Abandoned Flower

Abandoned Flower
Kenapa..


__ADS_3

Summer berjalan jalan malam hari melewati istana bunga milik Flo, dia mengeratkan kepalan tangannya. Suara tangisan Altez hingga malam hari ini masih saja terdengar, malam itu bulan bersinar terang namun duka yang menyelimuti istana bunga seakan membuat redup cahaya bulan.


3 hari menjelang pernikahan.. meski awan gelap sudah berlalu tapi kenapa resah dihatiku belum sirna??


Summer terdiam di depan gerbang kediaman Flo, dia menghela nafas panjang.


Semoga anda selalu tenang disana nyonya Flower.


..


Pagi hari begitu cepat datang, para pengawal ribut ribut di depan kediaman Winter hingga Dylan datang. "Ada apa?? Mana tuan Winter?? Beliau belum bangun? Apa tuan Winter sakit yah?"


"Beliau sejak pagi tidak membuka pintu dan juga tidak keluar." Ucap salah satu pengawal.


"Apa selir Alesha masih di dalam??" Dylan berspekulasi.


"Tidak, nyonya Alesha sudah pergi sejak tengah malam tadi." Pengawal itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena dia pun heran dengan situasi yang terjadi. Terlebih lagi semalam Alesha keluar dari kamar Winter dengan wajah kesal seperti diusir begitu saja.


Dylan menghela nafas panjang, akhir akhir ini energinya sealan tidak cukup untuk melayani Winter seorang diri. Ronan sialan!


"Padahal matahari sudah tinggi."


Lalu Dylan berjalan masuk dan mengetuk pintu kamar Winter. "Tuan Winter, ini saya Dylan. Ijinkan saya masuk." Dylan membuka pintunya dan berjalan masuk. Namun dia sangat terkejut mendapati Winter duduk dengan hanya menggenakan celana panjang tidur miliknya tanpa menggenakan pakaian. Rambut pria itu yang selalu tertata dengan baik kini berantakan, wajahnya juga memancarkan aura gelap dan matanya menatap dengan pandangan kosong.

__ADS_1


"Tuan Win..."


"Dylan..." Ucap Winer datar.


"Ah? Iya ada apa tuan Winter?"


"Panggil lagi selir Alesha kesini." Ucap Winter.


Dylan semakin tidak memahami Winter, "Tapi tuan ini sudah.."


"Panggil Alesha kesini sekarang!!" Winter menatap Dylan dengan tatapan mematikan, pria muda itu langsung menunduk dan segera melaksanakan perintah Winter.


Dylan membuka pintu dan menemui para pengawal. "Kamu, katakan pada para petinggi bahwa tuan Winter akan sangat terlambat dalam mengikuti rapat." Dia menunjuk seorang pengawal dan seorang lainnya. "Kamu! Perintahkan selir Alesha untuk kesini." Setelah memerintahkan pengawal, Dylan memijat keningnya. "Aduhh gajiku harusnya naik 3 kali lipat."


Tidak butuh waktu lama sampai Alesha datang ke kamar Winter, berbeda dengan semalam. Senyuman sama sekali tidak menghiasi wajah Alesha, dia kesal sekali pada Winter yang meperlakukannya dengan kasar dan sekarang memanggilnya kembali terlebih semua orang dikamar tidak keluar meninggalkan mereka berdua. Tentu saja memadu kasih bukanlah tujuan Winter apalagi wajah pria itu terlihat sangat seram sekarang. "Buka bajumu!" Tegas Winter.


"Aku bilang buka bajumu!!!!" Teriak Winter.


Dylan menyuruh ketiga pelayan wanita itu untuk melakukan tugas yang diperintahkan lalu Dylan membalikkan badannya. Meski status Alesha adalah seorang selir namun kedudukan keluarganya juga merupakan bangsawan Baron. Dylan merasa tidak sepantasnya juga dia melihat Alesha dipermalukan begitu.


Para pelayan wanita itu melepas baju Alesha hingga menyisakan ********** saja. "Balik badanmu!" Titah Winter.


Dengan perasaan malu dan terhina Alesha menahan tangisnya dan memutar badan.

__ADS_1


"Kenapa tidak ada bekas luka pada tubuhmu?!!" Winter menjadi sangat marah. "Kenapa tubuhmu baik baik saja?! Apa Flo tidak mendatangimu dan mencambukmu?!"


Dylan sontak semakin terkejut dan dengan heran menatap Winter. "Tuan..."


Winter memijat keningnya. "Apa Flo belum mendengar bahwa aku menghabiskan malam dengan Alesha??" Winter terdiam sebentar. "Sepertinya tidak begitu..." Lalu dengan kasar Winter mencengkram bahu Alesha. "Katakan yang sebenarnya!! Kenapa tubuhmu baik baik saja?!! Kenapa kamu tidak terluka sedikitpun?!!!" Perlakuan Winer terang saja membuat Alesha ketakutan hingga menangis.


"Tuan Winter tenangkan diri anda!" Dylan berusaha menengahi kejadian itu dan segera menyuruh pelayan membawa Alesha pergi. "Nyonya Flo sudah tiada, beliau sudah meninggal ditangan para parampok itu."


Winter semakin geram mendengar ucapan Dylan, dia langsung menarik pedang pada atribut seragam Dylan. "Coba katakan sekali lagi!!! Apa harus kopotong dulu lehermu baru sadar?? Jangan bicara omong kosong lagi!! Jika kamu berani berkata Flo sudah meninggal maka aku tebas lehermu dan memotong motong tubuhmu dan menaruhnya ditiap jalan!!" Winter menghunus pedang itu pada leher Dylan. "Siapapun itu!! Jika ada yang berani berkata omong kosong itu lagi, akan kurobek mulutnya dengan pedang ini saat itu juga!! Mengerti?!!!" Semua pengawal dan juga Dylan disana memasang wajah tegang dan ketakutan karena Winter benar benar menggila saat ini.


"Apa apaan semua kekacauan ini?!!!" Suara menggelegar itu membuat semua orang disana terkejut.


"Tu.. tuan duke terdahulu?!" Dylan langsung menunduk memberi hormat. "Hormat kami pada tuan Michael!! Apa selama ini anda sehat sehat saja??" Semua pengawal juga mengikuti Dylan menunduk memberi hormat.


"Ayah..." Winter menatap Michael gusar.


"Dylan!! Bereskan semua kekacauan ini." Michael memberi perintah dan Dylan langsung keluar untuk membereskan kekacauan yang telah Winter buat.


Michael menatap Winter marah. "Dasar bodoh!! Apa yang kamu lakukan setelah meniduri selirmu sendiri?! Mempermalukan bangsawan lainnya! Apa kamu tahu akibat dari semua ini?!" Michael menarik nafas panjang, "Coba kulihat, apa kamu juga akan merobek mulutku?? Flower sudah meninggal! Terimalah hal itu!!"


Tubuh Winter begetar, pedang yang dia pegang jatuh kelantai bersamaan dengan tubuhnya. 'Brrukkk!'


Nafas Winter sedikit tersengal,

__ADS_1


Kenapa...?! Padahal dia akan datang jika aku menunggunya sebentar!! Dia akan datang seperti waktu itu, kenapa ayah berkata seperti itu?!! Kenapa?!!


Dylan yang baru kembali melihat Winter tersungkur dilantai seakan kehilangan nyawanya, "Tuan winter?!!"


__ADS_2