Abandoned Flower

Abandoned Flower
Menebak Pikiran


__ADS_3

Sudah 3 hari semenjak kejadian tak mengenakkan bagi Camell di pesta itu, namun sekarang lagi lagi dia harus menghela nafas sabar. 3 hari ini dia tidak diberikan materi apapun untuk belajar mengenai politik maupun ekonomi, dan kemarin saat dia hendak menemui paman Ethan dan bibi Ester,  Lisa dan Maya memberitahu bahwa mereka sedang berlibur ke daerah utara semenjak dua hari yang lalu.


Paman Ethan sepertinya benar benar menikmati masa masa pensiunnya bersama bibi yah!


Camell berpikir keras bagaimana caranya agar dia bisa terbebas dsri situasi canggung ini, dan dia tahu pasti akar masalah dari semua ini adalah pria yang tidak tahu etika itu. Siapa lagi kalau bukan Lloyd!


Jika aku meminta bantuan tuan Agustin pasti akan mudah, tapi terlalu sungkan hanya untuk mengurusi hal sepele seperti ini dan aku yakin paman dan bibi pasti sudah memberi wejangan pada duke sombong itu dan pasti dia mengabaikannya.


Kalau begini yang tersisa hanya jalan itu..!


"Maya, Lisa. Bisakah kalian membantuku??" Camell memanggil kedua pelayannya yang selalu bersiaga di depan kamarnya.


"Ya, nona Camellia. Ada yang bisa kami bantu??" Lisa dan Maya sudah berjejer diruang tamu kamar Camell.


Camell sedikit tersikap karena Maya dan Lisa begitu cepat datang saat dia memanggilnya. "Ah begini, aku berniat untuk bertemu dengan nona dari Marquis Bourbon, nona Cyness. Karena sejak kedatanganku kesini, aku belum berbicara dengannya secara langsung. Bisakah kalian memberitahu dimana dia tinggal??"


"Kamar nona Bourbon juga berada dikediaman utama ini nona." Lisa menjawab.


"Oh yah??" Camell sedikit terkejut pasalnya dia memang belum bertemu Cyness sejak pesta penyambutan itu.


"Iya. Tidak jauh dari kamar nona Camell." Maya berdehem singkat dan tersenyum tipis. "Kamar nona Camell merupakan kamar terbesar disini dan kamar paling mewah setelah kamar tuan duke."


Camell tersenyum canggung mendengar penuturan Maya, "Haha haha kalian bisa saja, mana mungkin tuan duke tidak memberikan kamar terbaik pada nona Cyness."


Maya dan Lisa saling tukar pandang, "Ini titah tuan duke terdahulu, tuan Ethan dan nyonya Ester."


"Ooh." Camell tidak heran. "Baiklah bisa antarkan aku menemui nona Cyness?"


"Mari nona." Lisa dan Maya bersiap menunjukkan jalan.


Mereka berjalan beriringan, sejak pindah kesini Camell belum sempat melihat lihat kediaman utama. Dia hanya diajak oleh Utha untuk berkeliling Luckingham dari bagian depan kediaman. "Ini kamar nona Bourbon." Lisa berhenti dan Maya langsung mengetuk pintu.


Ada 2 pelayan juga yang berada disana, mereka langsung memberi hormat pada Camell dengan formal. "Selamat siang nona Camellia."


"Iya. Aku ingin bertemu dengan nona Cyness." Camell tersenyum.

__ADS_1


Kedua pelayan itu saling tukar pandang dan segera menjawab. "Nona Cyness sedang tidak ada dikamar."


"Duh. Baiklah." Camell tersenyum. "Nanti aku akan kembali lagi."


Maya dan Lisa berjalan bersama Camell, "Nona, bagaimana kalau nona berjalan jalan ditaman saja untuk menyegarkan pikiran?" Usul Maya.


Camell terdiam sebentar, yah memang dia butuh sesuatu untuk menyegarkan pikiran.  "Baiklah."


Maya dan Lisa menemani Camell untuk melihat taman, ini masih siang namun udara sejuk memasuki musim semi sudah mulai terasa jadi cuaca tidak terlalu panas.


Camell tersenyum lebar ketika mereka sampai ditaman, benar dugaannya harusnya memang dia keluar kamar saja. Bunga bunga indah yang dihias oleh tukang kebun membuat hatinya bahagia.


Berbagai jenis bunga ada disana dan semerbak wangi segarnya berbaur menjadi satu membuat siapapun yang berada disana pasti senang.


"Istana bunga memang dikenal dengan tamannya yang indah." Maya memberi info pada Camell.


"Istana bunga???" Camell membelakkan matanya,


Kemarin Utha tidak menyebutkan perihal taman istana bunga karena kami banyak mengobrol soal akademi.


Camell memandang dengan perasaan campur aduk sebuah kediaman yang sudah tua namun tetap terawat, pintu kayu yang besar dan tebal selalu dalam keadaan tertutup.


"Kediaman itu selalu tertutup." Kata Maya. "Dengar dengar itu istana milik duchess dari dua generasi tuan duke terdahulu." Tambah Maya.


Camell hanya tersenyum melihat kediaman itu,


Disana yah ibu tinggal dan tumbuh dewasa..?


"Namun sejak pemerintahan tuan duke terdahulu, tuan Ethan. Sistem selir sudah tidak berlaku lagi, makanya ada banyak calon duchess dan hanya akan ada 1 yang dipilih." Ucap Lisa.


Lisa terus saja bercerita sampai Maya mendekat kearah Camell. "Nona Camell, lihat itu." Maya berbisik rendah.


Camell menoleh kearah yang Maya tunjukkan dan melihat Lloyd dan Cyness sedang berjalan bersama menuju taman bunga.


Aduh.. kenapa harus berpas pas an dengan suasana yang seperti ini?? Meski merasa gak nyaman tapi Camell harus menjalankan rencananya.

__ADS_1


Baiklah.. aku tidak boleh menyia nyiakan kesempatan!


Camell berjalan menuju kearah Lloyd juga Cyness.


"Saya memberi salam pada tuan grand duke." Camell membungkukkan badannya formal.


Lloyd hanya melirik lalu mengangguk kecil.


Camell tersenyum kaku dan sebal.


Pria ini... memangnya bisa mati kalau menjawab sedikit yah?!! Apa ruginya menjawabku sih?!


Cyness melihat situasi canggung ini dan tersenyum. "Halo nona Camellia, kita belum berjumpa lagi sejak pesta kemarin itu yah." Cyness tersenyum hangat.


Nah kan.. nona Cyness memang ramah.


"Iya akhirnya kita berjumpa lagi!" Camell juga membalas senyuman Cyness dengan ramah.


Cyness menaikkan alisnya, "Nanti kita akan sering bertemu untuk bekerja sama, bagaimana kalau besok kita minum teh bersama??"


"Iya karena kita sekarang tinggal ditempat yang sama. Baiklah nona Cyness aku senang sekali dengan undangan minum teh nya, sampai jumpa besok." Camell menjawab antusias. "Kalau begitu, saya pamit undur diri dulu tuan duke, nona Cyness." Camell menunduk kecil dan berlalu dari sana.


Setelah Camell sedikit menjauh dari pandangan mereka, Cyness merangkul tangan Lloyd. "Bagaimana?? Sepertinya dia berbeda yah..?"


Lloyd hanya diam tidak menanggapi pertanyaan Cyness.


Camell berjalan menjauh dari Lloyd dan Cyness, sangat tidak nyaman baginya berdekatan dengan Lloyd.


Kenapa sih tuan duke menatap aku seperti itu?! Tatapannya serasa bisa menembus kepalaku! Dasar psikopat!


"Nona? Bukankah nona bilang ingin bertemy nona Bourbon?" Maya berusaha mengimbangi langkah Camell.


"Nanti saja." Camell melirik kearah Lloyd dan pria itu masih menatap kearahnya tajam.


Aku tidak bisa menebak pikiran orang yang menyebalkan itu!!

__ADS_1


__ADS_2