Abandoned Flower

Abandoned Flower
Rumah yang Terbaik


__ADS_3

Sekalipun Agustin menyampaikan pesan pada Camell bahwa supir yang mengendarai mobil itu terpercaya, Camell memilih untuk meminta mobil berhenti dijarak yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sudah ditunggu oleh beberapa pelayan yang siap membawa semua barang bawaannya, Camell berlari menuju rumahnya. Dan senyumnya semakin mengembang lebar tatkala melihat Winter dan Flo yang sudah berdiri didepan pintu rumah menanti dirinya.


"Ayah!!" Camell melompat kedalam pelukan Winter dan membalas pelukan itu dengan hangat.


"Putriku, saat ayah mendengar kabar kamu sakit dari tuan Agustin hati ayah langsung merasa sakit. Tapi ternyata kamu hanya bersandiwara yah.." Winter mengusap sayang pipi Camell.


Gadis itu tertawa dan melihat Flo dan langsung berhambur kepelukan ibunya. "Ibu, aku pulang!"


"Astaga anak ini!" Fko menangkup pipi Camell dengan tatapan sayang.


"Kenapa ibu bertambah kurus?? Ibu tidak sakit kan??" Tanya Camell khawatir.


"Tentu saja karena ibu mengkhawatirkan kamu setiap hari." Flo merapikan sulur rambut Camell. "Apa kamu baik baik saja? Apa orang orang disana memperlakukanmu dengan baik?? Apa tuan duke baik kepadamu??"


"Aku selalu baik baik saja, ibu tidak perlu khawatir."


Flo melihat para pelayannya yang membantu membawakan barang bawaan Camell ada buket bunga mawar besar diantaranya. "Bunga apa itu??" Tanya Flo penasaran.


Camell menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Ah itu.. bunga pemberian dari tuan duke."


Flo mengangkat alisnya dan mengambil buket bunga itu dari tangan pelayan, setelah melihat lebih jelas Flo langsung menatap Winter. "Ini mawar Ruby yah??" Winter mengusap dagunya.


"Aku kan berpura pura sakit..." Camell tertawa pias, "Lalu tiba tiba saja dia.. yah bagaimanapun juga aku tidak bisa meninggalkan ini di Luckingham."


"Ini hadiah yang sangat indah." Flo menipiskan bibirnya, biar bagaimanapun dia pernah tinggal di Luckingham dan tahu bagaimana mawar itu di budidayakan diistana kekaisaran sebagai simbol hadiah yang berharga.


"Yah mereka cukup memperhatikan aku." Camell tersenyum manis.


Flo mengusap kepala Camell sayang, "Syukurlah kalau begitu, kalau duke itu memperlakukan kamu dengan baik. Tapi jika tidak..." Flo mendekatkan wajahnya pada wajah Camell dan menatapnya dalam. "Tendang saja dia!"


Hah?!


"Ayo masuk kedalam!" Winter menggiring istri dan anaknya untuk masuk kedalam rumah. "Para pelayan sudah menyiapkan banyak makanan untukmu."

__ADS_1


Camell masih mencerna ucapan ibunya yang membuatnya shock dan mengikuti ayahnya masuk kedalam rumah.


Aku pernah mendengar cerita dari paman Ethan kalau sejak muda ibu mempunyai tabiat yang tidak biasa. Karena wajah ibu sangat cantik maka banyak pria yang mengejar ibu, meski katanya yang dimata ibu hanya melihat ayah tapi memang banyak pria yang mengincar kecantikan ibu. Dan ibu tidak segan segan menendang para pria pengganggu yang hidung belang.


Camell menatap ibunya yang duduk dengan anggun sambil minum teh.


Menurutku diantara banyak bangsawan di istana, sikap anggun ibu lah yang terbaik. Tapi dengan penampilan anggun seperti itu masa ibu suka menendang orang?!


"Ibu, apa ayah pernah terkena tendangan maut ibu??" Bisik Camell sambil melirik ayahnya yang sibuk menginstruksikan pelayan untuk menata bunga dan banyak hadiah bawaan Camell.


"Hah? Ayahmu??" Flo tersenyum tipis. "Ibu tidak akan pernah bisa menendang ayahmu."


"Hah? Kenapa??" Camell malah bertanya konyol.


"Yah apa lagi, dengan wajah setampan itu apa bisa dia ditendang?" Flo menyeruput teh nya dan tersenyum membuat Camell merasa aneh namun juga membetulkan perkataan ibunya. Bahkan diumur sematang ini Winter masih saja terlihat menawan.


Benar juga yah dengan tampang begitu masa mau ditendang??


Camell menahan tawa bersama ibunya lalu mereka terkekeh bersamaan.


"Ra.ha.si.a!" Flo mengedipkan matanya pada Camell dan membuat Winter berpura pura sebal lalu menggoda istrinya itu.


Mereka tertawa dan bercerita banyak hal termasuk soal Galant yang belum bisa pulang karena belum masuk masa liburan di akademi.


Rumah sendiri memang yang terbaik!!! Camell merasa sangat bahagia.


****


Esok paginya Camell bangun lebih siang dari biasanya, bangun dikamarnya seorang diri tanpa pusing dengan banyaknya pelayan yang hilir mudik. Memilih bajunya yang nyaman sendiri, mandi sendiri dan berias sendiri. Sarapan yang menyenangkan dengan ibu dan ayahnya.


Duduk berselonjor tanpa harus memusingkan etika bangsawan,


Rumah itu memang terbaik!!! Aku senang sekali bisa sebebas ini!!

__ADS_1


Saat siang hari Camell menemui Winter diruang kerjanya, "Ayah?" Camell membuka pintu setelah mengetuknya terlebih dahulu. "Aku masuk yah."


Winter mengadahkan kepalanya yang sedang membaca laporan keuangan semua bisnisnya, "Camell, masuklah!"


"Apa ayah sedang sibuk??" Camell duduk dibangku berhadapan dengan Winter.


"Tidak, hanya memeriksa laporan keuangan secara berkala." Winter tersenyum dan menatap putrinya. "Ada yang ingin kamu bicarakan??"


Ugh, ayah memang peka!


Camell tersenyum tipis dan menatap Winter. "Ayah, bagaimana jika aku menajdi duchess??"


Winter menaikkan alisnya dan menatap Camell serius, "Apa kamu berunah pikiran?? Atau kamu... jatuh cinta pada duke yang kabarnya memang tampan itu????!" Wajah Winter terlihat tidak senang.


"Bukan!!" Bantah Camell cepat, "Tidak ayah, bukan itu!" Camell menatap Winter yakin. "Bukan urusan percintaan, tapi.. setelah belajar banyak hal aku sangat tertarik dengan kondisi ekonomi rakyat."


Winter terdiam sebentar. "Apa benar kamu yang menyarankan tuan duke untuk membantu perekonomian wilayah bagian barat??"


"Hah?? Bagaimana ayah tahu??" Camell terkejut.


"Melihat reaksimu tampaknya itu benar." Winter mengusap kepala Camell. "Ayah mengetahuinya dari tuan Agustin. Tuan duke memujimu diruang rapat yang dihadiri oleh banyak bangsawan penting, itu seperti menunjukkan kalau duke mengakuimu. Ayah juga pernah mendengar kalau duke tidak pernah mau mendengar orang yang berbeda pendapat dengannya, betapa pamanmu Ethan sangat kesulitan menghadapi sikapnya. Apa mungkin seorang pria yang keras kepala itu bisa berubah??"


"Berubah???"


"Berubah mungkin karena kamu." Winter tersenyum.


"Ayah berlebihan!" Camell mendengus. "Awalnya aku juga tidak senang dengan perilaku sombongnya, namun..." Camell tersenyum lembut. "Kini dia memperlakukanku dengan baik."


"Ayah tidak berlebihan, lihatlah dirimu anakku sayang. Cantik, cerdas dan juga tegas. Wajar sekali jika pria itu tunduk pada dirimu yang bijaksana." Winter tertawa dan mengecup punggung tangan Camell sayang. "Tapi ingatlah tertarik dengan politik negara bukan berarti kamu harus menjadi duchess. Ada banyak cara kamu mengabdi untuk masyarakat, yang terpenting dari semua itu adalah.. kebahagiaanmu putriku."


"Baik ayah." Camell tersenyum.


"Ah satu lagi, jika mengingat apa yang tuan agustin ceritakan pada ayah mengenai kondisi istana. Ada keluarga bangsawan Bourbon yang menjadi faksi pendukung duke terkuat dan mengajukan putrinya sebagai calon duchess. Kamu harus berhati hati meskipun pamanmu berniat menjadikan kamu satu satunya duchess. Akan ada banyak pihak yang menentang ini dan memanfaatkan situasi."

__ADS_1


Tepat setelah Winter selesai bicara telepon berbunyi, asistennya memberitahu bahwa banyak pekerjaan yang Winter harus lakukan membuat prianitu bersedih tidak bisa menemani putrinya lebih lama.


"Hahaha! Ayah bekerja saja tidak apa apa. Aku kan masih beberapa hari disini." Camell mengecup sayang pipi ayahnya dan pamit keluar ruang kerja Winter meninggalkan pria yang sedih itu sendiri untuk kembali bekerja.


__ADS_2