan alisnya. "Ter.. terserah kamu saja.. Leo!"


Lihat wajahnya itu seperti mau menggoda aku lagi!!


Camell menganggukkan kepalanya, dia melihat kesekeliling memang semua orang sibuk bertransaksi dipasar tanpa meperdulikan mereka, lalu ada satu toko aksesoris buatan tangan yang menarik matanya. "Waaah masa ada yang begitu...!" Camell berjalan menuju toko itu.


"Kamu mau kemana??"


"Karena tidak ada yang mengenali kita, gak apa apa kan kalau kita belanja??" Camell tersenyum culas membuat Lloyd merinding seakan setuju bahwa sifat wanita yang satu ini memang semua sama saja.


Meski wajah Lloyd menunjukkan keterpaksaan tapi dia juga mengikuti Camell dari satu toko menuju toko lainnya hingga barang bawaan mereka kian banyak dan menumpuk. "Kamu yang benar saja?! Masa setiap toko kamu beli barangnya tanpa memikirkan kegunaan atau perlu tidaknya dari barang itu??" Lloyd mulai kesal membawa barang belanjaan Camell.


Camell mendengus, "Kamu itu benar benar tidak tahu apa apa yah LEO!" Camell bahkan menekankan nama itu. "Aku kan belanja untuk membantu wilayah yang terkena dampak kekeringan ini, belanja untuk membantu perputaran uang sehingga kehidupan pedagang bisa lebih baik."


Lloyd ingin tertawa kesal rasanya namun apa yang Camell katakan memang sedikit benar. "Haha terserah kamu saja!"


"Kenapa tertawa?? Bagaimana kalau kita istirahat dulu nanti baru ke daerah pinggiran."

__ADS_1


"Yah boleh juga." Lloyd hanya menipiskan bibirnya mengikuti Camell.


Mereka memilih sebuah kedai kecil untuk beristirahat, sambil melihat ke sekeliling mereka mengisi perut. "Daerah ini ternyata cukup ramai yah." Camell terus melihat sekitar.


"Iya. Sejak usaha cocok tanam dimulai daerah ini mulai hidup. Tapi hujan masih saja belum turun." Lloyd memasang raut yang sulit diartikan.


Camell terdiam, dia paham akan fenomena alam ini dia pernah membaca bukunya namun entah mengapa mulutnya masih terkunci dengan informasi itu. "Kita tidak bisa mengontrol cuaca." Ucap Camell pada akhirnya, "Dan itu bukanlah masalah yang bisa kita atasi. Tapi sekarang kita sedang dijalan kearah yang menuju kesana, itu saja dulu sudah cukup." Camell tersenyum.


Mungkin karena belum 100% percaya dengan kebaikan Lloyd atau juga mungkin rasa ego Camell yang besar, dia tidak berniat saat ini juga membeberkan apa yang dia tahu.


"Bagaimana kalau sekarang kita jalan ke daerah pinggiran??" Camell bersiap bangkit berdiri.


"Baiklah." Lloyd juga merasa telah cukup beristirahat.


Sepanjang jalan menuju daerah pinggir hingga tiba disana Camell menemukan pemandangan yang cukup miris. Banyak gelandangan dipinggir jalan yang kumuh dan kotor, anak anak yang tidak terurus berkeliaran tidak belajar diakademi karena kesulitan uang. Dan banyak rumah kumuh yang hampir rusak.


"Apa orang orang disini tidak merasakan manfaat dari pekerjaan cocok tanam??"


Lloyd menghela nafas. "Awalnya pekerjaan itu diperuntukkan bagi kalangan kelas bawah, tapi mereka menjualnya untuk mendapatkan uang. Mereka tidak berpikir jangka panjang kalau diberikan uang dalam jumlah besar mereka akan memilih itu."


"Saya bisa memahami itu, rasanya siapapun pasti akan memilih itu. Kalau begitu..." Belum selesai Camell berbicara tiba tiba ada seorang bocah laki laki yang kumal berlari dan menabrak Lloyd dengan kencang.


'Brukkkk!'


"Astaga, apa kamu baik baik saja??" Camell cukup khawatir karena anak itu menabrak Lloyd dengan keras.


"Anak ini...!" Lloyd menggeram marah dan melepaskan semua barang bawaannya lalu mengejar anak itu dengan cepat.


"Tuan du... eh maksudku Leo!!! Mau kemana??!" Camell panik melihat Lloyd mengejar dan berhasil menangkap anak itu lalu mencengkram lengan kurus anak itu dengan kencang. "Leo, ada apa??!" Camell juga berusaha menyusul Lloyd.


Anak itu berteriak dan meronta berusaha untuk melepaskan dirinya dari Lloyd namun tetap tidak bisa, air matanya menggenang dan ketakutan langsung menyelimutinya ketika bertatapan dengan mata Lloyd yang menatapnya tajam.

__ADS_1


__ADS_2