
Memikirkan terus menerus perkataan Utha membuat Camell merasa lelah, berbaring diatas ranjang dengan pikiran kalut dan bercampur seperti itu membuat Camell mengantuk dan dia tertidur sepanjang hari.
"Hooaaamm!" Camell menguap lebar dan membuka mata saat hari sudah sore, dia keluar kamar untuk membasahi tenggorkannya yang terasa kering.
"Kamu baru bangun tidur??" Lloyd duduk diruang tamu membaca buku saat melihat Camell keluar kamar.
Camell yang memahami tata krama pun duduk dimeja seberang Lloyd. "Iya." Jawabnya tersenyum.
Mereka menikmati hidangan sore ranpa suara, Camell sendiri pun bingung harus berbicara mulai dari mana.
"... menurut rencana harusnya besok kita ke istana pesisir pantai barat. Kalau kamu lelah kita tidak usah kesana saja." Lloyd akhirnya membuka suara.
Camell menatap Lloyd sepertinya sikap pria itu sudah mulai melunak padanya. "Baiklah." Senyum Camell. "Kalau begitu, besok tidak usah ngapa ngapain saja seharian!" Bagi Camell hari saat libur adalah hari terbaik, dia bisa tiduran saja seharian dikamar atau melakukan apapun yang dia suka.
"Apa??" Namun bagi Lloyd itu adalah hal yang aneh.
"Kenapa tuan duke sepertinya kaget begitu??"
Lloyd mengernyitkan alisnya seolah Camell mengusulkan ide yang tidak masuk akal. "Kok bisa bisanya kamu membuang buang waktu seperti itu?!"
"Jangan jangan...." Camell tercengang menatap Lloyd. "Tuan duke tidak pernah bersantai dan tidak melakukan apapun seharian?!!"
Lloyd gusar seketika seperti kalah sebelum bertanding. "Apa kamu tahu dosa besar ketika kita malas malasan seperti itu??" Lloyd semakin jengah ketika Camell menatapnya penuh dengan belas kasihan. "Kenapa kamu menatapku seperti itu?!"
Kasihan sekali dia tidak tahu betapa nikmatnya malas malasan itu.
Camell menutup mulutnya dan menatap Lloyd penuh iba. "Kalau cuma sehari tidak apa apa kan? Lagi pula kita kesini juga untuk istirahat."
"Tapi.."
"Katanya anda bilang kita akan melakukan apapun yang saya mau!" Camell terlihat tidak akan mengalah.
"Iya sih.. tapi.."
"Jangan khawatir, sebagai sang ahli saya akan mengajarkan apa arti malas malasan sesungguhnya pada tuan duke." Camell tersenyum puas.
"Kamu ini memang benar benar wanita aneh." Lloyd terkekeh menatap Camell.
Esok harinya sedari pagi Camell sudah menyiapkan banyak hal untuk bersantai, dia meminta pelayannya untuk menyiapkan banyak camilan juga minuman. Begitu juga buku dan banyak permainan seperti catur dan kartu. Dengan riang Camell menatap barang barang itu diatas meja ruang tamu.
"Nah sudah selesai!" Ucapnya riang. Lalu dia menatap Lloyd yang sedang bebicara dengan para pengawal seperti memberi instruksi singkat.
Akan aku ajari dia bagaimana cara malas malasan yang sesungguhnya!! Haha!
__ADS_1
"Lakukan seperti itu saja!" Lloyd memerintah para pengawalnya.
"Baik!"
Setelah pengawal itu keluar kamar Lloyd menatap Camell yang sedang memperhatikannya seakan menunggu dia. "Ada apa? Ada yang ingin kamu bicarakan denganku??" Lloyd menghampiri Camell.
"Tidak ada. Tuan duke sudah selesai mengurus pekerjaan??"
Lloyd terkekeh. "Bukannya kamu mengajak aku malas malas an, maka dari itu tidak ada pilihan lain selain megerjakan tugas lebih awal."
"Aduh... terserah tuan duke saja." Camell merasa dia tidak akan menang beragrumen.
"Apa ini??" Lloyd menatap meja yang penuh dengan camilan juga ada permainan.
"Meskipun judulnya malas malasan, tapi tetap ada persiapannya dong!" Camell berkata bangga, lalu dia duduk di sofa tanpa memperdulikan tata krama cara duduk bangsawan. "Duduk juga harus dengan posisi yang nyaman. Sini duduk!" Wanita itu bersandar dan menepuk nepuk sofa sebelahnya.
Lloyd menatap Camell risih. "Ini kan bukan kamar tidur." Pria itu duduk dengan posisi tegap.
"Yah ampun! Apa tuan duke sekarang menyuruh saya duduk tegap seperti saat jamuan minum teh??" Camell melihat Lloyd dengan wajah meledek. "Ini waktunya kita istirahat, apa anda sudah duduk dengan nyaman??"
"Ini nyaman buatku." Tegas Lloyd dengan wajah jengah sambil duduk dengan tegap. Benar benar tegap.
"Hahahaha!" Camell tertawa lebar sambil memegang perutnya. "Yah ampun tuan duke punya selera humor juga!"
"Aku harus belajar terus terusan, dan saat ada waktu luang aku harus mempersiapkan materi belajar kelas selanjutnya." Ujar Lloyd.
"Ng?? Kalau begitu kapan mainnya??" Camell menggigit biskuit ditangannya.
"Main??" Lloyd berhenti menenggak isi gelasnya. "Tergantung, kalau ada waktu. Aku pernah bolos kelas latihan pedang dan kabur dengan Cai dan Cyness."
"Hmm?"
"Kami bertiga besar bersama, tapi aku lebih senang main dengan Cai. Dia saudara sekaligus teman bagiku, teman latihan pedang yang sepadan. Cyness juga, kami banyak bermain bersama." Lloyd mendeja dan tersenyum. "Dia tipe pendengar yang baik dan pemberi nasihat. Kami pernah saat itu seharian...."
Camell terdiam mendengar Lloyd bercerita panjang lebar. Melihat eksoresi wajahnya saat membicarakan nona Cyness begitu.. benar kan mereka saling mencintai. Mereka memang sepasang kekasih, jadi singkirkan semua pikiran bodoh dari otakku ini!
"Tuan duke dan nona Cyness mempunyai hubungan yang baik." Camell tersenyum namun entah kenapa di merasa ada yang mengganjal dihatinya.
Kening Lloyd mengerut. "Aku sedari tadi membicarakan Cai."
"Ah!" Camell menundukkan kepalanya, entah mengapa dia merasa konyol sudah berpikir kemana mana.
"Ceritakan juga tentang dirimu." Ucap Lloyd. "Masa kecilmu dan keluargamu."
__ADS_1
"Hah??" Camell mengangkat alisnya bingung, bagaimana dia harus bercerita??? Dia mempunyai masa kecil yang sangat bahagia, kasih sayang melimpah dari kedua orang tuanya dan juga dia mempunyai seorang adik yang sangat menyanginya meski selalu usil. Kehidupan sangat berkecukupan, ayah yang tampan dan berwibawa, ibu yang cantik yang pandai memasak. Namun bagaimana Camell bisa menceritakan semua itu kalau identitasnnya ditutupi dan dia hanya dikenal sebagai anak angkat seorang bangsawan pinggiran yang masih berkerabat jauh dengan duke sebelumnya.
"Ah, hmm itu.. entahlah yang aku ingat.." Camell menjadi gugup karena dia tidak pandai berbohong.
"Kalau tidak bisa bercerita tidak apa apa." Lloyd tersenyum tipis dan salah menangkap ekspresi Camell mengira wanita itu tumbuh dalam penderitaan tanpa kasih sayang keluarga. Lalu dia tersenyum kepada Camell seakan untuk menenangkan wanita itu.
Meski Lloyd salah paham namun Camell mensyukuri hal itu, setidaknya dia tidak perlu susah susah berbohong.
"Dari pada memikirkan masa lalu lebih baik fokus pada saat ini." Lloyd memecah kecanggungan diantara mereka. "Kamu berhasil mengungkapkan kasus penjualan budak, mendapatkan catatan transaksi hingga mengetahui bangsawan yang terlibat. Juga kalau bukan karena kamu, masalah kemarau panjang ini tidak akan terselesaikan." Lloyd menatap Camell dalam. "Aku berterimakasih padamu."
Camell merasa aneh, detak jantungnya tidak beraturan saat ditatap Lloyd seperti ini. Dia langsung melepaskan pandangannya dan minum dengan cepat. "Sa.. sama sama!"
Keduanya diam dan canggung. "Ba.. bagaimana kalau kita pergi berbelanja lagi sekarang!!" Camell bangkit berdiri.
"Lagi??" Lloyd mengerutkan alisnya.
"Iya!! Aku akan bersiap!" Camell bergegas masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian juga untuk menghindari berdua saja dengan Lloyd yang membuat dirinya selalu merasa aneh.
Mereka berdua berjalan dipasar dengan senang, terutama Camell karena dia kembali membeki banyak barang dan Lloyd membantu untuk membawakan.
"Kamu mau beli sebanyak apa lagi???" Lloyd mengerut kesal sudah membawa banyak barang.
"Entahlah!" Camell terlihat senang. "Sekarang kita kesana!"
"Aku merasa kamu sangat menikmati suasana ini yah!" Sakras Lloyd. "Mana aku yang bayar lagi."
Camelk tertawa renyah. "Tentu saja! Karena terakhir berbelanja sudah memakai uangku. Lagipula kita akan segera kembali ke ibu kota, tu.. eh Leo harusnya paham dong. Kita ini sedang membantu ekonomi masyarakat!"
Mereka berdua berjalan jalan sampai Camell terkejut saat merasakan air membasahi ujung hidungnya. "Eh?"
Hanya dalam hitungan detik hujan lebat turun membasahi seluruh wilayah bagian barat.
"Hujan..." Camell dan Lloyd saling berpandangan.
Suasana pasar tiba tiba riuh, semua masyarakat berbaur dijalan untuk merasakan hujan yang membasahi wajah dan tubuh mereka.
"Turun hujan sungguhan!!" Anak anak berlari riang ditengah hujan.
Mereka saling tersenyum dan menatap dalam. Meskipun hujan semakin deras membasahi tubuh mereka namun ada perasaan menggelitik bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata kata.
Camell mengadahkan kepalanya membiarkan air membasahi wajahnya sampai Lloyd menarik wanita itu masuk dalam pelukannya.
"Tu.. tuan duke??" Ucap Camell terkejut.
__ADS_1
"Sebentar... sebentar saja kita seperti ini." Lloyd tersenyum dan mendekap Camell semakin erat dalam pelukannya ditengah hujan dan masyrakat yang riuh menari dalam hujan.