
Hampir 9 hari lamanya Gloria, Gemma dan Nora melewati malam malam mengerikan dengan bersusah payah. Banyak tangis, jeritan juga pengorbanan yang mereka bertiga lakukan agar Flo tidak lagi menyakiti dirinya dan tampaknya itu mulai membuahkan hasil. Kasih sayang dan perhatian tulus yang diberikan membuat Flo sedikit demi sedikit menerima keadaan yang menyakitkan hatinya, namun Flo masih bertahan dengan kebisuannya.
Terkadang ada kalanya Flo berbicara namun itu terjadi jika hanya Ethan datang dan itu sangat jarang. Ethan tetap harus menjalankan bisnis Ferkalon, tanpa membuat orang orang curiga atau tahu bahwa dialah yang membantu Flo.
Memang setelah kejadian pengusiran Flo, Winter sama sekali enggan bertatap muka dengan Ethan begitu juga Winter tidak memberitahu orang orang bahwa Ethan berkunjung ke kediaman Flo malam itu. Agustin pun mendapat hukuman hanya masa pemecatan sementara oleh Winter, mengingat besarnya kesetian Agustin sejak masa pemerintahan ayahnya. Masalah itu seakan ditutup dengan rapat tanpa ada yang tahu penyebab Flo terusir dari Luckingham.
"Nyonya Flo, makanlah. Hari ini Gemma memasak sup daging yang lezat." Nora meletakkan semangkuk sup hangat diatas meja.
Flo hanya duduk dekat dengan jendela, memandang sepetak kebun dihadapannya. Bahkan Flo tidak menoleh pada Nora, dia hanya diam dan membisu.
"Nyonya harus mengisi perut. Apa mau aku suapi??" Nora bertanya lembut dan mengambil sendok sup itu, menyuapin perlahan pada Flo namun wanita itu menghindari suapan Nora.
Flo menatap Nora sebentar dan kembali memandang sepetak kebun dihadapannya. "Kalian, mau sampai kapan disini? Aku tidak bisa membayar upah kalian. Kalian besok boleh kembali kerumah kalian masing masing."
Nora mengerutkan alisnya mendengar ucapan Flo, sudah lama majikannya mogok untuk berbicara dengan mereka namun ketika majikannya berbicara sepanjang ini malah kalimat pengusiran yang harus didengar. "Nyonya mengapa memusingkan hal hal yang tidak perlu? Kami akan selalu disini, kami rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk menjaga nyonya. Jadi nyonya jangan berbicara seperti itu lagi."
__ADS_1
Lagi lagi Flo hanya diam dan membiarkan angin berhembus menerpa wajah juga rambutnya.
****
Hari ini Winter mengadakan rapat besar dengan para tetuah Ferkalon, rapat yang biasa mereka adakan dalam beberapa bulan sekali untuk membahas semua bisnis juga perekonomian keluarga mereka. Namun kali ini Osbert dan beberapa orang sudah menyiapkan diri untuk mendorong Winter agar mencari orang yang harus mengisi posisi duchess baru. Setelah selesai rapat, orang orang ini saling berpandangan dan ingin berbicara dengan Winter.
Osbert sebagai orang yang mencetuskan ide ini berbicara lebih dulu. "Winter, aku ingin bicara denganmu."
Winter yang sedang membaca dokumen menaikkan alisnya dan menatap Osbert. "Apa pembicaraan ini akan berjalan sebagai antara keponakan dan paman, atau duke dan sekutunya?" Meski tidak terbesit nada tajam maupun sinis, siapapun tau bahwa Winter sedang menjaga batasan disini.
Ucapan Osbert membuat wajah Winter mengeras, "Jangan lancang membahas ini denganku." Desis Winter pelan.
"Winter, dengarkan paman." Osbert mencoba mendinginkan suasana. "Mungkin saat ini kastil sangat aman dan damai, namun posisi ini tidak bisa lama kosong dan kamu pun mengetahui hal ini. Jika bangsawan diluar sana tau mereka bisa saja berperang dan berebut untuk menyingkirkanmu. Ini bisa menjadi perpecahan politik yang besar!"
"Benar, ada baiknya tuan Winer memikirkan hal ini. Sebuah sisilah pendamping bagi bangsawan tidak akan bisa kosong. Karena anda juga harus memikirkan soal keturunan." Yang lain menimpali.
__ADS_1
"Jangan lancang!" Winter menggertakkan giginya kesal, apa yang Osbert dan sekutu Ferkalon lainnya ucapkan itu memang benar. Masih banyak musuh yang ingin menyingkirkan Winter, Flo yang juga kemarin mengisi posisi duchess juga tidak jelas asal usulnya pun bisa membawa kerugian besar untuk Ferkalon meski Michael mendukungnya saat itu.
Saat ini begitu Flo sudah tersingkir tentu saja para bangsawan akan berlomba untuk mencari kesalahan kesalahan Winter lainnya dan menyingkirkan pria itu. Namun untuk sekarang hati Winter sendiri tidaklah jelas, dan dia tidak ingin dipusingkan dengan hal hal remeh apalagi mengurus pernikahan.
"Ada banyak tugas untuk seorang duchess. Ingatlah Winter, posisi itu tidak bisa lama kosong." Osbert berucap lagi. "Pa.. paman pergi dulu." Osbert meninggalkan ruang kerja Winter dan meninggalkan pria itu seorang diri.
Kegundahan yang meliputi hati dan pikiran Winter membuat pria itu memilih untuk bekerja sampai larut malam. Saat malampun Winter tidak bisa beristirahat dengan tenang.
"Sial!!" Maki Winter kesal.
Pria itu mengambil mantelnya dan berjalan keluar, "Jangan ikuti aku!" Titahnya pada para pengawalnya.
Winter berjalan jalan ditaman, penerangan lampu disana pun sudah mulai remang karena hari sudah sangat larut. Entah langkah kakinya atau hatinya yang membawa Winter berjalan, kini Winter berhenti didepan kediaman Flo. Dia menatap pintu kayu yang tertutup rapat, biasanya lampu disana selalu terang benderang namun kali ini hanya terlihat 1 lampu yang menyala dari dalam.
"Aku mungkin sudah gila!" Winter mendesahkan nafasnya kasar dan hendak berjalan kembali namun matanya menangkap sosok seseorang.
__ADS_1
Kening Winter mengernyit, "Apa yang dia lakukan disana??" Winter melihat Ronan berdiri tak jauh dari taman milik kediaman Flo, Ronan berdiri menatap kediaman Flo sama seperti yang Winter lakukan tadi.