Abandoned Flower

Abandoned Flower
Istriku, Wanitaku.


__ADS_3

Setibanya Winter dan Ethan di Luckingham, mereka langsung mengadakan rapat penting dengan para pejabat penting dan petinggi. Memanggil seluruh petinggi dan tetua dalam keluarga Ferkalon termasuk Osbert dan Agustin, Winter akan memberikan pengumuman penting.


"Tuan Winter!!!!" Seluruh pejabat penting dalam Luckingham menentang keras keputusan Winter. "Bagaimana bisa anda mengangkat tuan Ethan sebagai penerus duke selanjutnya??!" Count Balres yang menjadi orang dipihak yang sama dengan Osbert tenru saja tidak setuju.


Mereka sudah merencanakan dengan baik untuk membawa Irina sepupu jauh dari Leana ke Luckingham dengan dalih kerjasama dalam bisnis namun karena Winter berada lama di luar kota sehingga rencana mereka terhambat.


"Umur anda masih sangat muda tuan Winter." Ucap Osbert berhati hati, "Bagaimana kalau..."


'Brak!!' Winter memukul mejanya.


"Jangan terlalu lancang meski kamu adalah pamanku." Desis Winter tajam.


"Bukan begitu tuan Winter." Osbert gelagapan, yah meskipun secara keluarga dia adalah paman kandung Winter yang berasal dari ibunya namun Osber tidak bisa bertindak sesuka hati terhadap Winter karena derajat bangsawan mereka berbeda apalagi Winter adalah seorang duke. "Ini hanya sedikit tidak masuk akal, terlebih.."


"Terlebih??" Winter mengernyitkan alisnya tajam. "Apa anda ingin bilang bahwa Ethan tidak pantas karena dia hanya anak tiri dari ayahku?! Syukurlah kalau kalian sudah tau karena aku tidak akan menjelaskan panjang lebar lagi, karena Ethan memang memiliki darah dari keluarga Ferkalon secara resmi."


"Tuan Winter bukan begitu maksud kami..." Count Balres kembali angkat bicara.


"Ethan adalah kakak sepupuku, satu satunya pewaris darah Ferkalon yang resmi kalau aku tidak ada. Hanya karena aku anak tunggal dari ayah dan ibuku bukan berarti dalam strata penerus duke tidak mempunyai calon penerus lainnya. Aku akan memulihkan status Ethan mulai perdetik ini sebagai penerus duke kalau aku tidak ada!" Tegas Winter.


"Tuan Winter..!?" Para petinggi lain juga tidak begitu menyetujui karena Ethan tidak memihak kubu manapun. Pria itu tidak bisa dirayu untuk keberpihakan, tujuannya tidak terbaca dan apa yang akan terjadi kelak jika Ethan menjadi duke mungkin saja bisa membahayakan posisi mereka semua.


"Sekarang usia anda masih 29 tahun, soal pewaris anda kan bisa..."


"Apa kalian semua sudah tidak waras?!!!" Semprot Winter. "Hampir setahun aku meninggalkan Luckingham untuk berjuang memperbesar wilayah kekuasaan negara, sama saja aku turun secara langsung ke medan perang mempertaruhkan nyawaku. Dan bisa saja aku mati kemarin..!"


"Tuan Winter.." Agustin yang ikut rapat itu menengahi, "Maafkan kelancangan saya, tapi tolong jangan berkata hal buruk tentang itu..." Sanggah Agustin.

__ADS_1


Winter menghela nafasnya kasar, "Sudahlah aku tidak akan melanjuti lagi perkataanku! Seandainya aku mati... apa yang akan kalian lakukan??"


"Perkataan tuan Winter benar." Ucapan Agustin membuat beberapa pihak menggeram kesal. "Peluasan Wilayah akan terus berjalan selama pemerintahan raja saat ini berlangsung,kita tidak akan tahu kapan berakhir. Sebagai kerabat terdekat kerajaan tentu saja tuan Winter yang harus menangani ini baik secara langsung atau tidak. Ini sudah saatnya menentukan penerus duke, baik kalian suka atau tidak. Bukanlah kita semua seharusnya menuruti perintah tuan duke Winter??"


Perkataan Agustin membuat semua pihak bungkam, mereka jelas tau Agustin memiliki posisi terkuat dalam keluarga Ferkalon sebagai kepala pelayan juga penasihat penting. Semua masukan dan perkataan Agustin 80% akan di dengar oleh Winter ataupun tuan duke terdahulu. Lebih baik mereka menyetujuinya dan menyusun rencana baru daripada menjadi lawan dari Agustin.


****


Ethan mengikuti Winter berjalan jalan di taman istana, "Apa keputusanmu sudah bulat??" Tanya Ethan.


"Keputusan apa?? Keputusan apa yang kamu maksud??" Winter menipiskan bibirnya.


"Tidak." Ethan ikut tersenyum tipis. "Bagaimana aku bisa selancang itu menerka pikiranmu."


..


"Hhahhhh.." Ethan menghela nafas panjang. "Kamu jahat sekali yah, sekarang kamu menyerahkan penderitaanmu padaku." Pria itu juga meneguk teh panasnya.


"Bukankah itu sudah seharusnya." Winter terkekeh kecil. "Saat aku memikirkan dan mempelajari kesejahteraan rakyat, keamanan negara sebagai penerus duke. Kamu bisa dengan bebas menjadi teman bagi Flo dan putra ayahku." Winter menatap Ethan dalam. "Kamu tahu kan betapa irinya aku padamu saat itu?"


"Aku tahu..." Ethan tersenyum dengan pandangan menerawang.


"Sekarang giliranmu untuk menderita." Tegas Winter. "Benar kan begitu.... kakak?"


"Winter....?" Ethan termangu mendengar dia dipanggil kakak oleh Winter, sejurus kemudian senyumnya mengembang dan mereka melanjutlan minum teh tanpa pembicaraan lagi.


****

__ADS_1


"Tuan Winter.. tuan Agustin sudah tiba." Dylan memberi tahu Winter bahwa Agustin datang ke kediamannya.


"Suruh dia masuk."


Agustin masuk menemui Winter yang sedang membaca buku diruang tengah ditemani Ethan. "Ada apa tuan Winter mencariku?"


"Ada tempat yang harus kita kunjungi. Karena selama ini kamu sudah membantuku maka sebaiknya aku memberimu hadiah." Ucap Winter.


"Ya?" Agustin bingung namun dia tidak banyak bertanya begitu Winter membawanya pergi bersama dengan Ethan juga. Mereka mengendarai mobil hingga menuju pinggir kota dan mulai menaiki gunung dengan menyewa tandu besar dengan kuda.


Perjalanan itu cukup berat untuk Agustin yang sudah berumur danĀ  sudah lama tidak meninggalkan ibu kota apalagi sampai menaiki tandu menuju gunung. Tapi pria paruh baya itu tetap tidak bertanya apa apa,meaki terasa janggal karena Ethan dan Winterpun tidak memulai pembicaraan sepatah katapun.


Akhirnya sebelum hari sore tiba, mereka sudah sampai. Ethan menunggu tidak jauh dari sana, sedangkan Winter membawa Agustin sedikit mendekat agar bisa memantau jelas rumah sederhana itu.


Agustin tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. "Itu rumah siapa tuan Winter??" Karena sudah hampir 15 menit mereka berdiri mengamati rumah yang tertutup rapat itu dari balik pohon didalam hutan.


"Agustin. Apapun yang kamu lihat tetaplah diam dan jangan bersuara. Karena yang kamu lihat nanti mungkin kamu tidak akan bisa melihat kedua kalinya. Karena kita tidak tahu apa dan kapan sesuatu akan terjadi, ada baiknya kita bersiap agar bisa tetap tenang dan berjaga."


Agustin hanya diam mendengar ucapan Winter yang tidak dia pahami.


Sebenarnya apa yang mau tuan Winter perlihatkan..?


Tak lama pintu kayu serambi samping terbuka dan Flo keluar dari sana membuat Agustin terperangah dan terkejut bukan main. "Nyonya Flo..?!"


"Sssstt!" Winter menatap Agustin memberi isyarat agar pria itu tetap diam.


"Dia adalah wanitaku, istriku. Bukan calon duchess ataupun anak dari wanita yang dicintai ayahku." Winter menatap Flo penuh cinta, lalu dia kembali menatap Agustin. "Karena aku harus pergi kebeberapa wilayah bagian lagi untuk menyelesaikan mandatku sebagai duke, tolong jaga dia selama aku pergi. Kamu tidak boleh membiarkannya sendiri tapi kamu juga tidak boleh ketahuan. Ini perintahku sebagai grand duke!"

__ADS_1


__ADS_2