
Camell tidak mengingat berapa lama dia berpelukan dengan Lloyd dalam hujan yang seolah mau melindungi Camell dari hujan sampai pengawal datang dan membawakan mantel untuk Camell.
"Tuan, nona. Ini mantelnya." Seorang pengawal memakai pakaian biasa menghampiri mereka membuat Camell yang terkejut dan malu secepat kilat melepas pelukan Lloyd.
"Terimakasih meski saya juga sudah kehujanan." Camell tersenyum dan langsung memakai mantel itu.
"Leo memelukku karena takut aku kedinginan yah? Kalau hanya hujan seperti ini aku tidak apa apa." Camell memecah kecanggungan yang terjadi selama mereka berjalan kembali ke penginapan.
Lloyd tidak menoleh sedikitpun kearah Camell dengan wajah yang kaku pria itu hanya menjawab. "Lebih baik kamu lebih berhati hati."
Sikap Lloyd yang aneh hanya membuat Camell mengerutkan alisnya terlebih telinga Lloyd kini mulai berwarna merah yang menjalar dari wajahnya.
Camell memang bingung dan penasaran mengapa telinga Lloyd memerah seperti orang malu namun begitu mereka sampai ke penginapan dan Camell masuk kedalam kamar tidurnya barulah dia mengetahui alasannya. "Kyaaaakkkk!!" Camell menjerit kesal bercampur malu sampai membuat pelayannya masuk dengan tergesa.
"Ada apa nona???!"
"Eh?! Ti.. tidak apa apa! Tunggu diluar saja aku mau berganti pakaian." Camell semakin malu dan menutupi badannya.
Setelah pelayan itu keluar barulah Camell meringis melihat pantulan dirinya dalam cermin. Kemeja putih yang Camell kenakan benar benar basah dan menjiplak jelas lekuk tubuhnya.
Ini alasan dia memeluk dan melindungi aku dari hujan??? Gila..! Ini sungguh memalukan!!!
Esok harinya pagi pagi sekali mereka sudah harus kembali ke ibu kota. Tanpa menuggu Lloyd untuk turun bersama karena malu, Camell sudah lebih dulu menunggu dibawah di depan kereta kuda bersama Utha melihat para pengawal membantu mereka berkemas dan memasukkan barang ke kereta.
__ADS_1
"Liburan sudah selesai, kamu sudah harus kembali ke istana nih." Utha menggoda Camell dengan usil. "Kamu tidak akan bisa bersantai lagi kalau sudah di istana, tidak akan bisa sayang cintaku lagi dengan yang mulia duke."
Camell yang malu langsung memukul mukul lengan Utha. "Kamu ngomong begitu belajar dari mana sih?? Sejak kapan aku begitu!!?"
Utha tertawa terbahak sambil mengaduh karena dipukul oleh Camell tidak berhenti.
"Ada apa?" Suara berat itu membuat Camell dan Utha berhenti bercanda.
"Ah anda sudah disini tuan duke." Utha sedikit merinding melihat wajah dingin Lloyd.
"Bukan apa apa." Jawab Camell kikkuk.
"Hmm.. persiapannya sudah selesai, kita berangkat sekarang." Lloyd menarik perlahan tangan Camell untuk mengikutinya masuk kedalam kereta kuda.
"Sampai bertemu lagi tuan duke." Lloyd hanya mengangguk menjawab Utha. "Hati hati dijalan nona Camellia." Begitu juga dengan Camell hanya tersenyum menanggapi Utha.
Aku pasti akan merasa tegang dan terganggu lagi saat kembali ke istana. Liburan sudah selesai maka artinya aku akan memasuki persaingan yang sesungguhnya dengan nona Cyness.
Camell mencuri melirik Lloyd yang duduk diam disebelahnya.
Menurut Utha, tuan duke mempunyai perasaan padaku. Tapi bisa jadi saja sebenarnya merupakan sikap khawatir pada nona Cyness kalau kalau aku bisa menhingkirkan kekasihnya karena dukungan paman Ethan.
Menyangi aku?? Jelas sekali itu tidak mungkin, memang sikapnya sudah berubah sejak pertemuan awal kami. Tapi jelas itu hanyalah sikap saling menghargai. Aku dan tuan duke jelas lebih baik tidak terlibat perasaan cinta.. tapi kenapa ada yang mengganjal dihatiku.
__ADS_1
Camell menatap keluar jendela nampaknya hujan akan kembali membasahi wilayah barat, rasa kantuk yang menyerangnya dan pikiran yang berkecamuk dikepalanya membuat matanya semakin berat. Tanpa sadar Camell tertidur.
"Nona Camellia??" Lloyd mendengar benturan beberapa kali. "Kamu tidur??" Lloyd melebarkan matanya melihat kepala Camell yang terantuk antuk beberapa kali membentur sisi jendela kereta kuda. "Kepalamu bisa memar nanti." Dengan hati hati Lloyd memapah kepala Camell dan membiarkan wanita itu tidur bersandar dibahunya.
Camell tidak menyadsri berapa lama dia tertidur sampai dia merasa pegal pada lehernya. Begitu Camell membuka mata dia sadar kalau dia tertidur dibahu Lloyd. Reflek kaget Camell langsung menjauhkan kepalanya dari baju Lloyd dan tersadar bahwa kereta sudah berhenti. "Sudah sampai???" Tanya Camell bingung.
"Iya." Lloyd tersenyum. "Para pelayan dan dayangmu sudah menunggu diluar." Pria itu menyingkap tirai jendela agar Camell bisa melihatnya.
"Kita baru sampai??"
"Sudah dari tadi sih." Lloyd menjawab datar.
"Kenapa tidak membangunkan saya??" Camell terkejut kembali.
"Karena tidurmu nyenyak sekali."
Camell malu, entah sudah berapa kalinya dia selalu menunjukkan hal memalukan di depan Lloyd. "Ka.. kalau begitu ayo keluar." Wanita itu bangkit berdiri dan Lloyd langsung membuka pintu kereta.
"Selamat datang kembali nona Camellia dan tuan duke." Irene menyambut mereka. "Apa wisatanya menyenangkan??"
"Iya menyenangkan." Camell tersenyum lebar. Hal hal diluar dugaan selama Wisata memang membuat Camell senang.
"Ayo masuk." Lloyd mengadahkan tangannya sebagi isyarat akan mengantar Camell masuk kedalam.
__ADS_1
"Baik." Camell memegang tangan Lloyd dan mereka masuk kedalam istana.
Meski harus pusing memikirkan persaingan calon duchess tapi entah mengapa Camell merasa hatinya senang saat ini... sesaat sebelum dia mendengar berita tentang Cynes.