Abandoned Flower

Abandoned Flower
Siap Mencintaimu Sepenuhnya


__ADS_3

Perjalanan jauh itu tidak terasa berat kali ini baik untuk Ethan maupun Winter. Namun perasaan Winter campur aduk, dia sangat merindukan dan ingin melihat Flo namun ada perasaan takut juga dalam hatinya.


Meski memperlambat langkah sekalipun dan mengukur waktu, akhirnya tiba juga Winter di tempat kediaman Simon. Winter meminta Ethan untuk berdiri dari kejauhan saja, dia hanya ingin melihat Flo.


Hari sudah siang, matahari mulai tinggi. Rumah itu cukup sepi terlihat dari luar namun Winter dengan sabar menunggu dari jauh untuk melihat.


"Nona! Nona!!" Hallie berjingkrak jingkrak berteriak memanggil Flo. "Nona cepat keluar!!!"


Pintu itu terbuka dan Flo keluar. "Ada apa kamu ribut ribut begitu??"


"Kelincinya sudah melahirkan!!" Hallie berjingkrak dan mengamit jemari Flo.


"Benarkah???" Wajah Flo berseri seri.


"Iya!" Hallie menarik narik tangan Flo kearah taman samping. "Ayo cepat kita lihat!!"


Flo berjongkok dekat kandang kelinci itu, "Tapi apa kita boleh melihatnya?? Setau aku, kelinci itu binatang yang sangat sensitif."


"Ugh!" Hallie yang masih berusia 6 tahun jelas tidak mengetahui hal itu. Ekspresi terkejutnya membuat Flo tertawa lebar.


Winter mengamati interaksi Flo dan Hallie dari kejauhan. "Ternyata benar... dia masih hidup." Ucap Winter lambat lambat. "Flo masih hidup."


"Ayo, kamu harus menemui dia." Ethan mengajak Winter untuk bertemu Flo.


"Tidak. Aku cukup melihatnya saja." Tatapan Winter tidak lepas dari Flo yang tertawa bersama Hallie. "Aku cukup melihat dia masih hidup dan baik baik saja. Itu sudah cukup bagiku." Tatapan mata Winter menjadi sendu menatap Flo.

__ADS_1


Ternyata... kelopak matanya seindah itu... bibirnya juga sangat cantik. Entah kenapa, meski aku telah memandangnya lama begini aku takut begitu aku membuka mata wajahmu hilang dari benakku. Meski sudah kupandang lama seperti ini aku takut, ketika aku berbalik.. aku tidak ingat wajahmu lagi..


Flo dengan reflek menatap kearah hutan seperti merasakan sesuatu disana membuat Hallie bingung. "Ada apa nona??"


"Ah tidak, sepertinya ada hewan liar disana." Flo menatap curiga kearah hutan.


"Owh!" Hallie mengangguk kecil. "Aaah sepertinya ayah sudah pulang!! Aku mendengar suaranya!" Hallie berlari menuju pintu depan rumah dan menyambut Simon.


"Hati hati." Flo tertawa melihat Hallie yang berlari kedepan.


Kedua kaki Flo terasa sangat nyeri, dan secepatnya dia mendudukkan dirinya dikursi teras samping.


"Akh!" Flo merasakan kulit kakinya sakit, luka akibat terbakar memang sudah sembuh namun bekas luka dan kulit yang terkikis itu sering terasa sangat menyakitkan saat Flo berjalan maupun berdiri lama. Tangan Flo sampai bergetar karena meremas rok panjang yang dia kenakan untuk menaham rasa sakit, setelah rasa nyeri itu sedikit lewat, Flo menutup wajahnya dan mengatur pola nafasnya yang terengah karena letih.


"Rupanya... dia tidak lemah." Winter terus menatap kearah Flo. "Dia sangat kuat. Selama ini aku pikir dia sangat lemah, tidak tahu rasa sakit. Rupanya dia sedang bertahan sekuat tenaga."


Ethan menipiskan bibirnya. "Selama ini dia selalu bertahan sekuat tenaga, meski sangat lemah dia selalu memperlihatkan sisi kerasnya." Ethan menatap Winter sendu. "Apa kamu benar benar tidak mau menemui Flo?"


"Iya!" Jawab Winter mantab. "Aku hanya mau melihatnya saja seperti ini."


Tak lama Hallie kembali muncul. "Nona! Nona!! Ayah membelikan saya sepatu baru!!!" Gadis mungil itu tertawa lebar sambil memperlihatkan sepasang sepatu berwarna merah cerah pada Flo. "Coba lihat ini! Cantik kan?!" Hallie menjejalkan kakinya pada sepatu berbahan kulit itu.


"Hahaha iya iya cantik!" Flo menyadari kehadiran Simon dan tersenyum menyambutnya. "Anda sudah pulang?"


"Apa anda merasa kesulitan saat saya pergi??? Ayo masuk aku akan bantu mengompres kakimu." Simon meletakkan keranjang bambu yang dia bawa saat berbelanja dipasar kota.

__ADS_1


Flo tersenyum lebar. "Tidak perlu buru buru. Istirahatlah dulu."


Winter merasa sedikit nyeri pada hatinya melihat Flo tersenyum begitu cantik pada pria lain, namun Ethan dengan cepat memberitahu Winter bahwa Simon adalah pria yang menyelamatkan Flo dari kobaran api dimalam itu membuat Winter menenangkan hatinya lagi.


Hingga larut malam tiba, Winter dan Ethan tetap bertahan pada posisi itu. Saat sudah menjelang pukul 1 dini hari dengan mengendap endap Winter mendekati jendela kamar Flo yang sudah gelap.


Winter memegang jendela yang terbuat dari kayu itu dan tersenyum.


"Aku akan menunggu.. sampai kita bisa saling memberikan apa yang paling kita inginkan satu sama lain."


Tiba tiba Winter terdiam dan mengingat ucapan Flo.


"Jika kamu hanya nelayan biasa maka aku akan jadi wanita yang merajut jaring!! Jika Winter adalah rakyat biasa maka aku juga akan menjadi orang biasa!!"


Winter memegang keningnya yang terasa sakit dan jatuh bersimpuh.


Tidak!!! Semua ini bohong! Perasaanku.. keinginanku.. sebenarnya aku ingin langsung membuka pintu dan mendekapmu erat dalam pelukanku. Aku.. sangat ingin.. bersamamu!


Setelah berusaha menenangkan dirinya Winter kembali menghampiri Ethan yang masih menunggu di semak hutan, "Ayo kita pulang ke Luckingham."


"Tapi Winter..."


"Kalau berangkat sekarang kita bisa tiba sebelum fajar." Winter kembali memakai mantel panjangnya lalu menatap Ethan. "Jangan berekspresi seperti itu." Winter terkekeh singkat melihat wajah Ethan yang sendu. "Perasaanku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Seperti dia yang bertahan dari semua rasa sakit dan penderitaan selama ini.. aku juga pasti bisa bertahan. Aku akan jadi pria yang pantas untuk Flo." Winter menatap rumah sederhana itu dengan pandangan yang sukar diartikan. "Sekarang aku akan menjadi pria yang pantas bagi Flower Amber. Wanita yang tidak ada bandingannya."


Sekarang aku sudah siap mencintaimu sepenuhnya!

__ADS_1


__ADS_2