Abandoned Flower

Abandoned Flower
Seperti akan mati


__ADS_3

Summer terdiam di depan pintu, dia menatap kearah pintu sudah dua hari ini. Dia terus menerus menunggu Winter, bukankah mereka sudah berjanji akan bertemu lagi. Namun Winter tidak kunjung datang ke kediamannya 2 hari ini, entah mengapa hati Summer merasa gelisah.


Winter... kenapa kamu tidak datang??


Wanita itu menatap lukisan bunga lilac yang sudah selesai dilukisnya, tiba tiba dia teringat akan ucapan tante Leana.


"Winter tidak suka pohon bunga lilac karena saat kecil Winter penah jatuh dari pohon itu dan membuat tangannya retak. Semua itu terjadi karena Flower yang memanjat pohon dan menyembunyikan barang berharga milik Winter."


Summer berjalan keluar, langkah kakinya menuntunnya hingga sampai dekat dengan kediaman Winter, hari sudah malam. Para pelayan juga mungkin sudah berkumpul dirumah utama. Summer menatap sebuah pohon lilac dihalaman kediaman Winter.


Terngiang dalam ingatannya saat Winter mengatakan bahwa dia membenci bunga pohon lilac.


Mengapa... jika dia membenci bunga lilac.. lantas mengapa pohon ini berdiri dengan kokoh disini? Dari semua tempat luas diistana Luckingham, mengapa hanya ada 1 pohon lilac dengan kokoh berdiri dekat dengan kediamanmu?


Summer menatap pohon tua itu dengan sedih.


Kamu yang tidak disukai oleh Winter, mengapa bisa dengan kokoh berdiri disini? Mengakar dengan kuat ditempat ini. Seperti wanita itu...


Mengapa semua tentang dirimu selalu karena Flower?!


Summer hanya terdiam hingga mendengar suara langlah kaki. "Tuan Winter?!"


Winter berjalan pelan menuju kediamannya, dia masih belum menyadari keberadaan Summer disana. Pria itu baru saja kembali sehabis mengintai Flo seharian ini, hatinya kesal dan marah.


Kemudian Winter mengadahkan kepalanya dan melihat Summer, pria itu berjalan mendekat kearah Summer.


"Tu.. tuan Winter? Anda dari mana saja?" Tanya Summer dengan terbata.


Winter menipiskan bibirnya, "Justu aku mau bertanya, apa yang kamu lakukan disini? Padahal sedang gerimis." Winter memakai tangannya untuk menutupi kepala Summer.


"A.. aku hanya.. berjalan jalan sebentar karena ada sesuatu yang mengganjal pikiranku." Wajah Summer merona malu.


"Begitu yah.." Winter tersenyum.


Summer menatap mata Winter dan degupan jantungnya berdetak lebih cepat.


Aku menunggumu dua hari ini dan kamu tidak datang. Tidak tahukah kamu bahwa hatiku sangat cemas dan gelisah? Setiap hari hati dan pikiranku hanya mengarah padamu saja.. hatiku terlalu penuh denganmu sampai sampai aku tidak bisa menahannya lagi. Sekarang aku akan mengatakan semuanya..


Summer mengepalkan tangannya erat, dia gelisah hingga terbata bata dalam berbicara. "A.. aku in..gin mengatakan sesuatu.." Ucapnya perlahan. "Aku ingin menjadi wanita milik tuan Winter."

__ADS_1


Winter terdiam menatap Summer, sejujurnya dia terkejut meski dia pernah meminta Summer untuk menjadi wanitanya.


Mengapa sekarang aku malah terpikir Flo?! Padahal aku sedang menatap wanita yang berusaha keras untuk memperlihatkan perasaan tukus dari lubuk hatinya.. tapi kenapa justru aku teringat padamu? Namun... Luckingham jelas membutuhkan Summer Grace. Aku dan Ferkalon membutuhkan semua yang ada pada Summer...


Winter tersenyum menatap Summer dan memegang bahu wanita itu. "Apa sulitnya mengatakan hal seperti itu sampai kamu gemetaran seperti ini?" Winter menarik Summer masuk dalam pelukannya. "Aku akan menikahimu."


****


Lagi lagi pagi ini hujan turun membasahi tanah, cuaca cukup dingin dan lembab. Flo hanya duduk memeluk kedua lututnya beralas sebuah tikar di lapak pasar. Dia tidak peduli pada ketiga pelayannya yang sibuk melayani pembeli, pikirannya terus melayang akan kemarin.


Dia sudah membuangku... kenapa dia kemari?? Jelas jelas dia memandangiku sebelum pergi. Apa dia ingin memeriksa aku? Apa dia ingin memastikan betapa hancur dan tersiksanya diriku?! Apa dia senang melihatku menderita?? Apa kamu senang melihatku seperti ini.. melihat orang yang telah kamu buang termenung dengan keadaan seperti ini. Apa itu terlihat menarik untukmu??


Flo menatap lalu lalang dipasar yang becek, ada seorang gadis kecil terjatuh dan menangis memanggil manggil ibunya. Tak lama sang ibu muncul, memarahi anak itu karena tidak berhati hati. Serelah itu sang ibu memegang tangan gadis kecil itu dan menggendongnya pergi.


Tangan ibu yang menggenggam gadis kecil itu dengan kasar.. memarahinya dan mengomel. Tapi anak itu pasti tidak tahu bahwa itu adalah cinta. Aku iri pada gadis kecil itu..


Namun dalam kebodohan ini lagi lagi aku berharap kamu datang dan menggengam tanganku dengan kasar. Tidak ada satu orangpun yang mau menggengam tanganku.. aku yang sudah dibuang seperti ini.


Bibir Flo bergetar, dia menahan sekuat tenaga air mata yang akan meluncur dari matanya. Dia tidak ingin menangis disini, Flo bangkit berdiri dan pergi begitu saja membuat Gloria, Gemma dan Nora kelabakan.


"Eeh?! Nyonya?!" Namun situasi membuat mereka lebih bingung karena lapak mereka dikerumuni oleh banyak orang yang tidak mungkin mereka tinggal begitu saja.


Ronan hanya berjalan dibelakang Flo, membiarkan wanita itu berjalan sendirian. Dia hanya menjaga jarak aman dan memastikan keselamatan Flo.


Namun tiba tiba Flo berhenti. "Kenapa kamu mengikuti aku terus?!" Flo tidak memalingkan wajahnya, namun dia tau Ronan membuntutinya.


"Nyonya sudah tahu?"


"Kenapa kamu datang padaku?! Apa dia yang menyuruhmu?!" Flo menatap tajam Ronan.


"Tidak nyonya. Ini kemauanku sendiri." Ronan menundukkan kepalanya tidak berani membalas menatap Flo.


"Apa tujuanmu?" Kesal Flo.


"Aku hanya ingin menjaga nyonya dan memastikan nyonya aman."


"Jadi kamu akan berkhianat darinya dan mengikuti aku?!" Decih Flo. "Aku harap kamu bukan orang yang berasal dari pria itu!" Flo berbalik dan pergi.


Ronan terus menatap punggung Flo.

__ADS_1


Nama yang tidak keluar dari mulutmu.. apa kamu sudah akan mengubur semua tentang dia dan melupakan yang membuangmu? Bisakah aku datang padamu??


****


Dylan gelisah melihat Winter yang memasang raut tidak senang terus menerus.


Ada apa lagi dengan tuan Winter?! Sudah sejak beberapa hari ini suasana hatinya tidak pernah bagus. Apalagi sejak rapat pagi tadi, semua tidak ada yang terlewat untuk dimaki. Ronan sial, dimana dia?! Melimpahkan tugas diistana semua padaku!! Aku juga ingin bekerja dilapangan saja!


Alis Winer mengernyit, tangannya mengepal. Bibir itu terus menerus berdecih kecil mengumpat tanpa suara. Hatinya kesal mengingat anak pria suadagar dipasar yang menaruh hati pada Flo.


Wajah pas pas an seperti itu saja banyak lagak! Berani bernainya pria jelek itu mendekatimu!


"Seperti gak ada pria lain saja didunia!"


'Braaakkk!!'


Winter menggebrak mejanya marah membuat Dylan semakin mendelik.


Apa lagi yah Tuhanku... Dylan terus menatap berkas ditangannya seolah sibuk bekerja sambil mencuri pandang kearah Winter.


Wajah Winter semakin tidak terkondisikan, rasa marah terus menerus menguasai hatinya.


Belum lagi Ethan selesai, kini Ronan pun mengkhianati aku!! Sialan Ronan aku akan memecat dan membunuhmu!!


Kemarin saat Winter pergi dia menyaksikan semua bagaimana Flo hampir saja terinjak kuda dan Winter kalah cepat untuk mencegah hal itu bahkan dia harus melihat Ronan menggendong Flo.


Si sialan itu seakan sudah menjadi tugasnya untuk melindungimu?! Kenapa dia bisa segesit itu menolong dirimu?! Sebenarnya sejak kapan?!! Lancang sekali!!


Winter mencubit pangkal hidungnya frustasi, dia teringat akan wajah Flo yang termenung sedih.


Bukan maksudku membuatmu seperti itu.. meskipun dalam sekejap aku melihat.. tatapanmu yang dipenuhi rasa kecewa berkata seolah kamu membenciku. Meski aku sudah mengira bahwa kamu membenciku... tapi aku tidak bisa menahannya.


"Mulai besoj larang Ronan untuk keluar istana!!" Winer menghardik marah.


Dylan semakin tidak paham apa yang Winter inginkan sebenarnya. "Ta.. tapi tuan Winter, Ronan memang bertugas diluar untuk mengamati.."


"Jangan membantahku!!" Winter menatap tajam Dylan membuat pria itu bungkam.


kenapa aku harus marah saat dia melindungi Flo?! Kenapa hanya padamu aku tidak bersikap seolah semua biasa saja?! Aku bahkan marah saat ada luka menggores tubuhmu, aku ingin mengusir semua pelayan yang tidak becus mengurusimu. Aku selalu marah setiap melihatmu, gelisah jika tidak melihatmu. Saat mendengar berita bahwa kemungkinan kamu hanyut terbawa arus sungai di lembah.. aku merasa seperti akan mati.

__ADS_1


__ADS_2