Abandoned Flower

Abandoned Flower
Dia Membuang Diriku


__ADS_3

Winter menahan semua gejolak dihatinya saat mendengar perkataan Altez namun dia tetap menunjukkan wajah yang tenang.


"Jadi.. katakan dengan jelas apa yang kamu mau??"


Dengan mata berkaca kaca Altez menatap Winter, "Biarlan saya disini dan menjaga istana bunga milik nyonya!" Lantang Altez. Tetap berada di kediaman Flo adalah cara terbaik bagi Altez untuk tetap menjaga keberadaan Flo disini karena dia masih yakin dan percaya bahwa Flo akan kembali menginjakkan kaki di Luckingham.


"Untuk apa kamu menunggu orang yang tidak akan pernah kembali??" Pandangan mata Winter datar dan menerawang. "Bunga yang sudah jatuh ke tanah itu sekalipun kamu mengasihaninya.. memang apa gunanya??"


Malam itu Leana yang kebetulan ingin kembali ke kediaman utama sehabis melakukan jalan jalan malam bersama Summer melihat kelakuan Altez yang menahan Winter disana dan merasa geram. "Kalian!!! Apa yang kalian lakukan?! Mengapa membiarkan seorang pelayan rendahan seperti itu berani menahan Winter?! Cepat singkirkan dia, bisa bisanya budak hina seperti itu berhadapan langsung dengan Winter!!"


Winter menghela nafas panjang dan menatap Leana, "Sudahlah, tante. Jika memang ada seseorang yang harus tetap mengurus istana itu, bukan hal yang buruk juga jika kamu tetap tinggal dan membersihkan istana itu."


Altez yang mendengar ucapan Winter menaikkan kedua alisnya seakan mendapat secercah harapan.


"Winter?!" Leana jelas tidak suka akan hal ini, dia benar benar bermaksud untuk menyingkirkan keberadaan Flo dalam Luckingham. Dan jika keadaan sudah kondusif malah dia berencana untuk meratakan istana Flo dan membangun kembali untuk kediaman Summer.


"Terimakasih untuk pengertian tuan Winter." Altez yang memahami niat jahat Leana segera undur diri sebelum Leana mengeluarkan kalimat lainnya yang bisa menggoyahkan Winter. "Saya pamit undur diri."


Setelah Altez pergi Winter kembali menatap Leana. "Tante, angin malam sangat dingin. Kembalilah masuk, jika tidak kesehatanmu bisa semakin memburuk."


Leana menghela nafas panjang untuk kali ini dia akan mengalah, "Baiklah. Ayo kembali Summer."


Winter menatap kepergian Leana dan Summer, yang sebelumnya mata mereka bersibobrok dan Summer hanya menganggukkan kepalanya tipis menyapa Winter.


Ini aneh... sejak keberadaanmu tidak ada lagi di Luckingham. Tidak ada lagi airmata di pipi nona Summer, tidak ada lagi bekas luka dan tamparan. Luckingham sering terdengar tawa dan nyanyian bahagia. Namun.. kenapa aku begitu asing dengan ini semua? Kenapa Flo..


****


"Syukurlah kalau Altez masih bisa bertahan di istana bunga. Setidaknya ada Altez disana masih ada kemungkinan kita bisa membawa nyonya kembali ke Luckingham." Gloria membawa tas nya berjalan bersama sama dengan Nora dan Gemma.


"Memang betul." Nora menimpali, "Namun sekarang kemana kita harus mencari nyonya??" Nora mulai kebingungan.


Gemma yang diam sedari tadi akhirnya menarik Gloria dan Nora ketempat yang agak sepi. "Kita harus kesini!!" Gemma mengeluarkan secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat.


"Rumah siapa ini??" Nora dan Gloria melihat dengan bingung.


Gemma memasang wajah khawatir dan melihat kesekitar memastikan mereka aman. "Aduh, ini mempertaruhkan nyawaku!" Gusar Gemma. "Ini alamat dimana nyonya berada, tuan Ethan yang menyelamatkan nyonya. Dan aku mendapat alamat ini dari seorang payan yang diutus oleh tuan Ethan tepat tadi sebelum kita pergi. Altez juga mengetahui hal ini, sekarang lebih baik kita berhati hati jika menuju kesana. Aku takut ada mata mata yang memberi informasi ini pada tuan Winter, maka nyawa kita semua akan terancam." Gemma berkata dengan suara rendah.


"Ini gila ini gila!!" Seru Nora dengan suara yang rendah juga. "Ini seperti misi rahasia, kita harus bertindak ekstra hati hati!" Si bungsu dari 4 pelayan malah terlihat antusias.


"Jangan gegabah!" Gloria menjitak kepala Nora. "Ayo cepat kita sekarang kesana! Agar aman cepat keluarkan topi dan scraf kalian, pakai agar tidak banyak yang bisa mengenali kita."


Tanpa banyak bicara, Gemma dan Nora juga setuju dengan ide Gloria dan langsung memakai scraf juga topi bundar mereka. Mereka bertiga langsung kembali melanjutkan perjalanan menuju alamat tertera.


Rumah sederhana bertingkat dua dipinggir kota, dengan pintu kayu yang tertutup rapat. "Benar kan yang ini??" Nora berkali kali melihat alamat tertulis, karena harus berhati hati mereka memilih untuk tidak bertanya pada orang sekitar.

__ADS_1


"Coba aku ketuk pintunya." Gloria meletakkan tas pakaiannya di tanah dan mengetuk pintu.


"Permisi!! Permisi!!"


Tak lama pintu dibuka oleh seorang pria yang terlihat seperti pengawal keamanan. "Siapa kalian?!" Tanyanya galak.


"Ka.. kami pelayan nyonya dari Luckingham. Apa nyonya ada??" Ucap Gloria ragu dan berhati hati.


"Ini bukan tempat yang bisa dimasuki sembarangan!!" Pria itu menutup pintunya lagi dengan keras.


Gloria tersadar mereka tidaklah salah alamat.


'Dug Dug dug!'


"Buka pintunya, biarkan kami masuk!!" Nora dan Gemma juga memukul pintunya. Namun berapa lama mereka mencoba tetap pintu tidak dibukakan sedikitpun oleh pengawal tadi.


"Ini gila!!" Nora mengusap tangannya yang perih. "Sudah jauh jauh dan bersusah payah kesinipun kita tidak bisa melihat nyonya seujung rambutpun!"


"Apa ini sia sia?!" Kesal Gloria.


"Lihat itu!!" Gemma menunjuk sebuah mobil yang familiar sedang menuju kearah mereka.


"Tuan Ethan!!" Ucap mereka bertiga lega ketika melihat Ethan yang turun dari mobil itu.


"Kalian kesini juga." Etha tersenyum dan langsung memberi perintah agar pintu dibuka.


Ethan tersenyum sedikit kecut dan berjalan masuk mendahului para pelayan. "Keadaan Flo tidak begitu baik." Begitu sudah di dalam Ethan membuka sebuah kamar utama dan membiarkan para pelayan untuk datang mengurus Flo.


"Astaga!!!" Gemma menjatuhkan tas yang dia bawa, menutup mulutnya. "Nyonya Flo?!"


Tidak berbeda dengan Gemma, Nora dan Gloria pun sama terkejutnya melihat keadaan Flo yang hanya diam diatas kasur. Duduk dengan memeluk kedua lututnya, rambut yang berantakan dan badan yang kurus.


Ethan memasang wajah murung dan sedih, "Aku tidak tau sejak kapan tepatnya, mengapa dia bisa sampai mengalami depresi berat seperti ini. Apa kalian pernah merawat Flo dalam keadaan sperti ini??"


Mereka bertiga bertukar pandang dan mengerti mungkin inilah yang Altez lakukan saat berkata merawat Flo tiap malam jika Flo sedang sakit. Mereka bertiga menggelengkan kepala sambil menahan tangis. "Kami akan mengurus dan merawat nyonya."


"Baiklah. Aku sangat meminta tolong pada kalian. Aku tidak menetap disini karena sangat berbahaya. Aku sangat mengandalkan kalian." Ethan menipiskan bibirnya dan keluar kamar.


Dengan segera Gemma memapah tubuh Flo untuk duduk di kursi, memerintahkan Gloria dan Gemma untuk membawa pakaian baru serta baskom air hangat.


"Kenapa wajah nyonya yang cantik terluka seperti ini? Tubuh juga tangan nyonya penuh dengan luka. Apa yang terjadi??" Nora terisak sambil membalut luka pada lengan Flo namun wanita itu hanya diam dengan pandangan kosong.


"Jangan menangis! Lancang sekali kamu menangisi nyonya dan mengasihaninya. Nanti nyonya akan marah!!" Gloria sekuat tenaga menahan matanya yang berkaca kaca dan mengomeli Nora.


Gemma hanya dia menahan isaknya sambil terus merapikan rambut Flo.

__ADS_1


"Winter.. membuangku.." Bisik Flo rendah.


"Apa? Nyonya bicara apa???" Gemma mendekatkan telinganya pada Flo namun dia hanya kembali mendapatkan kebisuan.


Begitu malam tiba, Gemma memapah Flo untuk berbaring dikasur. Menyelimuti Flo dengan nyaman, "Nyonya, tidurlah. Istirahatlah dengan nyaman dan tenang. Kami akan berjaga disini."


Tak lama kemudian seorang pelayan wanita paruh baya masuk ke kamar Flo, "Permisi, aku harus mengikat nyonya." Pelayan itu membawa seutas tali dengan serat rami yang tebal.


"Hah?! Apa yang mau anda lakukan?!" Gemma menghadang pelayan tua itu, dia terkejut bukan main melihat wanita itu benar benar berancang untuk mengikat kaki dan tangan Flo.


"Yah ampun!" Wanita itu tersentak karena Nora dan Gloria juga ikut mendorongnya, "Aku sudah sebulan melakukan hal ini, kaki tangannya memang harus diikat kalau malam!"


"Apa anda gila!!! Beliau adalah duchess! Mengapa bisa diperlakukan seperti binatang disini?!" Gemma tidak bisa menahan tangisnya karena rasa marah berkecamuk dalam dadanya.


"Singkirkan benda ini sekarang juga!!" Gloria menarik tali itu. "Anda tidak tau siapa beliau, hah?!"


Pelayan paruh baya itu mengernyit kesal, "Apa kalian pikir aku senang melakukan hal ini?? Minggir kalian!"


"Jangan berani anda maju dan menyentuh nyonya!!" Nora menghalangi. "Kalau anda maju kami tidak akan tinggal diam!"


"Apa masuk akal mengikat manusia seperti hewan?! Benar benar keji!" Gemma terisak. "Keluar!! Kami akan menjaga nyonya!!"


Pelayan tua itu menghela nafas kasar dan keluar dari kamar Flo karena tidak ingin berdebat lebih jauh lagi. "Dasar sinting!!" Desahnya kesal.


Hampir sepanjang malam ketiga pelayan ini menangisi Flo dan memaki kesal. "Hiks! Dasar keterlaluan!!" Maki Gloria kesal.


"Sudah jangan menangis lagi, kita tidak boleh kelelahan dan terap harus terjaga untuk menjaga nyonya." Gemma menenangkan Gloria dan Nora.


Namun malam semakin larut dan rasa kantuk menghampiri mereka bertiga hingga mereka tertidur lelap saling berpelukan dibawah kasur Flo.


Suara suara aneh terdengar membuat Gemma terbangun, dalam remang cahaya kamar dia melihat sosok wanita berdiri dan mencakar cakar seluruh tubuhnya. Gemma membuka matanya dengan sempurna dan berteriak karena terkejut.


"Kyaaaaaaaaa!!!!" Teriakan Gemma juga membangunkan Nora dan Gloria.


Mereka tidak semakin terkejut begitu lampu dinyalakan dan melihat pemandangan mengerikan.


Flo terus menerus mencakar wajah juga bagian tubuh hingga lengannya, menjambak rambutnya sendiri sambil menggumam gumam pelan.


"Dia membuangku."


"Dia membuang diriku, dia membenci diriku."


"Nyonya!!! Hentikan!!" Gemma dan Gloria menahan tangan Flo dan menangis menjerit pilu.


"Nyonya Flo!!" Nora menangis memeluk Flo agar menahan Flo menyakiti dirinya.

__ADS_1


"Lepaskan aku! Dia juga benci wajah ini, juga membenci tubuh ini. Lebih baik semua aku hancurkan saja." Flo menatap kosong sambil terus berupaya menyakiti tubuhnya sendiri.


__ADS_2