Abandoned Flower

Abandoned Flower
Rencana Selanjutnya


__ADS_3

Pagi pagi sekali Altez akan mengantar Flo pulang ke kediaman Agustin karena siang nanti dia dan Winter akan berangkat menuju kota xxxx dengan memakai mobil. "Nyonya bawalah ini, tadi pagi subuh saya bangun untuk membuat kue ubi ini. Makanlah diperjalanan dengan tuan Winter." Altez menyerahkan sebuah keranjang anyam pada Flo dan mengunci pintu.


"Terimakasih sampai detik inipun kamu selalu mengurus makanku." Flo menerima keranjang itu dengan tertawa kecil.


Saat mereka berbalik dan hendak berjalan, seorang pria memakai topi hingga menutupi sebagian wajahnya menghalangi jalan mereka.


"Nyonya sudah kembali." Ucap pria itu.


Altez terkejut bukan main. "Sir Ronan??!"


Flo tetap tenang melihat Ronan dihadapannya.


"Selama 3 tahun lalu aku terus mencari nyonya, aku tidak percaya pada kabar itu tanpa bukti yang jelas." Ucap Ronan. "Sampai aku menemukan nyonya diatas gunung Dalkota. Aku hanya bisa mengawasi dari jauh tanpa ingin mengganggu nyonya."


Flo sedikit berdecak, merasa kesal karena sama sekali tidak awas.


Sebenarnya berapa orang yang mengawasi aku selama tinggal di kediaman tuan Simon??


"Aku mengerti." Ucap Flo. "Dan terimakasih sudah menjagaku dari jauh. Tapi cukup sampai disini saja, aku tidak memerlukan penjagaanmu lagi baik sekarang mauoun kelak."


"Aku tahu." Ronan menunduk dan tersenyum sedih. "Seberapa besar upayaku untuk berharap bahwa nyonya adalah takdir untukku tapi aku tetap tidak akan bisa..."


"..Menyingkirkan aku!" Suara itu membuat semuanya cukup terkejut. Winter muncul memakai jubah panjang serta tudung kepala untuk menutupi wajahnya.


Flo sangat terkejut, bukankah Winter yang belum mati itu rahasia besar. Bagaimana jika kabar ini bocor karena Ronan. Wanita itu langsung bergerak cepat menuju Winter untuk mengajak pria itu pergi tapi Winter menahan tangannya. "Kamu tidak usah khawatir, karena Ronan mengetahui aku masih hidup. Dia berada disekitarmu selama ini, dan itu benar benar membuatku marah." Winter menatap sinis Ronan. "Mulai detik ini aku minta kamu jangan pernah muncul dihadapan istriku!" Winter memeluk Flo masuk dalam rengkuhannya.

__ADS_1


Ronan terkekeh mendengar ucapan Winter. "Anda cukup bisa tenang, karena saya akan melakukan itu atas permintaan nyonya bukan anda." Ronan menatap Flo dengan tatapan yang sulit diartikan lalu membungkukkan badannya. "Semoga nyonya akan hidup bahagia dengan pilihan yang nyonya ambil, meskipun saya sangat menyanyangkan pilihan itu. Saya pamit pergi nyonya. Tetaplah sehat dan hidup bahagia." Setelah berkata demikian Ronan berbalik dan pergi dari hadapan mereka semua.


"Berandal ini!!" Winter kesal dengan ucapan Ronan dan akan menghentikan pria itu namun Flo menahannya.


"Sudah! Jangan membuat keributan, nanti orang orang akan berkumpul dan melihatmu!" Secepat kilat Flo mendorong Winter agar pulang ke kediaman Agustin ke arah yang berlawanan dari Ronan.


..


Flo dan Winter sudah berada dalam mobil setelah mengucapkan salam perpisahan dengan Agustin dan Altez juga beberapa pelayan tadi. Bahkan Altez menangis tersedu sedu dan mengingatkan Flo berkali kali agar sering mengirim surat untuk memberitahu kabarnya.


Flo tersenyum, perasaan lega menyambangi hatinya. Perasaan damai dan lega sekaligus yang lama tidak pernah dia rasakan, mungkin karena kini dia bersama Winter atau juga segala persoalan hatinya telah selesai. Namun ketika Flo melihat Winter yang mengemudikan mobil, senyum Flo menyurut. Wajah pria itu masam, pandangannya matanya tajam dan tidak bersahabat.


"Sebenarnya apa yang membuat Winter tidak senang dari tadi??" Flo mengelus lengan Winter.


Pria itu mendengus kesal. "Aku masih tidak terima Ronan menghampirimu lebih dulu dari aku tadi pagi. Aku juga tidak terima dia mengawasimu meski itu sedikit menguntungkan aku karena kamu pasti aman. Mengingat keahlian dia dalam membela diri. Aku juga tidak terima dia mempunyai perasaan lebih padamu. Aku tidak terima dia mengingatkan kalau pilihanmu untuk bersamaku itu tidaklah tepat. Aku juga tidak..."


Meski masih sedikit kesal tapi Winter tersenyum karena tidak akan bisa membuat istrinya khawatir lagi. Lalu Winter memegang tangan Flo dan membawa kebibirnya lalu mengecupnya dalam. "Baiklah, sekarang kita akan menuju tempat ayah. Beliau tinggal di kota xxx dan akan memakan waktu 3 hari menggunakan mobil. Buatlah dirimu nyaman."


"Iya." Flo tersenyum dan menatap keluar jendela. "Aku sangat berharap bisa bertemu ayah lagi, karena beliau adalah orang pertama yang menyayangi dan memperhatikan aku. Beliau sudah seperti ayahku sendiri, aku berharap bisa bertemu dan tinggal bersama dengan ayah."


"Iya. Aku juga berharap bisa tinggal dengan ayah sebagai seorang putra. Kita akan tinggal bersama sebagai putra dan menantunya."


****


Perjalanan mereka tidak terasa lama mungkin juga karena Winter dan Flo sangat bahagia bersama, meski lelah dan harus bermalam dimobil namun tidak masalah bagi mereka. Karena jika menyewa hotel ataupun penginapan maka mereka mungkin harus menunjukkam tanda pengenal yang sangat mustahil bisa mereka tunjukkan.

__ADS_1


Mobil Winter menepi di depan satu rumah dengan perkarangan yang luas, banyak pohon rindang mengitari rumah itu. Michael sedang berdiri dan menghirup udara pagi yang segar di daerah pinggiran desa itu, dia menaikkan alisnya begitu melihat sebuah mobil menepi.


Mereka bertiga duduk berhadapan dan meminum teh panas, "Aku akan benar benar tertipu jika saja Ethan tidak mengirim surat dan menceritakan semuanya." Michael mengambil gelas teh nya. "Aku mendengar terjadi sesuatu denganmu saat melakukan dinas, lalu Ethan diangkat menjadi duke baru.. aku merasa sangat.." Michael menghela nafas kasar dan tidak bisa melanjutkan kata katanya.


Winter merasa bersalah telah membuat ayahnya khawatir sampai seperti ini, "Ayah, maafkan aku."


"Sudahlah..." Michael memandang putra satu satunya itu. "Kalau dipikir pikir semua ini bisa terjadi karena aku yang telah membuat kesalahan terbesar. Padamu dan juga.." Michael memandang Flo dengan sayang. "Padamu Flower."


"Jadi bagaimana rencana kalian kedepannya??"


Winter dan Flo saling berpandangan dan tersenyum. "Kami akan tinggal di negara xxx sebagai pasangan suami istri biasa dan membuat identitas baru."


"Membaca buku yang belum aku baca, belajar sesuatu yang tidak bisa aku pelajari selama jadi duke dan membuat anak yang banyak." Tambah Winter.


Flo mencubit pelan lengan Winter membuat semuanya terkekeh.


Michael tersenyum menatap anak dan juga menantunya. "Baiklah, tapi sebelum ke negara xxx aku harap kalian bisa tinggal disini beberapa waktu."


Flo bangun dan merangkul lengan Michael dengan manja. "Aku memang menginginkan itu ayah."


"Anakku, Flower." Michael tersenyum dan membelai sayang kepala Flo.


.


.

__ADS_1


.


Halo kakakk aku ga bosen bosen untuk remind like komen dan vote nya yaaah maaci ❤❤❤😘


__ADS_2