
Pagi ini Camell bangun lebih awal, bahkan matahari saja belum menampakkan sinarnya. Camell duduk memeluk lututnya sambil memegang alat komunikasi yang Winter berikan.
Alat komunikasi dari ayah, aku selalu membawanya kemanapun kecuali saat berkunjung ke wilayah bagian barat. Tapi sekarang aku selalu memastikan membawa ini, mungkin karena ada kejadian saat festival berburu itu. Meski sekarang aku baik baik saja dan mengatakan pada semua orang aku baik baik saja tapi perasaan gelisahku sulit untuk hilang.
"Astaga nona sudah bangun?? Pagi sekali??" Maya memasuki kamar hendak menyiapkan kebutuhan Camell pagi ini dengan hening tapi malah mendapati nona nya itu sudah duduk diatas ranjang. "Apa nona baik baik saja?? Tempat tidurnya ada yang tidak nyaman??" Wajah Maya kembali cemas.
Camell tersenyum tipis, sudah berapa ratus kali dia mendengar pertanyaan 'Apa kamu baik baik saja?' 'Bagaimana keadaanmu?' Dan pertanyaan sejenis itu sejak festival perburuan. "Sungguh aku baik baik Maya."
Meski khawatir tapi Maya juga tidak akan menanyakan lebih lanjut karena dia tahu pasti majikannya tidak akan merasa nyaman. Maya hanya tersenyum dan membantu Camell bersiap.
Siangnya Cailladen datang berkunjung, dan mereka menikmati teh bersama.
"Bagaimana kondisi nona??" Cai menatap Camell setelah sekian kalinya dia datang berkunjung dan tidak bisa bertemu akhirnya hari ini dia bisa melihat Camell juga.
"Saya sudah sangat baik baik saja dan saya juga tidak terluka." Camell lagi lagi hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Tapi nona benar benar hampir celaka." Cai memasang wajah sedih. "Saya benar benar minta maaf, harusnya saya sebagai pendamping nona bisa melindungi nona."
"Tuan Cai tidak perlu minta maaf."
"Saya benar benar merasa bersalah, saya adalah kesatria pendamping nona dihari itu dan berkata angkat mengangkat pedang untuk melindungi nona. Tapi pada kenyataannya nona hampir celaka." Cai tetap teguh merasa bersalah pada Camell.
Camell hanya tersenyum, dia juga sudah mendengar dari para pelayan dan dayang. Malam hari setelah kejadian Cailladen datang berkunjung tapi Camell tengah tidur untuk istirahat. Begitu juga hari berikutnya Cailladen dan Lloyd datang terus menerus dimalam hari tapi sayangnya Camell selalu tidur lebih awal.
Sepertinya tuan Cai benar benar merasa bersalah, padahal kan dia tidak bersumpah kesatria padaku secara resmi.
"Saya sungguh tidak apa apa. Bahkan sekarang saya sedang mencari kegiatan untuk dilakukan. Semua orang menyuruh saya untuk berdiam menenangkan diri tapi saya malah menjadi risih." Camell tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu."
"Saya berpikir untuk belajar naik kuda." Ucap Camell.
__ADS_1
Cailladen tersenyum. "Nona tidak bisa naik kuda??"
"Haha begitulah." Balas Camell. "Tapi setelah naik ternyata itu sangat seru, mungkin itu sesuai dengan kemampuan saya. Yah meski bicara itu selalu mudah tapi saya tudah tahu harus mulai dari mana."
"Saya akan membantu nona." Ucap Cai mantap.
"Ah? Tapi.." Camell sama sekali tidak bermaksud untuk meminta Cai mengajarinya berkuda.
"Nona kan tahu kalau saya juga sering berurusan dengan kuda istana dan para kesatria. Sejak awal saya memang menyukai kuda, jadi kalau nona butuh bantuan bisa bilang saja pada saya."
"Saya merasa terhormat jika dibantu oleh tuan Cai."
"Baiklah kalau begitu saya permisi dahulu karena masih ada pekerjaan yang harus diurus." Cailladen bangkit berdiri. "Saya juga akan memilih kuda yang bisa nona tunggangi untuk pemula."
"Terimakasih yah tuan Cai." Camell bangkit berdiri dan mengantar Cailladen keluar. "Hati hati saat bertugas."
Cailladen tersenyum melihat Camell, baginya senyum wanita itu cantik dan tanpa sadar Cai memegang lengan Camell membuat wanita itu tersentak. "Ah maaf!" Cai menjadi salah tingkah. "Maaf, ini karena nona wangi." Ucap pria itu gugup.
Camell tertawa kecil, "Tidak apa apa, ini adalah parfum pemberian tuan Cai. Saya memakainya."
"Masa??" Camell tertawa.
"Iya nona." Cailladen mengambil ujung rambut Camell yang panjang dan menciumnya sebelum dia pamit pergi membuat Camell bingung.
Eh??
..
Sementara saat malam tiba itu Lloyd berada dibagian belakang istana tempat para kesatria latihan, dia duduk menatap b*ngkai beruang eurasia yang sudah dalam proses diawetkan untuk penyelidikan. Dia terus menatap beruang besar yang hampir mencapai 3 meter itu.
"Tuan duke memanggil saya??" Kirion yang baru saja kembali bertugas dari luar menghampiri Lloyd.
__ADS_1
"Kirion." Lloyd memanggil pria itu.
Kirion menoleh kanan kiri. "Apa yang tuan duke lakukan disini tanpa pengawal??"
"Aku sedang berpikir mungkin saja ada sesuatu yang bisa aku dapatkan." Lloyd terus menatap beruang didepannya itu.
"Apa sudah mendapatkan sesuatu??" Kirion ikut menatap beruang itu.
Lloyd menghela nafas panjang. "Belum." Lalu menatap Kirion. "Kirion, kamu sudah bersumpah setia padaku kan??"
Kirion menaikkan alisnya menatap Lloyd. "Betul."
"Apa kamu bisa menepati sumpahmu dalam kondisi apapun???"
Kirion merasakan saat ini Lloyd akan memberinya perintah resmi dan langsung bersujud dengan satu lututnya sebagai tumpuan dan memberi hormat. "Tentu saja tuan duke."
Lloyd terdiam sebentar sebelum memberi perintah. "Ada yang harus kamu tangkap... pembunuh pamanku. Tuan Winter, duke terdahulu!"
"Apa?!!!" Reflek Kirion bangkit berdiri dan mendekati Lloyd. "Tapi tuan duke..!"
"Sepengetahuan orang orang beliau tewas dalam perang perluasan wilayah. Tapi ada informasi dia dibunuh... sehingga.. ayahku bisa naik tahta." Ucap Lloyd dengan ******* kasar. "Aku juga baru mengetahui ini tapi ada buktinya, awalnya aku tidak percaya! Alat perekam percakapan..."
"Ba.. bagaimana bisa?" Kirion semakin bingung.
"Dalam percakapan itu hanya terdengar suara beberapa orang, salah satunya ayahku. Pria dengan suara yang khas berkata menerima perintah ayah untuk membunuh tuan duke terdahulu dan membuatnya seolah olah tewas dalam perang." Lloyd memasang wajah sedih.
"Jadi.. maksud tuan duke, tuan Ethan duke terdahulu yang merencanakan ini???!" Kirion tidak percaya.
Lloyd hanya menganggukkan kepalanya, dia juga sulit untuk percaya apakah ayahnya seorang penghianat. Tapi Cyness mempunyai rekaman itu dan menunjukkannya pada Lloyd. "Iya ayah yang menyusun rencana itu. Akan sangat ribut kalau ini tersebar, jangan sampai bocor!"
"Ba.. baik!!" Kirion masih sulit untuk percaya, karena dia mengenal Ethan dengan baik dan mengetahui masa pemerintahan Ethan sangat menjunjung tinggi rakyatnya dan kejujuran. "Ta.. tapi bagaimana cara menangkap orang itu kalau hanya dari suara dan bahkan bukti itu tidak ada pada kita."
__ADS_1
"Kamu tahu kan kalau pendengaranku ini bagus." Lloyd tersenyum pias. "Logat pria itu yang berbicara dengan ayah, seperti orang wilayah timur. Dan juga pasti dia orang yang dekat dengan tuan duke terdahulu hingga bisa merakayasa kejadian saat perang."
Kirion mengangguk. "Baiklah petunjuk itu sudah cukup, aku akan mencari petunjuk lainnya."