Abandoned Flower

Abandoned Flower
Penyelesaian


__ADS_3

"Ada apa?" Ulang Camell karena Lisa terus saja terdiam dan terlihat ragu dalam berbicara.


"Maafkan aku nona, se.. seprtinya aku akan mengundurkan diri dari Luckingham." Sudut mata Lisa sudah basah.


Aku bisa menduga ini, Cyness memang licik sampai Lisa harus terlibat! Dia pasti tidak merasa aman jika Lisa, kakak dari mata matanya berada di dekatku. Dia pasti khawatir ada rahasia yang bocor.


Camell tetap diam dan tenang, dia meminum teh nya dan menatap Lisa. "Kenapa seperti ini? Kenapa tiba tiba??"


"I.. itu..."


"Lisa..." Camell menatap dalam mata Lisa. "Kamu tahu kan sejak aku masuk ke Luckingham hanya kamu dan Maya yang bisa aku percaya. Kalian itu adalah satu satunya kebahagiaanku di istana yang menyesakkan ini." Camell menghela nafasnya panjang seperti akan berkeluh kesah dan memasang wajah sedih, tapi tentu saja itu semua hanya sandiwaranya.


"Aah nona Camell!" Lisa benar benar menangis kali ini. "Aku sungguh setia melayani nona, sungguh! Bahkan nona yang belum lama kulayani ini bisa memahami saya... tapi.."


"Benar." Camell mengamit jemari Lisa erat dan berkata dengan lambat lambat, "Bahkan aku sudah mampu memahami kamu.. bahkan saking memahaminya aku sampai tahu bahwa adikmu menjadi mata mata untuk Cyness." Camell menatap tajam Lisa.


"A.. apa??" Lisa terkejut bukan main. Tidak banyak yang mengetahui kalau Lilith adalah adiknya, mereka berdua masuk ke Luckingham tidaklah mudah. Sebagai kakak Lisa pun kerap kali menasihati Lilith adiknya yang sering silau akan harta. Uang yang ditawarkan Cyness tentu saja berjumlah besar dan menggiurkan. Meski Lisa tahu hal ini salah namun dia diam saja karena mereka memang membutuhkan uang untuk keluarga mereka di desa.


"No.. nona jangan salah paham.. aku tidak terli.." Lisa hendak menarik tangannya

__ADS_1


"Akan lebih baik kalau kamu tidak menyebutnya sebagai salah paham!" Camell menahan tangan Lisa dan tersenyum lebar. "Aku tidak tahu apa yang bisa membuatku lebih marah lagi, sejak aku mengetahui ada mata mata disini bahkan aku tidak bisa tenang seharipun dikamarku sendiri! Bagaimana aku barus menghukummu??!"


"Dengan cara bangsawan lama menghukum pelayannya?? Mencambuk mereka?? Memenjarakan mereka?? Atau yang lebih parah, memotong kaki dan tangan mereka??! Apa aku juga harus memotong lidahmu yang pandai sekali berkelit kelit itu?!" Camell memasang wajah yang cukup menakutkan.


"Aku.. aku tidak..!" Lisa terlihat sangat takut, jika Camell mengadukan perbuatan Lilith adiknya sudah dipastikan mereka akam terusir dengan tidak hormat dan susah mendapat pekerjaan lagi nantinya. Lisa langsung bersimpuh dibawah kaki Camell. "Ampuni saya dan adik saya nona! Saya yang bersalah! Saya yang tidak dengan serius melarang Lilith!" Lisa menangis tersedu sedu.


Camell menghela nafasnya kasar, dia benci sebuah pengkhianatan tapi biar bagaimanapun Lisa hanya terseret karena adiknya dan disini Cynes tetaplah yang jahat menjebak kedua kakak beradik tidak berdaya ini.


Camell berjongkok dan meraih dagu Lisa. "Meskipun kamu bilang ini perbuatan adikmu tapi memang tidak akan menghapus kesalahanmu kan?! Tidak ada yang perlu di khawatirkan Lisa." Camell membelai pipi Lisa dan tersenyum tipis. "Nona Bourbon akan menuai akibat permainan dirinya sendiri dan menanggung akibatnya."


Camell mencengkram dagu Lisa erat. "Bawa adikmu dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi!"


Camell menghela nafas panjang setelah Lisa keluar dari kamarnya dan menangis,


Camell kembali duduk dan meminum teh nya yang mulai dingin.


Bukan penyelesaian yang sempurna tapi cukup lumayan juga...


Sejak kejadian itu Camell benar benar bisa bernafas sedikit lega, dia juga menjalani hari harinya belajar dengan tenang tanpa gangguan. Awalnya Maya cukup kerepotan bekerja seorang diri namun Maya pun tidak berani banyak bertanya perihal Lisa dan tetap menjalani tugasnya dengan sangat baik.

__ADS_1


Sementara itu Lloyd bekerja keras menangani permasalahan wilayah bagian barat. Dia mengadakan meeting dengan para petinggi Ferkalon pagi pagi sekali.


"Kemudian agenda selanjutnya, langsung saja ke masalah wilayah bagian barat." Lloyd membuka dan membaca laporan yang ada ditangannya. "Bagaimana kelanjutan penelitian mengenai pohon??"


"Tuan duke, kami sudah menjalankan perintah anda untuk mendatangkan ahlinya dalam bidang ini. Berikut adalah laporannya." Salah seorang bangsawan yang bekerja dibawah keluarga Ferkalon berdiri untuk memberikan laporan terkait. "Peneliti banyak memberikan bukti bahwa pohon sangat bermanfaat dan tidak seperti yang kita percayai dari jaman nenek moyang bahwa pohon mengambil air..." Laporan panjang yang dijelaskan pekerja itu membuat Lloyd tersenyum puas.


"Baiklah jika demikian kita akan melaksanakan rencana pembuatan hutan di wilayah barat, dari pusat akan mendatangan bantuan bibit pohon juga tanah basah, lalu masyarakat melakukan pekerjaan tersebut..." Lloyd terlihat senang dalam rapat kali ini membuat banyak petinggi disana bernafas lega setelah sekian lamanya Lloyd selalu murka dalam rapat dan membuat suasana rapat mencengkam karena tidak menemukan solusi terbaik dan hanya mendengar kabar buruk dalam tiap laporannya.


"Bagaimana apa ada yang keberatan??"


"Kami sangat setuju!" Salah seorang bangsawan Viscount mengangkat tangannya. "Karena pekerjaan itu dapat membantu kesejahteraan masyarakat disamping memperbaiki wilayah tersebut. Bantuan dari pusat hanya bibit pohon dan tanah basah yang tidak membebani keuangan negara."


Bangsawan lainnya mengangguk setuju dan akhirnya keputusan telah didapat.


"Sudah lama sekali kita tidak bermufakat seperti ini, tuan duke membuat keputusan yang sangat bijaksana." Puji para petinggi disana.


Lloyd terdiam sebentar. "Yang bijaksana bukan saya, tapi nona Camellia Blooming. Yang merupakan salah satu calon duchess, semua usul tadi merupakan ide dari nona Camellia. Dari ide meneliti pohon hingga usaha bercocok tanam, semua ide yang kupinjam darinya. Tidak seharusnya aku yang menerima pujian."


Suasana ruang rapat mulai sedikit gaduh, calon duchess yang terpaksa mereka anggap karena menghargai tuan duke terdahulu, Ethan. Mungkin saja merupakan calon duchess yang potensial dan kuat. Namun beberapa pihak sedikit tidak senang termasuk kekuarga bangsawan Bourbon.

__ADS_1


"Baiklah kita lanjutkan agenda selanjutnya." Lloyd menarik kembali fokus dalam ruang meeting tersebut dan Agustin hanya tersenyum senang mendengar perkataan Lloyd.


Gen yang tidak akan pernah membohongi... kecerdasan tuan Winter dan keteguhan nyonya Flo benar benar menurun pada putrinya.


__ADS_2