Abandoned Flower

Abandoned Flower
Duchess


__ADS_3

Summer sedang duduk termenung sampai pelayannya datang menghampirinya dan menyampaikan bahwa Winter mengunjunginya, wanita itu sampai tergesa bersiap dan berganti pakaian.


"Apa kamu sudah merasa sehat??" Winter duduk dihadapan Summer.


"I.. iya aku hanya sedikit demam tuan Winter, aku sudah cukup beristirahat. Aku sekarang baik baik saja." Wanita itu tersenyum menatap Winter.


"Baiklah. Dihari kamu demam kemarin aku ada urusan diluar istana yang mendesak jadi aku tidak bisa langsung menghampirimu." Winter menjeda. "Aku juga sudah mendengar apa yang terjadi di kediaman tante Leana. Summer.." Pria itu memegang tangan Summer lembut namun tegas. "Satu janjiku, aku akan menyanyangimu sebagai wanita."


Summer tersentak mendengar ucapan Winter,


Jika aku tidak salah mengartikan, ini berarti kesempatan terakhir yang tuan Winter berikan bukan?? Antara ingin aku menjabat dan menanggung semua tugas duchess atau aku pergi dari sini.


Wanita itu bangkit berdiri dan memberi hormat dengan formal pada Winter. "Saya minta maaf karena telah membuat tuan Winter ikut mengkhawatirkan keadaan saya. Saya marchioness muda keluarga Grace, akan dengan rela hati menerima dan mengikuti kehendak tuan grand duke Winter Leonhard Ferkalon."


Winter terenyuh melihat Summer mengucapkan sumpah penobatan secara tidak formal dan langsung bangkit berdiri menyambut tangan Summer. "Aku yang berterima kasih, sungguh Summer. Terimakasih." Ucap Winter sungguh sungguh.


Selepas dari kediaman Summer, Winter berjalan menuju kediamannya. Dia sudah memerintahkan Dylan untuk mengumpulkan sekutunya agar mengadakan rapat penting.


Pria itu terdiam sepanjang dia berjalan, pikirannya melayang mengingat Flo. Menjadi seorang duchess tidaklah mudah ketimbang seorang selir, tugas selir hanyalah menemani tuannya setiap malam dan itu bisa saja tidak wajib dilakukan. Selir hanyalah simbol bagi hubungan pernikahan tidak formal yang terjalin akibat kerjasama antar negara atau juga hutang balas budi.


Namun berbeda untuk duchess, duchess secara resmi adalah istri sah dan merupakan nyonya rumah. Tanggug jawab dan tugas seorang duchess sangat berat. Akan ada banyak musuh, pihak yang tidak sejalan menentang, pertikaian politik dan juga urusan negara yang berhubungan dengan kerajaan. Jika seorang duchess tidak memiliki pihak pendukung yang kuat atau tidak dianggap kompeten maka mudah saja bagi beberapa pihak untuk menggilas dan melibas habis status itu.


Jelas sekali Winter tidak ingin mengorbankan Flo untuk masuk kedalam kolam neraka itu, tapi tanda pria itu sadari mungkin keputusannya tidaklah tepat.


Setelah mengumpulkan semua sekutunya Winter langsung memulai rapat. "Aku akan mengangkat marchiones muda dari keluarga Grace sebagai duchess Ferkalon." Tegas Winter.


Pernyataan itu sontak membuat riuh suasana, Agustin yang berdiri disana hanya diam karena itulah tujuannya.


"Tuan Winter, bagaimana bisa begini?? Tentu saja nona muda Grace itu tidak bisa menjadi duchess." Ucap salah seorang petinggi disana.

__ADS_1


"Tidak bisa??" Tanya Winter.


"Tentu saja tidak bisa, meski gelarnya dari keluarga bangsawan marquis namun dia berasal dari daerah yang jauh dari kata makmur. Masyarakat disana masi banyak yang terjajah dan daerah itu benar benar tidak maju. Lagi pula dia tidak kompeten sebagai seorang duchess!" Hanpir beberapa pihak menyetujui perkataan petinggi itu.


"Kita tidak bisa terlalu gegabah memutuskan ini, lebih baik kita telusuri dahulu komiditi daerah itu." Ucap yang lainnya.


"Menelusuri??" Winter melempar beberapa daokumen ketengah tengah meja panjang tempat rapat diadakan. "Dari hasil penelusuran yang kalian laporkan sebulan lalu jelas sekali tertulis daerah itu merupakan daerah negara kita dan strata masyarakat sana setara dengan masyarakat negara kita."


Petinggi itu mengerutkan wajahnya kesal.


Ternyata laporan kemarin yang diminta hanya demi memuluskan jalan Summer Grace menjadi duchess disini.


"Tuan Winter." Ucap pentinggi itu. "Apa sebaiknya tuan Winter memikirkannya sekali lagi, kami semua tentu tidak ingin mengulang kejadian yang sama dengan duke terdahulu tuan Michael." Ucap petinggi itu hati hati. "Mencintai wanita sampai membuat rugi seluruh keluarga Ferkalon."


Winter tersentak mendengar penuturan itu, seolah menjadi rahasia umum bahwa Michael memboyong Flo yang merupakan anak dari wanita yang dicintainya semasa dulu masuk kedalam Luckingham dan mengambil peran dalam tatanan politik. Pria itu mendesahkan nafasnya kasar, "Dengarkan janjiku, Summer hanya akan menjadi duchess. Dia tidak akan terlibat dalam politik dan aku tidak akan mempunyai keturunan dengan Summer. Dan jika itu sampai terjadi maka bahkan sampai keturunannya pun tidak akan pernah menjadi bagian dalam politik Ferkalon apalagi menjadi  penerus duke. Ini adalah janjiku sebagai grand duke pada kalian!"


Setelah selesai rapat Winter memanggil Agustin dan berbicara empat mata. "Aku membuat keputusan ini, bukankah semua sudah tepat seperti keinginanmu??"


Winter melirik Agustin yang hanya diam. "Diamnya dirimu aku anggap itu betul." Pria itu menjeda. "Aku memanggilmu untuk memberitahukan hal lain, aku akan membawa Flo masuk lagi kedalam Luckingham setelah penobatan Summer selesai."


Agustin terperangah menatap Winter. "Tua..."


"Flower Amber Ferkalon, selamanya akan selalu begitu. Wanita itu adalah milikku dari dulu sampai seterusnya." Tegas Winter tanpa ingin dibantah. "Sampaikan pada Flo." Lalu Winter berlalu pergi.


****


Hari ini Flo tergesa mendatangi kediamam Ethan, namun dia terkejut bahwa kediaman itu sudah kosong. Dan hanya ada seorang wanita paruh baya disana. "Apa anda yang akan membeli rumah ini??" Tanya wanita itu.


"Kemana semua orang??" Flo sampai memeriksa setiap kamar dirumah itu karena tidak percaya.

__ADS_1


"Jadi anda bukan pembeli?? Jangan membuat gaduh disini, rumah ini sudah dijual. Semuanya sudah pindah sejak kemarin." Wanita itu tergopoh mengikuti langkah kaki Flo.


"Dimana pemuda yang tinggal disini?!" Tanya Flo tidak percaya.


Sebenarnya kamu pergi kemana Ethan?? Aku sudah menggunakan kartu terakhirku seperti yang kamu katakan namun aku tidak berhasil. Aku tidak mendapatkan separuh hatinya lagi...


"Pemuda siapa?? Apa dia berjanji akan menikahimu lalu kabur??" Tanya wanita paruh baya itu penasaran.


"Tsk!" Flo berdecak kesal. "Apa orang disini tidak berpesan sesuatu sebelum pergi??"


"Tidak tuh.." Wanita tua itu terlihat sedang berpikir dan mengingat sesuatu. "Ah iya, kemarin sebelum pindah sepertinya mereka sempat menerima tamu dari seseorang yang jauh."


Flo mengepalkan tangannya. Ethan pasti pergi menemui paman Michael!!! Apa terjadi sesuatu sampai dia pergi secepat ini?!


Flo berjalan pulang dengan kecewa sampai di tengah jalan dia terkejut melihat Agustin berdiri beberapa langkah darinya. "Apa kabar nyonya Flo?" Agustin membungkuk memberi hormat.


"Ada apa??" Tanya Flo datar.


"Saya kesini hanya untuk menyampaikan perintah tuan Winter. Beliau telah mengumumkan secara resmi akan mengangkat nona muda keluarga Grace sebagai duchess. Dan dua hari lagi berita itu akan tersebar disemua surat kabar dan pengumuman pernikahan duke."


Flo terhuyung mendengar itu. "Itu tidak mungkin.." Nafas wanita itu menjadi terengah dan sesak. "Itu tidak mungkin... Winter tidak akan melakukan hal itu padaku... anda membohongi saya..."


Agustin hanya diam menatap Flo iba. "Itulah kenyataannya nyonya Flo. Dan tuan Winter meminta anda menunggu sebentar setelah proses penobatan selesai maka anda akan dibawa kembali masuk ke Luckingham."


"Winter tidak akan melakukan itu!!!" Jeritan Flo terdengar pilu. "Anda lihat ini?!" Dia menaikkan gelang yang dipakainya. "Ini adalah gelang pemberian Winter, gelang mendiang ibunya! Dia telah menyerahkan hatinya padaku!! Winter tidak akan melakukan hal itu!!!"


Agustin terdiam sebentar. "Nyonya.. apakah nyonya tidak melihat dimana hati tuan Winter sesungguhnya? Beliau akan mengangkat nona Summer menjadi duchess."


Flo mendorong Agustin keras. "Pergi!!! Aku tidak mau dengar!!" Flo berlari meninggalkan Agustin yang menatap Flo sedih.

__ADS_1


__ADS_2