
Manusia yang bisa mengendalikan dirinya meski baru mengalami hal hal mengejutkan adalah manusia terhebat, namun memang Camell akui dia tidak sehebat itu. Dia merasa gila karena setelah beberapa waktu berlalu sekalipun Camell masih bisa merasakan hawa panas nafas Lloyd di tengkuk juga telinganya. Belum lagi kalimat yang Lloyd ucapkan dengan suara rendah dan berat itu terus menerus terngiang ngiang dipikirannya.
'Kamu dan aku memang sepikiran. Aku jadi penasaran, sejauh mana kita sepikiran.'
'Kamu dan aku memang sepikiran. Aku jadi penasaran, sejauh mana kita sepikiran.'
'Kamu dan aku memang sepikiran. Aku jadi penasaran, sejauh mana kita sepikiran.'
Camell meringis kesal dan mengusap telinganya terus menerus.
Aah!! Jangan terus kepikiran dong!!!!
"Ada apa kok heboh sendiri??" Lloyd menatap Camell dengan kening berkerut.
Camell balas menatap Lloyd, ini bagian paling menyebalkan dalam hidupnya adalah karena pria itu bersikap sangat tenang.
Ini kan gara gara anda!!!! Maki Camell dalam hati.
"Bu.. bukan apa apa." Jawab Camell pada akhirnya.
Habis bicara yang tidak tidak bahkan mengarah ke c*bul seperti itu bisa bisanya dia memasang wajah tenang seperti itu?! Apa apaan ini?!!
Suasana hening kembali menyelimuti mereka berdua, sesekali Lloyd melirik kearah Camell, lalu pria itu berdehem sebelum berbicara. "Setelah aku pikir pikir, memang penting untuk membuntuti pelaku jual beli budak tapi rasanya juga penting untuk menambah pasukan agar bisa menyelinap. Karena kamu begitu mengkhawatirkan anak itu, aku akan mencari cara yang tercepat untuk membereskan ini."
Lloyd menjeda sebentar. "Cara paling cepat dan mudah jika saja aku bisa mendapatkan bukti catatan transaksi jual beli budak, pasti akan lebih mudah diselesaikan."
Tiba tiba Camell kembali semangat. "Ide bagus!!" Lalu dia menghadapkan tubuhnya kearah Lloyd. "Bagaimana kalau begini, karena kita akan janjian dengan pelaku itu maka sekalian kita lakukan transaksi!!"
Lloyd menaikkan alisnya. "Maksudmu, kita akan berpura pura membeli budak??"
"Benar, kita gunakan uang palsu untuk mengelabuinya!" Camell meminimalis kerugian personal ataupun anggaran negara dalam penyedikan kasus kali ini.
"Uang palsu??" Lloyd cukuo terkejut dengan ide Camell.
"Benar!" Camell tersenyum percaya diri. "Palladium, bahan logam yang menyerupai emas." Camell beruntung dia sempat pulang kerumah beberapa waktu lalu. Dia banyak mengobrol dengan ayahnya, Winter. Ada bisnis baru dikalang para saudagar yang melakukan jual beli logam palladium untuk perhiasan pengganti perhiasan. Mengingat harga emas tidak menjangkau bagi beberapa kalangan masyarakat.
__ADS_1
"Aku tahu." Lloyd terlihat berpikir keras. "Sepertinya aku tahu bagaimana bisa mendapatkan palladium dengan cepat besok hari karena dekat sini ada jalur perdagangan. Aku akan langsung memerintahkan para pengawal untuk membawanya hari ini."
"Lalu sepertinya kita memang harus menambah personel untuk menyamar sebagai pembeli." Tambah Lloyd.
"Menambah personel??"
"Pengawalku yang ada disini hanya 10 orang, butuh beberapa orang lagi."
Camell terdiam sebentar, "Hmm.. kenapa harus repot repot menambah personel?? Kan ada kita berdua!" Camell menunjuk dirinya juga Lloyd.
Lloyd sangat terkejut dengan ide Camell. "Aku? Kita?? Kamu serius???!"
"Tentu saja!" Camell tersenyum lebar.
Lloyd terkekeh, "Kamu ini benar benar tidak bisa diprediksi yah." Ucapan Lloyd hanya membuat Camell tertawa.
Akhirnya perjalanan selama satu jam berakhir dan mereka tiba juga dilokasi cocok tanam. Lahan itu gersang namun beberapa tempat sudah ditanam pohon besar dengan memindahkan akar pohon dan tanah basah. Banyak pekerja dan cendekiawan yang terlibat dalam proyek ini.
Camell cukup senang melihat pekerjaan cocok tanam yang di cetuskan olehnya berjalan dengan sangat baik.
"Tuan duke!" Seorang pria muda menghampiri Lloyd juga Camell. "Saya sudah lama menunggu kedatangan anda."
"Saya Albert Cougan. Senang bisa berkenalam dengan anda nona Camellia." Albert membungkuk memberi salam hormat.
Cougan yah..? Ah iya, tuan Cai sudah memberi tahu pantas saja familiar. Ternyata putra baron Cougan.
"Senang berkenalan denganmu putra Baron Cougan." Camell tersenyum hangat.
Albert membelakkan matanya, "Sungguh suatu kehormatan anda mengenal saya!" Dia lagi lagi membungkuk hormat pada Camell.
"Cougan, tunjukkan pada nona Camellia tentang proyek cocok tanam ini." Lloyd memerintahkan Albert karena dia juga harus meninggalkan Camell sebentar untuk menerima laporan dari para pekerja dilapangan. "Aku pergi dulu, tidak akan lama kok." Lloyd menatap Camell.
"Baik." Jawab Camell singkat.
Albert memperhatikan interaksi Camell dan Lloyd. "Sungguh tidak terduga." Ucap Alberts aat Lloyd sudah berlalu dari sana.
__ADS_1
"Apanya??" Tanya Camell bingung.
"Hubungan anda dengan tuan duke, ternyata cukup baik. Berbeda dari kabar yang beredar." Albert mulai berjalan membimbing Camell untuk melihat hasil cocok tanam disana.
"Kabar yang beredar??"
"Ah.. itu.. maksud saya.." Albert jadi salah tingkah sendiri.
Hmm.. rupanya ada banyak gosip yang beredar dan dia mengambil kesimpulan tentang aku hanya berdasarkan gosip yah..? Aku kira setelah pesta di keluarga Utha kabar buruk tentang hubungan ku dan tuan duke sudah lenyap.
Camell tersenyum pada Albert. "Ada banyak gosip ini itu yah, tapi itu tidak benar."
"Maaf!" Albert merasa tidak enak hati dan meminta maaf dengan tulus.
"Tidak masalah. Saya justru bisa merasa terbebani jika tuan Cougan merasa tidak enak pada saya."
Albert tersenyum, dalam sekejap gosip gosip buruk yang tersebar tentang Camell sirna dalam pikirannya. "Ternyata nona memang orang yang baik. Boleh saya bertanya satu hal, apa benar nona Camell yang mengusulkan ide usaha cocok tanam ini??"
"Haha tidak usah melebih lebihkan, aku hanya mengemukakan pendapat tentang apa yang aku ketahui." Camell tertawa malu.
Wajah Alber terkesima menatap Camell membuat Camell bingung. "Nona benar benar rendah hati meski cerdas!! Penelitian tentang pohon baru dilaksanakan beberapa bulan lalu di negara xx bagaimana nona bisa cepat tahu soal itu?!"
Camell meringis mendengar pertanyaan Albert. Tentu saja dia tidak bisa bilang bahwa berkat Winter yang mempunyai usaha pelayaran dia bisa banyak bertemu orang baru dari benua lain hingga banyak sekali ilmu pengetahuan baru lainnya. Apalagi Winter sering mengenalkan Camell cendikiawan maupun ilmuan dari benua lain demi mendukung putrinya yang senang belajar.
"Haha. A.. aku hanya suka berkebun." Camel menjawab sekenanya. "Jadi aku mempelajari sedikit tentang pohon dari buku."
Albert pun mengangguk anggukkan kepalanya percaya dengan ucapan Camell membuat wanita itu tidak enak hati.
Namun raut wajah Albert tersirat kesedihan juga, "Meski sudah menanam pohon untuk sumber penghasilan masyarakat namun curah hujan disini semakin jarang. Saya tidak tahu apa yang terlewat, pikiran negatif selalu memenuhi kepala saya. Meski penelitian sudah dilaksanakan tapi proyek ini adalah praktik langsung skala besar pertama kalinya."
"Ini hanya kebetulan, kita tidak bisa mengatur cuaca." Ucap Camell. "Memang kadang kenyataan tidak sejalan dengan apa yang kita harapkan. Tapi kan kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan masalah. Jangan merasa ini tanggung jawab anda sendirian, kalau anda tidak percaya pada diri sendiri bagaimana yang lain bisa ikut percaya pada anda."
"Ini kan juga keputusan dsri pemerintahan pusat dan tuan duke." Camell tersenyum untuk menghibur Albert.
Mata Albert semakin memancar sinar kekaguman pada Camell. "Kalau begitu saya juga akan percaya pada nona!!"
__ADS_1
Meski Camell terkejut dengan reaksi Albert namun dia tertawa karena pria ini sangat lucu menurutnya, watak yang bersemangat dan heboh. "Kenapa jadi percaya pada saya?? Haha!" Mereka tertawa dan berinteraksi dengan akrab.
Aku merasa seperti mendapat penggemar.