
Sebenarnya Dylan berjalan menuju ruang kerja Winter untuk menanyakan perihal pengumuman pernikahannya dengan Summer kapan akan diberitakan, para pers dan media sudah menunggu nunggu kabar untuk konferensi mengenai hal tersebut. Namun baru saja Dylan menerima kabar juga dari para pengawal yang mengawasi Flo bahwa Flo melompat dari jembatan di danau. Dylan sampai berlari menuju ruang kerja Winter dan membukanya setelah mengetuk dengan tergesa.
"Ada apa lagi??" Kening Winter mengernyit melihat Dylan terengah menghampirinya.
"Nyo.. nyonya Flo! Beliau melompati jembatan dan jatuh kedalam danau!"
Perkataan Dylan sontak membuat Winter terhenyak, "Apa maksudmu?? Sekarang bagaimana keadaannya?!" Winter sampai bangkit berdiri dari meja kerjanya.
"Menurut para pengawal nyonya sempat pingsan, sekarang sudah siuman dan sedang ada di klinik namun beliau menolak untuk pengobatan."
Winter menggertakkan giginya kesal. "Apa sebenarnya mau wanita itu sih?! Mengapa berniat bunuh diri?!"
"Mung.. mungkin nyonya sudah mendengar berita tentang pernikahan tuan Winter." Ucap Dylan hati hati. "Dan jadwal untuk konferensi mengenai pernikahan tua..."
"Kamu masih saja berniat membahas hal ini?!! Siapakan mobil! Aku akan kesana!!" Hardik Winter kesal.
..
Sementara itu Flo berdebat alot dengan para pengawal istana, "Aku sudah bilang aku baik baik saja! Sekarang aku mau pulang!!" Flo menolak untuk diperiksa oleh dokter setelah sadar dari pingsannya tadi, dan dengan mata kepalanya sendiri dia juga sudah melihat pengawal istana dihadapannya jadi menurutnya pembuktian ini sudah cukup dan dia ingin pulang.
"Tapi nyonya, saya harap nyonya diperiksa terlebih dahulu oleh dokter demi kebaikan nyonya." Pengawal itu bersikeras mengingat nyawanya dipertaruhkan dalam misinya untuk menjaga Flo kali ini dia tidak boleh gagal sedikitpun dan membuat Winter tidak senang.
"Aku tidak mau berdebat lagi dengan kalian, ini terakhir kalinya aku katakan! Aku mau pulang dan kalian minggir dari pintu!!" Kesal Flo.
"Tapi nyonya..."
'Braaaaaakkkk!!!' Pintu klinik kecil itu dibuka secara keras dan Winter masuk dengan wajah marah.
"Wi.. Winter??" Flo terperangah tidak menyangka pria itu datang kesini bahkan tanpa memakai pakaian yang menyamarkan statusnya.
__ADS_1
"Kamu benar benar keterlaluan yah?!" Winter memarahi Flo setelah menyuruh semua pengawal juga dokter disana untuk keluar.
"Mau bagaimana lagi.. ini memang watakku." Ujar Flo datar.
"Apa kamu benar benar tidak punya akal pikiran sampai berniat membuang nyawamu sendiri?! Dan sekarang kamu masih hidup, lalu nanti kamu berniat bunuh diri lagi?!! Apa kamu akan terus menerus melakukan hal buruk seperti ini?!!"
Flo terdiam menatap Winter, pria yang marah marah sejak tadi diahdapannya. Tatapan tajam dari mata indah milik Winter selalu membuat Flo terlena, alisnya yang tebal selalu mengernyit saat melihat dirinya, belum lagi bibir Winter selalu mengeluarkan cemohan dan sindiran untuknya.
Gelisah.. cemas.. itukah yang terpancar dari matamu? Kenapa baru sekarang aku menyadarinya? Selama ini bukankah kamu selalu marah dan menyalahkan aku?? Tapi.. perkataan Ethan benar, jika tidak benar pasti aku sudah mati di danau itu. Kalau seperti ini... bolehkan aku menunjukkannya sedikit saja?
Flo menggigit bibirnya kecil dan berkata rendah lalu duduk dikursi. "Aku merasa sakit."
Meski terkejut Winter mencoba untuk tenang, karena ini pertama kalinya Flo bersikap tenang setelah dia marah seperti ini. Pria itu menatap mata Flo dalam mencoba memahami.
Aku selalu marah tapi begitu melihat matanya aku yakin.. aku masih disana..
"Apa kamu akan melakukannya lagi?? Apa kamu akan berniat untuk mati lagi??" Suara Winter melunak.
"Tsk!" Winer berdecak kesal, "Kalau mau berbohong, bohonglah yang masuk akal bagaimana bisa terpeleset dari atas jembatan?!"
"Aku tidak akan melakukannya lagi." Jawab Flo cepat. "Aku mengaku salah. Maaf."
Winter membelakkan matanya,
Mengaku salah?! Maaf??! Flower...
Pria itu menghela nafas panjang, "Rasanya aneh mendengar kamu mengaku salah dan meminta maaf." Winter ikut duduk dikursi berhadapan dengan Flo. "Rasanya kita tidak pernah sekalipun duduk berhadapan dan berbicara baik baik seperti ini. Tidak berteriak dan mengeluarkan emosi, seperti orang biasa saja."
Flo hanya menunduk memeganggi bajunya yang basah, baju luaran cardigannya yang basah melorot dan dia membetulkannya hingga pakaian lapisan dalam Flo terlihat jelas memampangkan bagian dada Flo yang putih.
__ADS_1
Winer sedikit tercekat lalu mengalihkan pandangannya dan berdehem. "Ak.. aku tadi kekuar buru buru dan harus segera kembali ke Luckingham sebelum berita heboh aku disini tersebar." Pria itu berdiri dan mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya. "Terima ini."
Flo terkejut melihat sebuah gelang yang Winter sodorkan dalam balutan sapu tangan, gelang milik mendiang ibu Winter. Gelang yang menjadi barang penting milik Winter, gelang yang pernah Flo sembunyikan sambil naik keatas pohon bunga pir agar Winter mengejarnya. "Winter..?"
"Itu untukmu." Ucap Winter. "Kamu masih ingat benda itu kan? Bukankah dulu kamu sangat menginginkannya?"
Flo terdiam menatap gelang itu.
Aku tidak menginginkan ini.. aku hanya ingin kamu melihat dan menatapku sekali saja. Karena aku tahu benda ini berharga untukmu, karena ini benda peninggalan mendiang ibumu.
"Apa benar kamu akan memberikan ini untukku? Kamu tidak akan mengambilnya lagi kan??"
Winter menatap Flo heran namun dia tersadar sendiri wajar saja Flo tidak mempercayai perasaannya sekarang karena dia yang telah merampas status dan kedudukan Flo, juga mengusir wanita itu dari Luckingham. "Iya. Aku tidak berbohong, karena aku sudah berjanji untuk tidak akan mengambilnya kembali. Kamu juga harus berjanji untuk tidak melakukan hal yang membuatku cemas dan berlari kesini untuk mendatangimu. Dan sekarang kamu juga harus mau diperiksa oleh dokter."
"Baiklah." Flo tersenyum menatap Winter.
"Aku tidak pernah berniat untuk membuangmu, aku hanya belum bisa memahami perasaanku sendiri." Setelah berkata demikian Winter kekuar tanpa menunggu reaksi Flo lagi.
Flo menatap pintu itu termangu.
Winter... apa boleh aku berharap bahwa separuh hatimu telah aku dapatkan??
Sementar itu Winter bejalan keluar dan menjumpai para pengawal dan dokter menunggu di depan.
"Tuan Winter?! A.. apa anda juga kurang sehat? Wajah anda merah sekali." Pengawal itu menghampiri Winter dengan tergesa.
"Bukan apa apa!!" Hardik Winter dan dia langsung memalingkan wajahnya. "Pastikan dia di obati oleh dokter dan bawakan dia pakaian baru!!" Setelah itu Winter masuk kedalam mobil dan meninggalkan klinik itu.
"Cepat jalan!" Titahnya pada Dylan. Winter mencubit pangkal hidungnya dan memejamkan mata.
__ADS_1
Sial kenapa aku seperti ini?! Seluruh badanku terasa panas hanya karena melihat dia basah dan aroma manis dari tubuhnya yang tercium. Aroma... manis?? Entah sejak kapan aku jadi membenci aroma ini? Aroma yang selalu membuat detak jantungku tidak menentu!