Abandoned Flower

Abandoned Flower
Biara St.Mount


__ADS_3

Mereka bertiga menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, cuaca sangat dingin dengan tumpukan salju dimana mana membuat Simon terkadang harus menggendong Flo dipunggungnya. Flo sangat lelah, kaki dan tangannya teramat sakit, luka bakar itu benar benar seperti mencabik setiap kulitnya. Untuk saat biasa saja Flo kesulitan bergerak dan berjalan tapi ini dia harus melakukan perjalanan yang jauh. Kadang cuaca yang terlalu dingin membuat sekujur tubuhnya mati rasa, namun hati Flo merasa bahagia melakukan perjalanan ini.


Simon memperlakukannya dengan sangat baik, Hally juga selalu menghibur Flo hingga tak jarang wanita itu terbahak dengan tingkah Hally yang konyol untuk anak seusianya.


"Itu Biara st.mount!" Simon menunjuk sebuah biara tua namun masih sangat terawat dan kokoh.


Akhirnya!!! Aku bisa bertemu paman Michael!!


Mata Flo berbinar menatap biara besar itu, ada beberapa pekerja disana membersihkan halaman dari tumpukan salju. Dengan nafas yang sedikit terengah Flo menghampiri salah satu pekerja itu, "Maaf tuan saya mau bertanya, saya mendengar bahwa duke terdahulu ada disini, Tuan Michael Ferkalon. Apa saya bisa bertemu dengannya??" Flo benar benar berharap bisa bertemu Michael, satu satunya keluarga yang dia miliki.


Pria itu terdiam sejenak menatap Flo demgan seksama. "Beliau sudah pindah dari tempat ini 5 bulan yang lalu."


Mendengar itu langkah Flo langsung terhuyung dengan sigap Simon memapahnya. "Anda tidak apa apa??"


Kekecewaan besar melingkupi hati Flo.


Apa?? Paman sudah pindah??


"A.. apa anda tahu kemana beliau pindah?? Beliau adalah orang yang harus saya temui." Dengan terbata bata Flo kembali bertanya pada pekerja itu.


Pria itu merupakan kepala biara disana, dia hanya menatap Flo iba namun dia memang tidak mempunyai jawaban untuk pertanyaan itu.


****


Tiga hari kemudian, Luckingham mendapat tamu untuk bertemu Ethan. Semenjak Winter pergi menetap dipinggir kota dia meminta Ethan untuk mengurus Luckingham selama dia tidak ada.

__ADS_1


"Tamu dari biara st.Mount??" Ethan terkejut saat Agustin muncul dan memberi tahu bahwa ada tamu yang menunggunya.


Mendengar nama itu Ethan tergesa gesa menemui tamu tersebut. "Ah kepala biara, tuan Antonio. Apa kabar anda?" Ethan menyalami orang tersebut dan menunduk memberi hormat.


"Tuan Ethan, kabar saya sangat baik. Bagaimana kabar tuan Ethan sendiri?" Kepala biara itu tersenyum hangat.


"Aku baik, hanya sedikit kelelahan akhir akhir ini." Ethan membalas tersenyum. "Anda jauh jauh datang kemari mengunjungi saya, mari kita minum teh di dalam."


Mereka duduk berhadapan dengan hidangan teh dan makanan ringan sambil bercengkrama bersama.


"Saya terkejut anda jauh jauh kesini untuk menemuiku." Ethan memepersilahkan kepala biara untuk meminum teh nya.


"Aku ada urusan sedikit di ibu kota, lalu sekalian kesini untuk bertemu tuan Ethan." Kepala Biara itu meletakkan cangkir teh nya dan terdiam sebentar. "Tujuan utamaku kesini bukan untuk minum teh tapi untuk mengatakan sesuatu pada tuan Ethan." Pria itu menjeda. "Tiga hari yang lalu ada sekelompok orang datang mengunjungi biara, dan menayakan keberadaan tuan duke terdahulu. Diantara mereka ada seorang wanita yang sedang mengalami luka berat. Luka yang cukup parah bagian tangan juga kakinya dengan luka seperti terbakar dan sangat sulit untuk bergerak."


Ethan terbeku mendengar ucapan kepala biara itu.


Tangan Ethan bergetar, dia tidak bisa mengontrol dirinya. Perasaan pria itu kalut dan campur aduk, dia sangat berharap namun juga merasa sangat takut disaat bersamaan. "Wa.. wanita yang mengalami lu.. luka bakar??" Tanya Ethan memastikan dia tidak salah mendengar.


"Benar." Kepala biara itu menatap Ethan dalam. "Anda harus bertemu dengannya. Waktu itu saya juga sempat bertanya dimana wanita itu tinggal."


****


Malam hari berlalu begitu lama bagi Ethan, setelah pembicaraannya dengan kepala biara selesai tadi siang, Ethan langsung mengurusi urusan pekerjaannya dan menyerahkan sisanya pada Agustin. Sebelum waktu semakin larut malam, Ethan dengan tergesa menyambar mantelnya, mengendari sendiri mobilnya dan bergegas secepat mungkin.


Ethan keluar tanpa memberitahu siapapun mengenai info itu dan meminta kepala biara juga untuk menutup mulut mengenai hal ini.

__ADS_1


Pria itu memacu mobilnya kencang tanpa memperdulikan badai salju malam itu, jalanan licin pun tidak membuat Ethan lebih berhati hati. Jantungnya berpacu kencang dan berharap dengan cemas.


Seandainya wanita itu benar Flower.. kalau wanita itu benar benar Flo...!


Waktu yang seharusnya ditempuh sekitar 4 sampai 5 jam namun Ethan benar benar berlari menyusuri jalur gunung Dalkota malam itu bermodalkan percahayaan minim.


Dan malam ini Flo baru saja akan beristirahat setelah perjalanan panjangnya, "Apa penghangat dikamarmu cukup??" Tanya Simon.


"Iya!"


"Baiklah istirahatlah, saya akan keluar. Anda pasti sangat kelelahan setelah berjalan jauh. Kalau saat anda tidur dan merasa kesakitan tolong panggil saya. Saya permisi." Simon berjalan keluar membawa sebaskom air yang digunakan untuk membantu membasuh wajah Flo tadi.


Simon berjalan menuju teras rumah untuk membuang sisa air namun ujung senapan kecil menempel pada tengkuk kepalanya dari belakang. "Ketidaksopanan jenis apa malam malam datang ke kediaman orang dan menodongkan senjata seperti ini?" Tanya Simon dengan tenang.


"Saya dengar anda datang ke biara st.Mount!" Tanya Ethan.


"Kalau begitu apa anda...!" Simon hendak berbalik namun suara Flo terdengar dari dalam.


"Ada apa??" Flo membuka jendela kamarnya. "Apa ada orang datang??"


.


.


.

__ADS_1


Ps: Awalnya aku nulis kuil tp ralat maksud aku biara. 😂👋


Jangan lupa like dan komennya yah ❤😁


__ADS_2