
Setelah kedatangannya kemarin, Ethan benar benar menghampiri Flo setiap hari berupaya membujuk wanita itu agar pulang bersamanya secara tidak langsung dan tidak memaksa. Namun Flo tetap bersikukuh tidak menjawab apapun dan mengabaikan sikap Ethan. Hingga hari ke 15 Ethan tetap datang bahkan kali ini pagi pagi sekali, begitu Flo membuka pintu untuk berjemur dan menghirup udara segar dia sudah melihat Ethan berdiri di teras menikmati pemandangan dengan cangkir teh hangat yang diseduh.
Kening Flo berkerut sebal. "Apa apaan ini?!"
Ethan tersenyum lebar menyambut Flo. "Kebetulan aku merebus air panas tadi dan menyeduh teh. Apa kamu mau??"
"Ethan...!" Flo menghela nafas panjang. "Tolong jangan lakukan hal yang sia sia, kamu begitu sibuk mengurus pekerjaanmu dan masih setiap hari kesini. Jarak yang harus ditempuh bukan 1 2 kilometer! Lagi pula bukankah aku sudah bilang aku tidak akan kembali?"
"Iya iya..!" Ethan malah tertawa lebar mendengar omelan Flo. "Aku sedang ada urusan disekitar sini makanya sekalian kemari dan jangan pikirkan aku. Lagipula aku sudah meminjam halaman rumah ini pada tuan Simon. Ayo minum teh!" Pria itu malah menuang secangkir teh lain untuk Flo.
Flo berdecak sebal. "Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa sifat orang itu tidak bisa diubah! Ternyata itu berlaku juga untukmu ya!"
"Hahaha!" Ethan semakin tertawa senang. "Kebiasaan aku untuk selalu menggoda dan mengganggu kamu kan memang ada sejak kita kecil." Ethan meletakkan cangkir teh yang dia pegang sedari tadi. "Baiklah kalau begitu aku mau melanjutkan urusanku disekitar sini. Kamu bersantai santai saja yah! Aku permisi." Ethan menundukkan kepalanya dan pergi berjalan keluar.
Flo hanya mengerutkan bibirnya melihat kepergian Ethan, dia tau pria itu tidak akam jauh pergi dari sini.
Urusan apa ditengah gunung seperti ini?! Dasar pembohong! Bena benar keras kepala ugh!
Memang benar dugaan Flo, Ethan tidak pergi jauh dari sana. Dia hanya menuju tempat lapang di dekat sana dan berlatih pedang yang dipinjamnya dari Simon.
Dengan memakai batang pohon tua sebagai lawan latihannya Ethan serius berlatih seorang diri sampai ada suara tepuk tangan dari arah belakang.
__ADS_1
Simon muncul dan memasang wajah kagum pada Ethan sambil bertepuk tangan. "Keahlian berpedang yang sangat bagus! Saya selama ini selalu percaya diri memuji keahlian sendiri tapi melihat kepiawaian tuan dalam menggunakan pedang saya menjadi rendah diri." Simon tersenyum. "Apa tuan kembali lagi untuk menjemput beliau?"
Ethan menghela nafas panjang. "Bagaimana bisa saya membawa orang yang begitu bersikeras tidak mau pergi. Huff mungkin seiring berjalannya waktu pemikirannya bisa berubah karena tidak ada hal yang tetap di dunia ini." Ethan menatap Simon sejenak. "Kalau dia benar benar menginginkan untuk tinggal disini maka saya juga hanya bisa menurutinya tapi saya hanya ingin tau apa yang dia pikirkan. Itu saja..."
Simon terdiam mendengar ucapan Ethan, "Pemikiran nona yah..." Simon hendak berjalan kembali menuju rumahnya namun berhenti sebentar. "Datanglah mengintip ke kamar nona pada malam hari nanti, maka anda akan tahu apa yang nona pikirkan."
Seharian Ethan menyibukkan diri, dengan bantuan Simon juga beberapa warga sekitar dia bisa menemuman tempat tinggal sementara yang tidak jauh dari rumah Simon. Hingga malam tiba, Ethan berjalan menghampiri rumah Simon untuk melakukan apa yang pria itu katakan pagi tadi.
Ethan melihat jendela kamar Flo tidak tertutup rapat dan lampu masih terang benderang dari arah dalam. Ethan mengendap dengan pelan menuju jendela kamar Flo.
Pasti ada alasan mengapa jendela ini tidak ditutup dengan rapat..
"Tolong angkat rok anda.." Suara Simon terdengar dari dalam membuat Ethan mengintip dengan segera karena penasaran.
Ethan terkejut bukan main melihat Simon membantu Flo mengoleskan obat pada luka kaki Flo yang selalu tertutup oleh rok panjang. Juga kedua tangan Flo yang selalu berbalut perban, kini Ethan melihat semuanya sampai dia menutup mulutnya tidak percaya.
Kaki Flo...?!
Simon menatap Flo, "Katanya pemikiran manusia bisa berubah seiring waktu."
"Kenapa anda tiba tiba berbicara seperti itu?" Tanya Flo. "Apa dia yang berbicara seperti itu??" Maksud Flo sudah pasti adalah Ethan.
__ADS_1
"Apakah alasan nona tidak ingin kembali adalah karena pemikiran nona sudah berubah??" Simon malah terus bertanya pada Flo.
"Hffttt." Flo menahan tawanya mendengar pertanyaan Simon. "Apa anda tahu harapan saya selama ini?" Flo memasang wajah serius. "Menjadi satu satunya milik pria itu. Pemikiran itu tidak pernah berubah sejak awal. Tapi... sekarang sudah waktunya untuk saya melepasnya."
Flo memejamkan matanya sejenak dan tersenyum getir. "Coba lihat kaki saya yang penuh luka ini. Dia orang yang bahkan tidak melirik dan menyentuh saya saat tubuh saya masih normal. Tapi.. apa yang bisa saya perbuat dan harapkan dengan tubuh seperti ini??"
"Dengan tubuh yang seperti ini, apakah dia akan memeluk saya? Apakah dia akan mencintai saya?? Sejak awal.. perasaan saya tidaklah ada artinya."
Simon terenyuh mendengar ucapan Flo. "...Biarpun begitu apa anda tidak merindukannya?"
"Tidak. Kerinduanku tidaklah penting." Flo menatap tegas Simon. "Saya tidak mau memeperlihatkan diri saya yang seperti ini padanya."
"Dari pada memperlihatkan diri saya yang seperti ini lebih baik dia mengira bahwa saya sudah mati."
Ethan terpaku berdiri diluar depan jendela kamar Flo, hatinya sangat sakit mendengar semua ucapan Flo namun dia tidak bisa berbuat apapun.
Malam itu Ethan kembali ke Luckingham, hatinya sangat gelisah dan terus memikirkan apa yang Flo ucapkan padanya tempo hari.
Orang yang sudah mati tidak akan pergi kemana mana.. kalau begitu..
Ethan mengepalkan tangannya erat, berganti pakaian dan memakai mantel tebalnya dengan tergesa. Menganbil kunci mobilnya dan dengan segera pergi meninggalkam Luckingham untuk mengejar waktu.
__ADS_1
Kota xxxx menjadi tujuannya, dalam pikirannya dia harus menemui Winter sekarang juga.