
Winter menanti dengan sangat cemas diluar kamar, menanti Flo yang berjuang di dalam seorang diri melahirkan anak kedua mereka.
Altez memeluk Camellia dan duduk dikursi memperhatikan Winter yang tidak berhenti mondar mandir sedari tadi.
"Bibi Al!" Camell menarik tengkuk Altez dan berbisik. "Apa ayah secemas itu saat kelahiranku juga??"
Altez membelakkan matanya lalu sedikit terkekeh mengingat Winter saat kelahiran Camellia, pria itu bersikukuh ingin menemani Flo dalam proses melahirkan dan berakhir dengan tidak sadarkan diri dalam kamar bahkan sebelum Camellia keluar. Bukan Winter takut akan darah, dia terbiasa melihat darah namun melihat darah yang begitu banyak keluar dari tubuh Flo saat proses melahirkan membuatnya tidak kuat dan pingsan begitu saja.
"Ayahmu bersikap lebih tenang saat kelahiranmu, mungkin karena kakekmu berada disini saat itu." Altez membalas berbisik pada Camell.
Tentu saja maksud dia tenang adalah karena Winter tidak bersuara lagi saat tidak sadarkan diri.
"Owaaaaaaaak! Owaaakkk!" Terdengar suara tangisan dari dalam dan membuat mata Winter berbinar bahagia begitu juga Altez dan Camell.
"Selamat!! Anak laki laki!" Bidan itu keluar dari kamar dan membawa bayi laki laki pada Winter yang dibalut dengan selimut hangat.
Setelah bidan tersebut selesai melakukan tugasnya, kini tinggal Flo yang masih berbaring dan melakukan sentuhan pertama dengan anak keduanya. Winter datang menghampiri Flo dan mengusap kening Flo yang lembab. "Terimakasih sayang kamu sudah berjuang keras untuk anak kedua kita."
Flo tersenyum menatap Winter. "Apa kamu sudah menyiapkan namanya?"
"Sudah!" Winter duduk disisi kasur Flo dan mengeluarkan secarik kertas. "Galanthus nivalis Ferkalon. Seperti biasa kita akan menyembunyikan nama Ferkalon itu sampai saatnya tiba." Winter terkekeh.
"Galanthus Nivalis." Flo tersenyum lebar. "Kedua anak kita diberi nama bunga, bunga yang hanya tumbuh saat musim dingin. Camellia dan Galanthus." Flo mengecup sayang bayi mungilnya. "Galant, aku akan memanggilnya seperti itu."
"Galant, anakku sayang." Winter ikut memeluk Flo beserta anaknya.
"Dimana Camell? Bukankah dia tidak sabar bertemu dengan adiknya??" Flo melirik kearah pintu.
__ADS_1
"Dia sedang memetik bunga bersama Altez ditaman, katanya akan dihadiahkan untuk adiknya."
Tepat setelah Winter selesai bicara, pintu kamar terbuka lebar. Gadis cilik berambut coklat pekat itu masuk dan tersenyum yang lebar dengan seikat bunga ditangannya.
"Dimana adikku??" Tanya Camell begitu semangat. Setelah bola matanya mendarat pada bayi mungil dipelukan ibunya dia langsung tersenyum begitu cantik. "Kakak membawakan bunga untukmu!!"
****
3 orang pelayan di Luckingham berjongkok dan memungut kelopak bunga lilac yang gugur dimusim semi ini pada malam hari. "Aku akan membuat wewangian dari kelopak bunga yang dikeringkan, kalau memasukkannya kedalam bantal maka kita bisa tidur dengan nyenyak." Ucap seorang pelayan
"Aku suka sekali wangi bunga lilac, sangat membuat hati tenang, musim semi memang terbaik." Pelayan lain menimpali.
"Benar. Benar." Mereka dengan riang kengumpulkan kelopak bunga kedalam kantung kain.
"Eh omong omong apa kalian sudah mendengar gosip itu?" Ucap pelayan yang paling senior.
"Katanya di taman pintu barat dekat danau ada yang melihat hantu duke terdahulu dan nyonya duchess sebelumnya." Ucap pelayan itu setengah berbisik.
"Apa yang kamu bicarakan?! Jangan membuat takut, ini sudah tengah malam dan kita berada dekat dengan taman pintu barat." Pelayan lainnya bergidik ngeri.
"Serius??" Pelayan satunya tidak percaya.
"Katanya ada yang melihat mereka berjalan jalan di pinggir danau, atau saling berbincang dibawah pohon lilac." Pelayan senior itu serius membicarakan gosip yang beredar.
"Ah kalau dipikir pikir itu tidak masuk akal." Ucap salah satu pelayan. "Dulu kakakku bekerja disini, katanya hubungan antara duke terdahulu dengan mantan duchess tidak begitu baik. Mereka sering terlibat adu emosi dan banyak masalah."
"Tidak ada yang tahu pasti tentang itu." Pelayan senior itu menengahi. "Kalau setelah jadi hantupun mereka masih terlihat bersama, mungkin saja sebenarnya mereka saling menyayangi."
__ADS_1
"Benar juga, karena kehidupan istana tidak seperti yang terlihat dari luar. Disini bukan tempat kita bisa menjalani kehidupan sesuka hati. Tiba tiba aku jadi sedih kalau memikirkan ini." Pelayan itu berdiri setelah selesai memenuhi kantongnya dengan kelopak bunga. "Mungkin saja mereka berdua saling mencintai."
Pelayan yang lain terdiam tidak ikut menimpali meski dalam hati mereka memikirkan hal yang sama.
Tiba tiba angin bertiup kencang dan membuat bunga lilac berterbangan seperti salju musim dingin.
"Waaaah.. ini sangat indah!" Ucap pelayan senior dan mereka bertiga berjalan kembali pulang ke kediaman utama.
"Aku kira kita akan ketahuan." Flo dan Winter cekikikan dibalik pohon lilac yang paling besar disana. "Aku gugup sekali!" Flo menangkup kedua tangannya.
"Aku juga!" Winter terkekeh. "Setiap tahun kita datang kesini saat kamu ingin melihat bunga likac bermekaran. Tapi kalau kita terus melakukan ini, cepat lambat pasti kita akan ketahuan."
Flo tersenyum jahil menatap Winter. "Memang apa masalahnya, toh mereka tetap mengira kita adalah hantu."
"Hhftt.." Winter menahan tawanya. "Benar juga." Lalu dia menarik perlahan kepala Flo agar bersandar dibahunya. "Meski setiap tahun melihat ini tapi aku tidak pernah berhenti berkata indah, ini indah sekali."
Flo mengangguk setuju melihat hamparan bunga lilac yang berterbangan, dan bunga bermekaran yang masih tetap didahan pohon. "Indah..." Ucap Flo sambil memejamkan mata, "..Serta momen saat bersamamu ini."
Flo tertidur dan bermimpi saat saat dia pertama bertemu Winter dibawah pohon lilac ini, saat mereka berdua masih kecil. Pertemuan pertama mereka yang disertai senyuman hangat dan aroma bunga lilac yang semerbak. Winter yang menatapnya penuh cinta dihari pertama mereka bertemu.
"Carilah wanita yang seperti bunga pir, indah dan aromanya lembut serta bisa menghasilkan buah yang enak. Hanya wanita itulah yang bisa berada disisimu selamanya..." Teringat ucapan mendiang ibunya, seperti itulah Winter jatuh cinta pertama kali pada Flo.
..
Winter tersenyum melihat Flo yang tertidur nyenyak dipundaknya, "Sepertinya kamu bermimpi sangat indah yah..." Winter menyingkap sulur rambut dikening Flo. "Baiklah kita akan disini lebih lama sebentar lagi.."
Kita akan disini lebih lama.. sampai bulan dan bintang mengikuti jalurnya tenggelam dibalik gunung itu.
__ADS_1
Fin