Abandoned Flower

Abandoned Flower
Apa Kamu Tidak Merindukan Aku?!


__ADS_3

Winter hanya bisa menundukkan kepalanya dalam, segala perasaan berkecamuk dalam hatinya, kepalanya teras penuh dengan berbagai macam pertanyaan dan spekulasi tanpa jawaban.


"Dan.. karena kondisinya seperti itulah dia menolak untuk kembali." Ethan menepuk pundak Winter seakan ingin menenangkan.


"Begitu yah??" Winter tersenyum getir menyiratkan banyak luka disana. "Dia.. memang selalu menutupi rasa sakitnya dariku. Selalu seperti itu... tak pernah sekalipun memperlihatkan kelemahannya padaku."


"Kamu harus menemuinya. Aku akan mengantarkanmu." Ethan menatap Winter serius. Melihat Winter hanya berdiri terdiam tanpa reaksi apapun membuat Ethan bingung. "Winter?? Bersiaplah kita akan..."


"Aku..." Pria itu masih terdiam dengan pandangan tanpa arah. Tiba tiba Winter memanggil Dylan. "Dylan!!! Dylan!!"


Dengan tergesa pria muda yang baru saja akan memejamkan mata disofa depan untuk istirahat harus berlari masuk kedalam ruang kerja Winter. "Yah tuan Winter ada apa???"


"Besok pagi pagi kita akan mengadakan rapat dengan pengurus daerah mengenai hasil komoditi minggu lalu. Perintahkan semua kepala daerah dan pengurus untuk berkumpul disini jam 7 pagi!!" Titah Winter.


"Baik tuan Winter!" Pria itu langsung keluar untuk melakukan pekerjaannya meski dengan raut wajah bingung.


"Winter?!" Ethan menatap pria itu dengan heran setelah Dylan keluar. "Apa kamu tidak ingin menemuinya??!"


Winter terdiam memunggungi Ethan. "Aku tidak akan pergi.. dia masih hidup. Bukankah itu sudah cukup?"

__ADS_1


"Tapi Winter..." Ethan masih bersikukuh.


"Kalau dia sudah memutuskan untuk tidak kembali... maka aku tidak akan pergi." Winter memotong tegas ucapan Ethan membuat pria itu tidak bisa bicara lagi.


Setelah berbasa basi sejenak dengan Winter mengenai kondisi Luckingham terkini, Ethan harus kembali pulang ke ibu kota. Dia berjalan menuju kendaraannya diantar oleh Dylan. "Dylan.." panggil Ethan.


"Ya tuan Ethan."


"Ingat baik baik ucapanku dan jangan bocorkan pada siapapun." Ethan menatap Dylan serius. "Sebagai orang kepercayaannya kamu pasti akan terus berada disisi Winter, manfaatkan itu untuk mengamati dia dengan cermat dan jangan lengah sedikitpun."


"Saya tidak memahami maksud tuan Ethan." Dylan memasang wajah bingung.


"...Tuan Ethan.. Maaf, sudah sejak satu tahun yang lalu nyonya Flo wafat. Tapi kenapa baru sekarang....?"


Ethan menoleh menatap Dylan dengan wajah serius. "Flo masih hidup!" Dylan terkejut bukan main mendengar ucapan Ethan. "Tapi beliau menolak untuk bertemu." Lanjut Ethan. "Mungkin selama ini Winter bisa bertahan, tapi..."


"Sa.. saya paham maksud anda tuan Ethan!!!" Dylan langsung membungkuk sebagai tanda dia menerima dengan ikhlas hati dan siap melakukan tugas yang diberikan oleh Ethan.


..

__ADS_1


Sudah 4 bulan berlalu sejak kedatangam Ethan terakhir, Dylan tidak berhenti sedetikpun mengawasi gerak gerik Winter selama itu. Apapun yang Winter lakukan baik tidur, makan, bekerja bahkan membersihkan diri itu semua tidak luput dari pengawasan Dylan.


Tapi memang Dylan tidak menemukan sesuatu yang janggal kecuali Winter bekerja seperti robot tidak mengenal lelah bahkan melebihi sebelum sebelumnya. Sungguh Dylan sangat lhawatir Winter jatuh sakit, sering kali Dylan mengingatkan Winter untuk berhenti bekerja dan beristirahat namun semua diabaikan atau jika Winter marah maka dia akan mengusir Dylan.


"Jadi untuk persediaan makanan di daerah ini tolong disalurkan lebih lagi, perhatikan kesehatan para pekerja dilumbung agar bisa maksimal dalam bekerja. Dan pasokan rempah di daerah xxx coba dikurangi karena cuaca disana sudah mulai stabil untuk memulai pertanian, pasokan rempah itu bisa disalurkan ketempat lain.." Winter yang sedang memberi arahan pada rapat tiba tiba terdiam, dia memijat keningnya dan menghembuskan nafas kasar.


"Kita sudahi rapat ini dan lanjutkan besok! Aku akan pergi beristirahat!" Tanpa berbasa basi Winter pergi meninggalkan ruang rapat dan segera masuk keruang kerjanya seorang diri.


Pergerakan aneh Winter tentu saja membuat Dylan tersadar. Apa ini yang dimaksud tuan Ethan??


Setelah masuk kedalam ruang kerjanya dan menutup pintu, pria itu hanya berdiri didepan meja kerjanya. Terdiam begitu saja dengan posisi menumpu tangannya diatas meja, hingga terdengar suara nafas yang tersengal dan tetes air jatuh keatas meja.


Air mata Winter berjatuhan tidak berhenti, dia mengusap kasar matanya. "Kenapa aku seperti ini...? Apa aku sudah menjadi orang bodoh atau terserang suatu penyakit???!" Tangan Winter begetar dan dia tidak berhenti meracau sendiri. "Apa kamu baik baik saja?? Hiks! Hiks!"


"Padahal aku sudah bersusah payah bertahan seperti ini! Hiks! Hiks!" Winter menutup wajahnya dan terus menangis. "Apa... kamu sama sekali tidak merindukan aku?!"


"Padahal setiap malam kamu selalu mendatangi aku.. apa kamu tidak merindukan aku?? Hiks! Hiks!"


"Kenapa.. kenapa kamu tidak ingin bertemu denganku padahal kamu masih hidup! Huuuuhuuu.." Malam itu Winter menangis tersedu sedu setelah 4 bulan mengetahui kabar bahwa Flo masih hidup.

__ADS_1


__ADS_2