Abandoned Flower

Abandoned Flower
Tunggu Aku Sebentar


__ADS_3

Camell tahu dengan jelas, bagaimana seorang duke berhak memiliki istri lebih dari satu. Mengambil seorang selir adalah jalan terbaik saat ingin memperluas kekuatan politik tanpa menimbulkan keributan. Bahkan ayahnya, Winter sendiri menceritakan bahwa dia memiliki 4 selir termasuk ibunya.


Meski di awal paman Ethan berkata bahwa hanya ada 1 duchess tanpa selir di pemerintahan tuan duke kali ini namun bukankah dia juga sedang menjalin hubungan dengan nona Cyness. Apakah dia berkata berusaha untuk membuatku bahagia adalah dengan kata lain dia akan berlaku adil pada semua istri istrinya?? Memang bisa berlaku adil pada semua istri merupakan budaya tindakan terpuji bagi bangsawan dan bukanlah aib di kekaisaran ini. Tapi aku tidak mau!!


Semakin Camell menyadari perasaannya semakin juga Camell sering disadarkan bahwa Lloyd juga mempunyai hubungan dengan orang lain selain dirinya dan semua itu semakin terasa berat baginya. "Saya tidak suka berbagi cinta." Tegas Camell kembali, "Itu menurut saya, saya tidak tahu bagaimana menurut Leo." Mata Camell terasa sedikit panas.


Lloyd menatap Camell. "Dia pasti juga tidak ada niat untuk membagi cintanya."


Camell reflek menatap Lloyd bingung dan kesal mendengar ucapan itu. "Kalau begitu seharusnya dia tidak memperlakukan saya secara khusus. Bersikap baik dan bersahabat memang baik. Tapi bukankah tidak seharusnya dia memperlakukan saya seperti sepasang kekasih?!!" Rasanya Camell marah atas semua perlakuan Lloyd padanya padahal pria itu juga menjalin hubungan dengan Cyness.


"Camellia??" Lloyd yang bingung hendak menjelaskan pada Camell, dia mendekat dan memegang tangan wanita itu. "Sepertinya kamu salah paham, aku..."


"Nona Camell???" Suara Irene dari depan mobil memanggil Camell.


Tanpa dua orang ini sadari, mobil sudah terparkir sejak tadi di samping istana. Dan Irene serta pelayan lainnya sudah menunggu untuk menyambut Camell.


"Irene??" Camell segera menjawab Irene. "Aku akan keluar sekarang."


"Saya minta maaf. Kami sudah menunggu tapi nona Camell tidak kunjung keluar. Kami juga dengar nona bersama pria tidak dikenal." Irene menyambut Camell dan melirik kearah Lloyd yang menyamar.


"Tidak apa apa. Beliau adalah tamu tuan duke. Tolong antarankan beliau ketempat tuan duke yah!" Camell meminta tolong pada pelayannya.


"Silahkan kesini." Pelayan itu membuka jalan untuk Lloyd. Pria itu menatap Camell karena pembicaraan mereka masih belum selesai dan menggantung, namun Camell memalingkan wajahnya membuat Lloyd mau tidak mau mengikuti pelayan itu dan pergi dari sana.


Setelah Camell membiarkan Lloyd pergi seperti diusir dia langsung masuk dan membersihkan dirinya. Tidak membutuhkan waktu lama teleponnya berdering dan ada telepon dari Lloyd.


Apa masih ada yang ingin dia katakan?? Saat ini aku tidak ingin berbicara dengannya. Seolah fisik dan batinku lelah!

__ADS_1


Tapi Lloyd tidak menyerah semudah itu, bahkan sampai dengan selesai jam makan malam telepon itu tidak berhenti berdering. Lloyd terus menghubungi Camell sampai kesabarannya habis.


Malam hari sebelum Camell tidur, dia menyambar telepon yang masih saja berdering itu memberikannya pada Maya. "Tolong kembalikan telepon ini besok pagi yah! Kamu serahkan saja ke kantor administrasi istana."


Maya membelakkan matanya melihat telepon yang masih saja berdering itu, meski banyak pertanyaan dalam kepalanya namun dia tidak akan bertanya apa apa pada majikannya ini. "Oh? Baik nona Camell."


"Tolong yh!" Camell menatap Maya yang mengambil telepon itu dan membawanya keluar.


Syukurlah yang bertugas malam ini Maya, setidaknya dia tidak akan bertanya alasannya apalagi sampai menyebarkan gosip.


Camell segera membaringkan dirinya dan hanya ingin tidur. Dia pun menyadari bahwa dengan mengembalikan telepon itu akan menghindarkan dia berkomunikasi dengan Lloyd hanya sesaat. Hanya pelarian diri yang singkat, dia sudah tahu itu..


..


"Gawat!!" Maya terburu buru masuk kedalam kamar CamellĀ  dan menemui majikannya yang baru saja selesai bersiap pagi ini. "Gawat nona Camell!! Tuan duke sekarang sedang menuju kesini!!" Panik Maya.


Irene pun dengan sigap memerintahkan untuk menyiapkan hidangan serta teh. "Baiklah, tolong semua tenang dan siapkan camilan dan teh nya dahulu!"


Camell menatap dengan senyum pias dayang juga para pelayannya yang sibuk menyiapkan ini dan itu mendengar Lloyd datang.


Kan baru tadi pagi Maya mengembalikan telepon itu dan dia sudah datang secepat ini?! Ini juga masih pagi! Aku memang tahu dia pasti akan datang tadi tidak secepat ini juga sih...


Begitu rombongan Lloyd tiba mereka langsung menyambutnya. Irene sebagai kepala dayang menyambut dan meminta maaf untuk kekurangan dalam menyajikan hidangan karena kedatangan Lloyd yang mendadak.


"Tidak apa apa, jangan dpikirkan. Ini sudah cukup, terimakasih banyak." Ucap Lloyd. "Baiklah kalau begitu kalian.."


"Biarkan mereka disini tuan duke." Selak Camell. "Bukankah penuh semangat dan menyenangkan jika banyak orang dalam ruangan? Lagi pula ini masih pagi." Meski Camell mengucapkan kalimatnya dengan senyuman, siapapun tahu kalau ada hawa dingin dalam situasi ini.

__ADS_1


Lloyd terdiam sebentar menatap Camell lalu menghembuskan nafasnya. "..Baiklah tentu saja." Pria itu menjeda. "Aku dengar kemarin kamu ke panti asuhan Sung Ferryard?"


"Benar sekali tuan duke." Lugas Camell. "Syukurlah semua kegiatan dipanti berjalan dengan lancar dan pengamatan juga dilakukan dengan baik."


Lloyd mengambil cangkir teh nya. "Baguslah kalau begitu, aku tahu jika pengamatanmu tidak akan salah. Jadi itu alasan juga untuk kamu mengembalikan teleponnya? Karena sekarang semua kegiatan sosial sudah beres??"


"Iya karena kegiatan sosial sudah selesai, kunjungan dan pengamatan panti juga sudah beres. Saya rasa saya tidak memerlukan telepon itu lagi." Camell menjawab tegas.


"...Benar hanya karena itu??" Ulang Lloyd tidak puas. "Ucapanmu padaku kemarin..."


Camell mengernyitkan alisnya dan akan menduga arah pembicaraan Lloyd. "Saya tidak bertemu dan berbicara dengan tuan duke kemarin." Tegasnya lagi.


Lloyd mendesah kasar mendengar ucapan Camell. "Benar." Pria itu menundukkan kepalanya.


Reaksi apa itu?? Katanya dia tidak berniat membagi cinta.. itu jelas artinya kalau dia akan tetap bersama Cyness kan??? Kalau dia bilang aku salah paham.. apa maksudnya dia akan memilih aku bukan Cyness? Masa iya begitu?? Rasanya tidak mungkin.


"Sekarang sudah hampir musim dingin yah??" Camell mencoba untuk mencari tahu sekali lagi. "Berarti festival berburu akan segera diadakan. Dan pasangan tuan duke saat festival adalah orang yang sama saat dipesta sebelumnya kan??"


Lloyd terdiam cukup lama dan baru menjawab. "..Iya."


Camell tersenyum pias. Harapanku hancur lebur. Perasaanku juga memburuk. Aku tidak bisa begini terlalu lama. Semakin aku menyukainya hatiku semakin terluka.


Camell langsung bangkit berdiri, "Saya minta maaf tuan duke. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan pagi ini."


"Iya baik. Ayo kita sudahi ini." Lloyd pun bangkit berdiri.


Saat Camell berjalan mengantarkan Lloyd kedepan pintu, pria itu berkata rendah disebelah Camell. "Tadinya aku hendak mengatakan sesuatu padamu, tapi sepertinya kamu juga tidak mau mendengar apa apa." Lalu Lloyd menggenggam jemari Camell singkat. "Tunggulah aku sebentar Camell."

__ADS_1


Camell hanya menatap kepergian Lloyd dengan nanar, baginya hingga kini pertanyaan hatinya masih belum mendapatkan jawaban pasti.


__ADS_2