Abandoned Flower

Abandoned Flower
Karma


__ADS_3

Ingatan Flo melayang, jelas dalam ingatannya saat dia berusia 5 tahun selalu sendirian. Ayah yang tidak pernah menyayanginya, ibu yang sakit sakitan dan mengabaikannya juga. Flo selalu menunggu dalam kegelapan sudut rumah menantikan ibunya datang.


'Ibu.. ibu.. ibu pasti datang kan??'  Setiap hari Flo hanya memanggil manggil ibunya dalam kegelapan.


Nafas Flo tersengal sengal, air matanya terus mengalir dan dia masih tidak percaya bahwa ketiga pelayannya sudah tidak bernyawa. Flo merangkak mendekati Siwa, "Tolong saya.. tolong! Pelayanku semua sudah mati... Tolong... Tolong saya..." Tubuh Flo bergetar hebat dan air matanya tumpah tak tertahan.


Siwa menggigit bibirnya kesal dan menampar Flo dengan kuat. "Kenapa kamu tidak mengingat aku?!!" Siwa mencengkram baju Flo dan menamparnya berkali kali tanpa ampun. "Kenapa kamu tidak bisa mengingat aku?!!! Aku lahir dari keluarga yang sangat miskin!! Aku masuk dan bekerja dalam Luckingham yang kudapatkan dengam susah payah untuk mengurangi beban keluargaku!!" Siwa seperti kerasukan menampar wajah Flo. "Saat aku lelah bekerja keras aku melihat tuan Winter dan membuat hatiku senang, aku hanya memandangnya saja! Memikirkan tuan Winer saja itu membuatku bahagia, apa itu salah?!! Aku sama sekali tidak meninggikan diriku untuk bisa memenangkan hatinya!! Tapi apa perbuatanmu?!!" Siwa mencengkram erat leher Flo dan berkata dengan amarah yang terpendam. "Kamu sudah menjadi anak kesayangan tuan Michael, dilayani oleh 4 pelayan, tinggal diistana bunga dan memiliki segalanya!! Tapi kenapa kamu malah membuat sebelah kakiku cacat hanya karena aku memandang tuan Winter dengan penuh kekaguman?!!"


Sudut bibir Flo berdarah, pipinya memar namun dia tidak banyak bergeming dalam kesakitan itu. Flo hanya menangis dan terus meminta tolong. "Tolong saya..." Ujarnya dalam isak tangis lemah.


Siwa menampar Flo sekali lagi hingga Flo jatuh terjerembab ketanah, "Ikat wanita j*lang ini!!!" Titah Siwa pada rekan rekannya. "Kita harus membakar habis wanita ini sampai tak bersisa!"


Begitu Flo tersadar dia sudah terikat pada pohon besar, dikelilingi oleh tumpukan ranting dan kayu. Siwa tersenyum sinis menatap Flo. "Kamu pasti pernah mendengar apa yang namanya karma kan?? Itu adalah hukuman yang diberikan oleh para dewa untuk wanita jahat sepertimu!" Siwa mengambil botol kaca yang berisi minyak tanah. "Tapi berapa lamanya pun aku menunggu sepertinya dewa tidak berencana untuk menghukummu, jadi jika dewa tidak menghukummu berarti aku harus turun tangan!" Dengan senyuman terjahat Siwa menyiram minyak itu tumpukkan kayu. "Aku akan membakarmu sampai mati!!"


Siwa mengambil obor kayu di api unggun yang dinyalakan. "Apakah kamu takut??? Coba mohon ampun sekali lagi!" Dia cekikikan seakan itu lucu. "Seperti aku waktu itu.. memohon padamu dengan gemetaran hebat agar tidak dipukul habis habisan dengan kayu."


Flo terdiam, dengan nafas yang tersengal dia hanya bisa menatap kayu dengan api ditangan Siwa.


Padahal aku tidak mengharapkan ini terjadi... keinginanku hanya untuk bertemu paman Michael dan meminta bantuan untuk mendapatkan hati Winter sembari menenangkan hatiku yang lelah. Saat nanti aku bertemu dengan Winter aku ingin mengatakan bahwa aku tidak bisa hidup tanpanya.. itulah rencana awal yang aku pikirkan.

__ADS_1


Flo menutup matanya dan membiarkan air matanya mengalir.


Selama aku hidup aku tidak pernah membayangkan saat saat terakhir aku hidup. Kenapa ibu pergi kesana yah??  Jalan yang gelap dan suram itu.. apa ibu tidak takut kesana sendirian??


Ibu Flo muncul dalam bayangan ingatan Flo, tersenyum hangat dan memanggil Flo dalam kilau cahaya. "Anakku.. Flower..."


Flo terkejut lalu tersenyum, "Ibu....?"


Siwa mengerutkan keningnya menatap Flo yang terikat pada batang pohon. "Kamu tersenyum??!" Decih Siwa, lalu dia melempar obor kayu itu keatas tumpukan kayu dibawah kaki Flo hingga dengan cepat api berkobar menjadi besar. "Tersenyumlah sampai sejauh mana kamu bisa tersenyum hingga rasa sakit mencabik cabik habis dirimu, rasa sakit seperti kaki seakan putus yang pernah aku rasakan. Kamu juga harus merasakannya!!!!"


Flo rersengal dan merasakan sakit yang teramat sangat menjalar dengan hebat dikakinya. Panasss!!! Ibu....!


Suara jerit kesakitan pilu terdengar namun seakan tuli para perampok digunung Dalkota dengan mata mereka sendiri, meraka menyaksikan api membakar tubuh Flo.


****


"Apa katamu? Agustin jatuh pingsan?" Winter meletakan gelas teh nya. "Bukankah Agustin tidak mempunyai penyakit apapun??"


Dylan menunduk dalam. "I.. itu.. itu.." Pria itu mendadak jadi tergagap. "Maa.. Maaf tuan Winter saya sulit untuk berdiri karena seluruh tubuh saya gemetaran." Dylan menopang tubuhnya pada tiang pilar.

__ADS_1


"Kenapa kamu begitu??" Winter semakin bingung.


Dylan mengatur nafasnya. "Saya mendapat kabar bahwa nyonya Flo dirampok digunung Dalkota dan dibunuh semalam. Setelah mendengar berita ini tuan Agustin langsung pingsan karena dia mendapat mandat dari tuan Michael untuk menjaga nyonya Flo." Ucap Dylan gemetaran. "Maka dari itu.. tuan Agustin sangat terpukul, beliau berkata dia sudah menganggap nyonya seperti anaknya."


Winter terdiam menatap Dylan. "Nyonya Flo?? Memangnya kita mengenal orang lainnya yang bernama Flo?"


"Tid.. Tidak." Jawab Dylan takut.


"Tadi kamu bilang nyonya Flo meninggal... memangnya ada orang selain itu yang Agustin kenal bernama Flo?! Kenapa kamu menyampaikan berita setengah setengah begitu?!!" Kesal Winter.


"Ke.. kemarin sebenarnya nyonya Flower pergi kegunung Dalkota..."


"Jadi maksudmu yang mati itu Flower????" Tanya Winter.


"Be.. benar." Dylan semakin takut.


Winter melempar cangkir teh nya dan memukul meja. "Lancang sekali mulutmu!!! Meskipun kamu orang kepercayaanku jangan pernah dengan lancang berkata seperti itu! Mau kurobek mulutmu?!! Sudahlah kita ada meeting penting cepat kumpulkan semua keruang rapat!!!!" Winter bangkit berdiri dan berlalu dari taman.


Flower meninggal???! Jangan bercanda!!!

__ADS_1


__ADS_2