Abandoned Flower

Abandoned Flower
Bunga


__ADS_3

Dedikasi Dylan dalam mengurus keperluan Winter patut diacungi jempol, tidak salah juga jika pria itu meminta kenaikan gaji atau pangkat saat ini. Bahkan Dylan membantu Winter dalam membersihkan dirinya dan membereskan penampilan pria itu, karena sejak tadi Winter hanya diam seperti tubuh yang tak bernyawa. Setelah selesai berpakaian dengan benar barulah Dylan mengajak Winter kekuar karena Michael sudah menunggunya.


Setelah kemarahannya sedikit tenang barulah Michael bisa berbicara dengan Winter, mereka duduk berhadapan diruang tamu dengan sajian teh panas diatas meja. Winter hanya diam membisu dengan tatapan kosong membuat Michael menghela nafas panjang. "Sangat disayangkan, sungguh sangat disayangkan. Sifatmu yang sedingin es, dan sifatnya yang seperti api itu. Sedari dia kecil aku sangat memanjakannya bahkan melebihi dirimu yang merupakan anak kandungku sendiri. Bagaimanapun juga aku hanya berusaha agar kamu lebih kuat, lebih teguh dari pada gunung besar. Sedari itu aku mengabaikanmu dari kecil karena kamu adalah penerusku dan harapan banyak orang. Sebenarnya aku sudah khawatir kalau kalian tidak berjodoh seperti ini, kalau dia akan hancur ditanganmu yang membenciku. Tapi aku tidak menyangka kalau dia akan pergi secepat ini..."


"Dia belum mati!!!" Teriak Winter. "Flo... belum mati!!" Tangan Winter mengepal erat dan begertar menahan amarahnya.


"Kamu ini...!" Michael pun kembali menjadi marah dan menunjuk wajah Winter, "Kenapa kamu masih terus menyangkalnya??? Kenapa kamu jadi bodoh seperti ini?!" Michael berdiri dan menarik nafas, "Alasan aku sampai datang kesini adalah untuk meminta 1 hal padamu, kembalikan nama baiknya! Kembalikan nama baiknya yang telah kamu jatuhkan itu! Meski dalam catatan sejarah tidak pernah ada pengembalian gelar bangsawan yang telah dicabut, tapi dia pantas mendapatkan itu!" Michael berjalan menuju pintu keluar dan berhenti sesaat. "Soal pernikahanmu, lakukan dengan baik tanpa membuat keributan lagi! Masyarakat pasti sedang resah karena rumor buruk banyak tersebar..."


"Aku akan mencarinya..." Potong Winter. "Aku akan mencarinya dan membawanya kesini..."


Michael tidak sanggup melanjutkan kalimatnya mendengar ucapan Winter. Pria tua itu berdecak kesal dan keluar dari kediaman Winter.


Micharl tidak datang sendirian tentu saja, Ethan yang menjadi keponakan dan orang kepercayaannya selalu menemaninya. Michael terus berjalan, dia akan segera meninggalkan Luckingham, "Kalau dia begitu menyayangi Flo kenapa dia harus mengusirnya dengan begitu kejam?!" Kesal Michael. Lalu pria tua itu menatap langit dengan sendu, "Aku... minta maaf padamu Sera, minta maaf padamu dan suamimu. Aku tidak bisa menjaga putri kalian dengan baik, banyak dosa yang telah aku perbuat." Michael mengusap sudut matanya yang basah. "Maafkan aku.."


Sementara itu dipuncak gunung Dalkota, seorang pria kisaran 35 tahun baru saja memetik daun daun obat. Hari sudah memasuki senja, "Yah ampun, burung burung gagak itu berisik sekali!" Pria itu memasukan daun obat obatan kedalam kantung kulit yang dia kenakan sebagai tas. "Aku harus segera pulang, atau tidak Hally pasti kebingungan jika dirumah sendiri."


Saat hendak berjalan pulang pria itu mendengar suara dan langsung bersembunyi dibalik pohon untuj mencuri dengar.

__ADS_1


Michael dan Ethan yang sedang berjalan untuk kembali pulang ke gunung Elweiz berjalan kaki untuk mencapai kaki gunung dan baru akan menyewa tandu kembali disana.


"Flo sangat mirip dengan ibunya. Tidak pandai mengekspresikan perasaan, juga tidak mengenal kata mundur meskipun jalan yang dia tempu salah." Michael terdiam sebentar dan suaranya mulai serak. "Harusnya.. harusnya aku memeluk hangat dia lebih lama lagi.. bukankah itu yang benar benar diinginkan olehnya..?"


Ethan diam mendengar perkataan Michael kemudian dia menjawabnya pelan namun masih jelas terdengar. "Iya.." Suara Ethan tersendat dan air matanya mengalir. "Karena Flo hanya mengharapkan satu hal itu saja dalam hidupnya, tapi bahkan sampai di akhir hidupnya dia tidak mendapatkan hal itu." Ethan menagis tanpa terisak namun air matanya terus mengalir tanpa dia seka.


Ethan mengantarkan Michael sampai menyebrangi jalur gunung Elweiz dan setelah memastikan keselataman Michael, Ethan pamit pergi. Dia merasa harus berbicara dengan Winter, dengan segera dia kembali ke Luckingham, tempat yang sangat dia hindari selama ini hanya karena dia ingin bertemu Winter.


"Jadi kamu sudah mengantar ayahku dengan selamat?" Tanya Winter dingin.


"Iya." Jawab Ethan singkat.


"Kamu sudah tahu?"


"Aku tahu sejak mendengar kabar bahwa pengawal istana diserang, siapa lagi yang bisa menyerang pengawal berpengalaman seperti Baseus jika bukan dirimu?" Winter menatap Ethan tidak senang. "Apa yang kamu bicarakan dengan Flo? Untuk apa kamu menemui Flo?!" Bahkan saat seperti ini Winer masih sempat merasa cemburu.


Ethan mengernyitkan alisnya kesal. "Apa kamu tidak tahu?? Atau pura pura tidak tahu?! Hanya ada satu alasan Flo selalu mencariku. Dia selalu bertanya bagaimana cara mendapatkan hatimu! Dia hanya selalu bertanya itu saja!" Perkataan Ethan sontak membuat Winter menatapnya tidak percaya. "Sejak kecil dihari pertama dia masuk kedalam Luckingham hingga menjadi wanita saat ini, 'Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatlan hati Winter?' , 'Apa yang harus aku lakukan agar dicintai oleh Winter?' Sampai detik ini, Flo selalu mencari jawaban atas pertanyaannya itu."

__ADS_1


Ethan mengepalkan tangannya erat, "Kenapa kamu terus menyangkal perasaannya?? Kenapa kamu selalu menyangkal ketulusannya?! Dan bahkan sekarang.... kamu menyangkal kematiannya!"


Winter terhuyung dengan nafas yang tersengal, "Wanita itu..."


"Bunga!" Potong Ethan, "Apa kamu tahu kapan waktunya bunga itu mati?!" Ethan menghunus Winter. "Meski bunganya telah gugur tapi dia akan kembali mekar karena cabang pohon bunga itu masih hidup. Itu karena dia masih hidup meski kelihatannya sudah mati."


Winter hanya bisa menatap Ethan dengan pandangan sedih dan depresi.


"Tapi kamu sudah memangkas semuanya.." Suara Ethan menjadi serak. "Bagaimana cabang pohon yang sudah dipotong semua itu bisa kembali berbunga?!"


Ethan terisak pelan. "Tapi kamu tidak perlu menyesal dan menyalahkan diri sendiri, karena yang membuka jalan kematian itu adalah aku."


"Dihari itu aku mengirimkan surat padanya, agar dia bisa berkunjung ke Elweiz jika saja dia merasa putus asa. Aku..." Ethan terisak dengan nafas yang sesak. "Aku yang telah mengantarkannya pada kematian.. huuhuuu!" Ethan menutup mata dengan tangannya dan menangis tersedu sedu.


Winter terdiam dan matanya berkaca kaca. "Apa benar... dia sudah mati??" Tanya Winter terbata. "Apa Flo sudah benar benar mati??!!"


Ethan yang masih terisak terus berkata. "Dihari aku mendengar kabar itu aku langsung berlari menyisiri hutan, namun aku tidak menemukan bekas apapun. Tidak ada apapun yang tersisa." Ethan tersengal, "Aku terus menerus menyalahkan diriku, karena tidak bisa menemukan jejak Flo sedikitpun. Tapi... disatu sisi aku bersyukur bahwa aku tidak perlu melihat betapa tragis kematiannya. Kamu juga Winter, bersyukurlah bahwa kamu tidak perlu melihat tubuhnya yang terbakar habis... karena dia pun pasti enggan memperlihatkan itu."

__ADS_1


"Ternyata...." Winter terisak. "Ternyata dia benar benar sudah mati?!" Winter bersimpuh dilantai dan terisak. "Wanita jahat itu..."


__ADS_2