Abandoned Flower

Abandoned Flower
Hati Yang Terasa Sesak


__ADS_3

Begitu mobilnya sampai di Luckingham dengan cepat Winter langsung turun dan berjalan tergesa kearah kediaman Flo. Dylan hampir gila karena harus mengikuti Winter dan memarkirkan mobil itu asal. "Tuan? Tuan Winter?!!" Dylan berlari menyusul Winter. "Kenapa datang kesini? Kediaman ini sudah lama kosong kan, hanya ada pelayannya."


Winter mengepalkan tangannya, sungguh saat ini hatinya terasa sangat sesak.


Benar. Aku yang telah melakukannya, aku yang menyakiti dan mengusirmu.. aku meninggalkanmu.. aku..


Altez sedang belajar menulis kaligrafi saat pintu dibuka dengan kasarnya, dia sangat terkejut melihat Winter datang kesana tiba tiba. "Tu.. tuan Winter??" Altez semakin bingung begitu Dylan ikut masuk dengan tergopoh mengikuti Winter.


"Apa dia belum pulang??" Winter bertanya pada Altez.


"Yah?" Altez yang bingung dengan pertanyaan Winter menatap Dylan seolah menagih jawaban dan Dylan hanya menggeleng kecil seolah memberi isyrat agar Altez tak bertanya apapun.


"Baiklah. Aku akan menunggu disini." Winter langsung duduk diruang tamu dan mengetuk ngetuk jarinya pada sisi kursi.


Sampai dengan malam hari Winter masih duduk disana ditemani oleh Dylan, Altez membersihkan rumah seperti biasa dan mencuri curi melihat Winter. Dia masih sangat bingung dengan apa yang terjadi, Altez ingin bertanya pada Dylan namun tidak ada waktu yang tepat.


Dylan menghampiri Altez. "Altez, tutuplah jendela dan buatkan teh hangat lagi untuk tuan Winter."

__ADS_1


"Biarkan seperti itu.. jendelanya jangan ditutup. Biarkan terbuka." Ucap Winter datar, lalu pria itu terus menerus menatap jendela kearah luar dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Tuan Winter.." Dylan menghela nafas, "Angin malam sangat dingin, saya takut tuan Winter jatuh sakit kalau begini terus."


Winter terdiam sebentar, "Dia pasti kembali... meski orang orang berkata dia meninggal. Dia pasti kembali.. dia hanya tersesat karena itu dia pasti kembali." Lalu air wajah Winter mendadak berubah. "Omong kosong!! Padahal aku masih disini tapi kenapa dia mati sendirian seperti itu?!!" Winter mengusap wajahnya kasar.


"Tuan Winter, anda sudah melihat secara langsung tadi. Kenapa anda masih tidak percaya?? Nyonya Flo tidak akan kembali..." Dylan mencoba memberi pengertian pada Winter.


"Tutup mulutmu!!!!" Marah Winter. "Tutup mulutmu sebelum aku potong potong tubuhmu dan melemparkannya ke kandang anjing!!"


Altez yang datang membawa teh untuk Winter mendengar perkataan mereka, wanita itu terkejut hingga cangkir juga teko teh nya jatuh pecah.


"Tu.. tuan Winter, Sir Dylan... apa maksud kalian??" Altez dengan suara bergetar bertanya, wanita itu sudah sangat menahan dirinya karena nafasnya terasa sesak sekarang. "Apa maksud semua itu?? Itu tidak benar kan???"


Dylan menghela nafasnya, "Ternyata kamu disini.. aku turut berduka Altez. Aku dengan berat hati menyampaikan berita ini, karena aku tahu kamu sangat setia pada beliau bahkan kalian tumbuh besar bersama.." Ucap Dylan sedih. "Ketiga dayang lainnya juga terbunuh, entah bagaimana nasibmu sekarang."


"Ahh...!!" Air mata Altez sontak merebak dan dia masih belum ingin percaya apa yang dia dengar. "Tu.. tuan Winter..." wanita itu berlutut dihadapan Winter. "To.. tolong ijinkan saya keluar, saya harus melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Saya tidak akan percaya kalau belum melihatnya sendiri!!"

__ADS_1


Winter menggeram kesal dan menggebrak meja lalu bangkit berdiri. "Tutup mulutmu!!!!" Maki Winter. "Kamu tidak akan kemana mana!! Bukankah kamu sendiri yang bilang?! Kamu ingin menjaga tempat ini sampai dia kembali!! Kalau kamu tidak berjaga disini bagaimana dia... hah hah bagaimana dia akan kembali?!!" Winter marah dengan nafas yang memburu.


Pria itu terdiam sebentar dan berjalan keluar. "Aku akan kembali ke kediamanku!" Dia berhenti sebentar. "Kirim selir Alesha ke kamarku!!" Lalu melenggang pergi.


"Tuan..." Dylan hanya bisa menggelengkan kepalanya frustasi. "Bencana adalah bencana. Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa akan selelah ini karena seharian tindakan tuan Winter benar benar tidak bisa diprediksi." Lalu Dylan menatap Altez sahabat kecilnya itu. "Kamu juga istirahatlah Altez, kamu pasti sangat terpukul." Lalu Dylan berjalan keluar.


Altez bersimpuh dilantai dan nafasnya terasa sangat sesak, hatinya sakit bagai ditusuk sebilah pisau. "Hah hah hah!" Altez berusaha menarik nafas dalam namun ulu hatinya kian terasa sesak dan sakit. "Huuu huuhuuhu... huu.." Air mata wanita itu mengalir terus menerus, "Huuuu huuwaaaaaaaa!!!!!" Tangisan Altez yang pilu pun pecah, dia memanggil manggil nama Flo terus menerus dalam hatinya.


..


Alesha girang begitu mendengar kabar dari pelayannya bahwa Winter mengundang dirinya ke kamar Winter malam ini. Dia berias dan memakai gaun tidur yang cantik, "Malam ini harusnya menjadi malam yang indah untukku, akhirnya setelah sekian lama tuan Winter memanggilku kembali."


"Masuklah!" Ucap Winter saat dengar pintunya diketuk dan dia tahu yang datang adalah Alesha.


Dengan malu malu gadis itu masuk dan berharap melihat senyuman Winter yang hangat dan perlakuan lembut dari pria itu. Namun belum saja Alesha sempat menyapa, tangan ditarik kasar oleh Winter sampai dia jatuh terjerembab diatas kasur.


Dengan wajah yang frustasi Winter membuka gaun tidur Alesha dengan kasar dan mengukung wanita itu dibawah tubuhnya.

__ADS_1


Apa kamu tetap tidak akan datang meski aku berbuat seperti ini.. Flo??


__ADS_2