
Flo meremas erat selimut ketika bibir Winter menelusuri seluruh tubuhnya, wanita itu juga sekuat tenaga menahan lenguhan yang bisa saja keluar dari bibirnya. Dia tidak menduga bahwa malam ini Winter menjadi sedikit berbeda mungkinjuga karena alkohol, kemarin pria itu melakukannya dengan lembut namun kali ini sangat berbeda. Tidak kasar namun juga tidak selembut kemarin, sedikit menuntut dan posesif.
"Akh!" Flo tidak bisa menahan saat Winter memberi gigitan kecil pada bagian yang sensitif dan menciuminya sedikit serampangan.
"Win.. Winter.. kenapa tergesa seperti ini...?" Flo menahan bahu Winter.
"Haaah!" Nafas Winter terengah dan menyandarkan kepalanya pada pundak Flo, "Aku rasanya bisa gila! Kamu.. milikku kan Flo? Kamu milikku kan?"
Flo tersenyum tipis, dia tahu Winter memanglah pria dominan sedari dulu. Dalam bekerja, dalam memimpin dan memberi perintah. Namun dia juga tidak menduga bahwa pria itu bisa bersikap dominan dalam hal ini. Flo menangkup pipi Winter dan menatap dalam manik mata pria itu. "Iya aku milikmu. Hidup dan meski matipun aku adalah milikmu, milik Winter satu satunya."
Winter membawa tangan Flo pada bibirnya dan menciumnya, hawa panas itu menjalar dari jemari Flo hingga ke jantungnya membuat detaknya berpacu lebih cepat dari biasanya. "Lepaskan!" Pria itu kemudian meletakkan tangan Flo pada kancing kemejanya dan meminta Flo untuk membuka kemeja yang dia kenakan.
Dengan pipi yang merona Flo membuka satu persatu kancing kemeja Winter.
"Angkat tanganmu." Pinta Winter. Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan memudahkan Winter melepaskan gaun tidurnya.
"Aku mencintaimu, Flower... aku mencintaimu..." Malam itu entah berapa kali Winter mengucapkan kalimat cinta, maaf dan terimakasih pada Flower.
__ADS_1
****
"Jadi nyonya akan berangkat besok??" Altez dan Flo berjalan jalan didekat pasar untuk membeli beberapa barang kebutuhan untuk Flo.
"Iya. Aku dan Winter akan pergi menemui ayah." Flo tersenyum tipis. "Paman Michael, ayah mertua, paman Michael dan menjadi ayah mertua lagi." Wanita itu terkekeh. "Aku akan pergi dan menetap di kota xxx bersama Winter dan ayah."
Altez menunduk sambil menghela nafas. "Setelah 5 tahun tidak bertemu, lalu bertemu dan kini akan berpisah lagi. Bolehkan nyonya malam ini tidur bersama saya??"
..
"Tidak boleh!!" Sore itu juga Flo langsung meminta ijin pada Winter dan dijawab penolakan tegas dari pria itu.
Winter memasang wajah masam. "Aku tidak ingin berjauhan denganmu meski hanya sedetikpun..."
Flo menipiskan bibirnya, memang benar sejak dia kembali bersama Winter, pria itu menempel seperti lem pada dirinya. Kemanapun Flo pergi pasti Winter akan mengikutinya dibelakang, yah walaupun pada akhirnya dengan segala usaha dia bisa pergi kepasar tadi pagi berdua dengan Altez. "Altez seperti keluarga bagiku, seperti Winter yang telah menyelesaikan semua urusan dan bersamaku disini. Aku juga ingin menyekesaikan urusanku, aku mohon. Biarkan aku pergi denganmu besok tanpa ada rasa penyesalan."
Winter terdiam sebentar dan menghela nafasnya. "Baiklah, mungkin ini alasan aku sangat tertarik padamu sejak awal dan memaafkan semuanya. Karena aku dan kamu sangat mirip.. kita seperti satu tubuh, aku dan kamu. Karena itu setiap kali meski aku berusaha untuk membuangmu, mengabaikan dan membencimu.. aku tetap tidak bisa. Ternyata itu yah alasannya.." Winter membelai sayang pipi Flo.
__ADS_1
****
Flo dan Altez malam itu akan bermalam dirumah dekat pasar yang menjadi kediaman Flo dulu. Semenjak Flo memutuskan untuk Altez tidak bekerja lagi dengannya dan hidup dengan bebas, Altez memilih untuk tinggal dirumah ini sendiri. Sedangkan untuk ketiga pekayan Winter yang juga mengetahui hal ini bekerja dikediaman pribadi agustin.
"Masuk ayo.." Altez merangkul lengan Flo dan membawa wanita itu masuk. "Aku sudah menyalakan penghangat, di dalam sudah cukup hangat."
"Sudah lama sekali rasanya tidak melihat rumah ini hidup..." Flo tersenyum melihat kesekitar dan rumah itu Altez tata masih seperti dulu.
Mereka berdua masuk dan duduk, Altez menyajikan teh hangat untuk menemani mereka mengobrol.
"Jika hati dan pikiran nyonya sudah tenang, saya akan menceritalan sedikit tentang masa lalu nyonya yang saya ketahui. Nyonya tahu kan bahwa ibu saya adalah pelayan pribadi mendiang ibu tuan Winter? Alasan nyonya dibawa masuk ke Luckingham, membuat mendiang ibu Winter menderita."
"Ibu saya mengabdi pada nyonya Eliz sepenuh hati, namun begitu anda masuk kedalam Luckingham dibawa oleh tuan Michael saya malah diperintahkan untuk menjadi pelayan anda. Saat itu kita masih sama sama kecil, saya tidak mengerti apa yang orang orang benci dari anda. Sampai saya mendengar semua pembicaraan ibu dengan mendiang nyonya Eliz."
"Nyonya Flo, anda lahir dari dua orang yang saling mencintai. Kehadiran tuan Michael memang sempat membuat renggang mendiang orang tua nyonya, meskipun ibu nyonya mencintai suaminya sepenuh hati namun ayah nyonya hidup dalam keresahan akan ketakutan dihianati dan membuat ibu nyonya menderita hingga sakit sakitan."
"Nyonya Eliz hanya tidak bisa menerima kehadiran nyonya saat dulu, namun nyonya berhak untuk bahagia. Maaf aku tidak pernah menceritakan ini pada nyonya. Sekarang nyonya hiduplah dengan bahagia." Altez menangis dan bersimpuh dalam pangkuan Flo. "Nyonya bukanlah anak dari wanita yang menghancurkan pernikahan orang lain. Ibu nyonya adalah wanita yang baik. Maafkan saya tidak pernah menceritakan ini dan membuat nyonya menderita dalam kebencian orang orang."
__ADS_1
Air mata Flo menetes, ingatan tentang ibunya selalu samar. Ibu yang membuangnya, ayah yang bersikap dingin. Flo selalu mengira dirinya tidak pernah dicintai, tidak diajarkan untuk mencintai dengan kasih sayang. Dia selalu merasa tidak pantas bahagia karena sudah membuat mendiang ibu Winter menderita. Flo membelai kepala Altez. "Al.. mulai saat ini kita berdua harus hidup bahagia, mari kita hidup bahagia baik aku maupun kamu. Mulai saat ini aku akan hidup berbahagia dan menjalaninya dengan sangat bahagia. Kita berdua harus menjalani hidup yang bahagia selamanya."
Altez memeluk erat Flo dan terus menangis membuat Flo juga tidak bisa menahan air matanya. Mereka berdua menghabiskan malam itu dengan tekad yang baru untuk berbahagia.