
Harusnya rencana kami berjalan sukses, meski aku merasa berlebihan tadi saat bergosip dengan tuan Devras namun itu semua kan hanya akting. Albert juga sudah merusak mesin pendeteksi logam itu, pasti sementara Devras sibuk memperbaikinya sampai tidak sadar catatan transaksinya tidak ada selama beberapa waktu. Tapi... kenapa dia murung begitu??
Camell hanya bisa mengerut sebal dengan perlakuan Lloyd yang aneh padanya, pria itu benar benar diam sampai mereka tiba dipenginapan. Begitu sampai Lloyd langsung sibuk memberi perintah pada pengawal agar memberi makan dan pengobatan pada budak yang diantar tadi.
"Kondisi mereka tidak baik, beri makan lalu panggil dokter untuk mengobati mereka." Titah Lloyd.
"Baik tuan duke."
"Mereka akan diapakan??" Camell bertanya pada Lloyd ketika para pengawal sudah membawa pergi semua budak itu.
"Kita tidak bisa melepas begitu saja karena mereka juga bersalah dengan menyerahkan diri." Ucap Lloyd datar. "Kamu mau melepaskan mereka?? Kita lakukan saja apa yang kamu mau."
Camell tersenyum menatap Lloyd. Dasar!! Dia berbicara seperti ini dengan muka yang ditekuk begitu!
"Aku merasa kita perlu memberikan hukuman untuk mereka. Bagaimana kalau kerja rodi??"
__ADS_1
"Aku setuju dengan itu." Lloyd masih berkata dengan wajah datarnya. "Mendekam dipenjara tidak akan membuat efek apa apa dan jera bagi mereka. Tapi kalau kerja rodi setidaknya mereka masih berguna untuk usaha cocok tanam."
"Itu sangat dermawan dan tegas. Tuan duke sangat cerdas yah." Camell masih tersenyum menatap Lloyd.
Lucunya Lloyd hanya berdehem singkat, tidak menjawab Camell dan berlalu masuk kedalam penginapan.
Apa apaan itu?! Aku kan sedang memuji dia.. sebenarnya dia kenapa sih?? Padahal sampai dengan tadi dia biasa biasa aja tuh. Jelas jelas sebelum aku keluar dari ruang sebelah dengan Devras dia...
Camell seakan menyadari sesuatu. Hah??! Jangan jangan dia mendengar percakapan aku dengan Devras?! Padahal dinding itu kan tidak begitu tipis juga.. aku memang berakting menghina tuan duke saat itu... tanpa sadar aku mengatainya im.po.ten. kalau dia dengar pantas saja dia marah kan?? Dia benar benar dengar pembicaraan itu tidak sih..??
Camell masuk kedalam penginapan dengan tergesa, saat ini hanya Albert yang ada dalam pikirannya. Sedangkan Albert sedang fokus dalam ruangan disebelah kamar untuk memecahkan kode sandi buku transaksi itu.
"Akkh! A.. ada apa??" Tanya Albert dengan canggung setelah berteriak cukup keras.
"Maaf aku mengganggu anda yah??"
__ADS_1
"Tidak nona, hanya saja buku ini dilindungi kode yang cukup rumit. Saya hanya khawatir jika sembarang membukanya malah merusak isinya. Hanya butuh waktu sedikit lebih lama, ngomong ngomong ada keperluan apa nona datang kesini." Albert bangkit berdiri.
"Oh.. begini, apakah saat tadi saya berbicara dengan Devras diluar kantor anda memakai alat bantu pelacak atau penyadap dan sejenisnya??" Camell bertanya dengan sedikit ragu.
"Hah?? Apakah alat itu diperlukan???" Tanya Albert terkejut. "Ja.. jangan jangan tadi alat itu dibutuhkan yah?!!"
"Tidak! Tidak, tidak kok!" Jawab Camell. "Saya hanya sedikit penasaran saja."
Albert terdiam menatap Camell. "Ngomong ngomong jika nona membutuhkan alat sadap tadi untuk merekam pembicaraan nona dengan Devras, nona bisa meminta yang mulia duke sebagai saksi."
"Hah???" Camell terkejut.
"Yang mulia mempunya karunia spesial yang disebut 'karunia Rwendana' sejak lahir. Kalau beliau berkonsentrasi dia bahkan bisa mendengar dari balik tembok."
"Karunia Rwendana????" Camell serasa membaca buku legenda. "La.. lalu apa efek dari kemampuan itu??"
__ADS_1
"Fisik yang kuat, alat indra yang sangat sensitif dan kuat dalam menangkap rangsangan. Karena itu indra yang mulia duke sangat sensi.. no.. nona???! Kenapa anda jadi pucat begitu???!" Albert terkejut melihat reaksi Camell yang shock.
Ja.. jaadi dia mendengar semuanya??? Sekarang aku yakin, sifat dan perbuatannya dari tadi.. aku mengatainya im.po.ten makanya dia jadi kesal begitu!! Bagaimana ini?!!!