
Llyod seperti mengalami dejavu, kembali dari melakukan tugas yang mengharuskan dirinya meninggalkan Camell beberapa menit saja dan saat kembali disajikan pemandangan Camell mengobrol dan tertawa begitu lepas dengan pria lain.
"Saya percaya dengan nona Camellia sungguh!! Saya juga sangat menghormati anda!!"
Kening Lloyd semakin mengerut mendengar Albert dengan berapi api berkata seperti itu dan malah membuat Camell tertawa lebar.
Lloyd berjalan mendekat kearah Camell dan Albert, dengan implusif dia merangkul pundak Camell. "Percaya apa memangnya??" Pria itu tersenyum tipis namun entah mengapa membuat orang tertekan dengan hanya melihatnya saja.
"Ah, eh.. tu.. tuan duke sudah kembali??" Albert menjadi sedikit salah tingkah.
Lloyd menipiskan bibirnya karena dia kembali kesana tidak seorang diri, dia melepas rangkulannya dan memperkenalkan seorang lagi pada Camell. "Nona Camell, perkenalkan ini nona Chalia."
"Perkenalkan saya Ellora Chalia, nona Camellia." Wanita itu tersenyum ramah namun pembawaannya sangat tegas.
Ellora Chalia?! Apa dia.. dia penulis buku itu??! Jantung Camell berdebar dia benar benar bertemu dengan wanita idolanya. Wanita muda yang sukses menulis buku laris tentang ilmu pengetahuan abad ini. Wanita muda yang banyak melakukan perjalanan keliling benua untuk menulis buku.
"Senang berkenalan dengan anda! Saya senang sekali bisa langsung bertemu seperti ini, saya mempunyai hampir semua koleksi buku anda!" Mata Camell berbinar tidak bisa memungkiri bahwa dia sangat mengagumi Ellora.
"Sayang yang senang berkenalan dengan anda." Ellora tersenyum manis. "Ayo saya akan pandu anda menuju tenda darurat disini."
Mereka semua berjalan mengikuti Ellora menuju tenda darurat yang dibangun diperuntukan bagi orang orang yang bekerja dan terlibat langsung selama proyek usaha cocok tanam ini.
Sepanjang jalan Ellora banyak bercerita tentang proyek yang berlangsung, dengan tatapan kagum seperti terhipnotis Camell menatap Ellora tanpa lepas.
Keren sekali!! Wanita seperti ini benar benar idolaku. Aku sangat ingin menjadi seperti dia!
Lloyd memperhatikan tingkah Camell yang menatap Ellora dengan wajah terpesona seperti itu, menatap Camell dengan perasaan tidak begitu nyaman. Entah mengapa setiap kali melihat Camell menunjukkan berbagai ekspresi yang ditunjukkan untuk orang lain, dia merasa sebal dan tidak nyaman.
__ADS_1
"Sampai saat ini proyeknya berjalan dengan stabil." Ellora mengambil berkas laporan ketika mereka sudah sampai di tenda darurat itu. "Tapi..." Kemudian wanita itu menjadi agak ragu meneruskan kalimatnya.
"Teruskan saja, nona Camellia ber hak tau laporan yang ingin kamu sampaikan." Lloyd berkata tegas.
Ellora menganggukkan kepalanya, dia membuka lembar berkas laporan dihadapan Camell juga Lloyd. "Masalah terbesar disini adalah curah hujan yang rendah lebih dari yang perkiraan. Bahkan curah hujan tahun ini lebih rendah dari pada tahun lalu."
"Karena itu pertumbuhan pohon sangat bergantung pada subsidi dari pusat, kami sudah menanam sampai dengan petak ke 6. Dan kami sudah kehabisan subsidi." Terang Albert menambahkan.
Lloyd terdiam berpikir sejenak. "Masalah kalau hanya kekurangan subsidi dari pusat masih bisa memasok, tapi pada akhirnya akan sia sia kalau hujan tetap tidak turun." Lloyd menumpukkan tangannya dimeja dengan wajah yang khawatir, "Banyak biaya yang sudah keluar untuk proyek ini, kalau kebijakan ini gagal maka bantuan untuk wilayah barat juga akan semakin terbatas."
Camell menggigit bibirnya menatap wajah orang orang yang sudah mulai terlihat putus asa. Secara teori dia tahu penyebabnya namun dia belum sempat memberitahu pada Lloyd hal itu.
Penyebab hujan yang tidak turun adalah la nina! Semua petunjuk mengarah ke la nina. Kalau aku menjelaskan pada mereka pasti mereka akan curiga bagaimana aku yang seorang putri angkat bangsawan pinggir kota bisa mengetahui hal hal mengenai angin laut dan cuaca. Terlepas dari ego ku untuk membantu tuan duke yang pernah memperlakukan aku dengan tidak baik namun aku yang diam seolah tidak tahu apa apa bukankah itu lebih jahat?? Aku tidak ingin membuat patah semangat orang orang yang sudah berjuang sejauh ini.
"Tuan duke, ada yang mau saya bicarakan. Mungkin ini bukan hal baik." Camell mendekat kearah Lloyd.
Camell sedikit lega mendengar ucapan Lloyd. Namun dia berpikir keras bagaimana menjelaskan ini dengan benar namun tidak dicurigai. Winter sebagai pengusaha pelayaran tentu saja banyak mempelajari tentang angin laut, perubahan cuaca dan sebagainya. Camel dan Galant sendiri sudah pasti ikut mempelajari hal ini.
Ah.. begini saja kalau aku bilang dari baca laporan ini tentu tidak akan dicurigai. Akhirnya Camell menemukan rangkaian kata yang pas.
"Saya pernah mempelajari mengenai fenomena iklim, bencana kekeringan ini tidak mungkin tidak memberi pengaruh pada daerah lain."
"kami sudah menyelidiki ini." Ellora menjelaskan, "Tapi curah hujan daerah lain tetap normal."
"Bukan curah hujannya tapi berdasarkan informasi lain." Pendapat Camell terang membuat semua bingung. "Berdasarlan catatan yang ada disini, angin laut yang kencang mengarah kebagian utara membawa udara dingin. Sehingga menurunkan curah hujan di semenanjung bagian barat. Mungkin tidak sebagain orang menyadari hubungan antara angin laut dan cuaca kekeringan maupun hujan, tapi ada efek domino dari itu."
Ellora terdiam seakan berpikir keras begitu juga Albert. "Angin laut penyebab kekeringan?? Bisa saja terjadi karena banyak hal yang akan saling berpengaruh dalam fenomena cuaca." Ellora menggumam. "Hanya saja tidak terpikir kalau benar angin yang menyebabkan kekeringan."
__ADS_1
Camell tersenyum puas karena Ellora paham maksud sanggahannya.
"Aku tahu memberi informasi hal ini tidak akan berpengaruh apapun. Ini hanya info kecil mengenai..."
"Tidak." Lloyd memotong ucapan Camell, pria itu terlihat gusar seakan baru menyadari sesuatu. "Hal ini bisa diselesaikan, sesegera mungkin." Lloyd mendesis berat.
Camell mengangkat alisnya, dia berpikir bahwa tidak masuk akal sama sekali jika manusia bisa mengatur cuaca dan angin. Apalagi pria dihadapannya ini berkata sesegera mungkin. "Hah?? Manusia tidak..."
"Angin bertiup kencang hanya karena 3 tahun lalu diadakan uji coba turbin ditengah laut daerah itu, karena itu angin bertiup menjadi sangat kencang. Masalah akan selesai jika kita mematikan alat yang hanya berada disitu." Ucap Lloyd.
Camell terdiam, sebenarnya dia cukup shock.
Se.. sebentar..! Berarti kalau sejak saat itu aku memberitahu soal ini berarti.. kekeringan ini bisa selesai lebih cepat. Penderitaan masyarakat disini bisa berakhir.. kalau saja... kalau saja aku bilang dari awal menyingkirkan egoku.. pasti... kakak dari Ron juga tidak akan...!
Lloyd menyadari ekspresi Camell yang memucat dan sangat terkejut. Pria itu memegang tangan Camell yang sedikit bergetar. "Bagaimana kalau kamu duduk dulu dan beristirahat."
Ellora lebih tanggap akan hal itu, dia menundukkam kepalanya. "Kalau begitu kami permisi dulu." Wanita itu memegang pundak Albert dan mengisyarakatkan pria yang bingung itu untuk keluar. "Ayo!" Bisiknya. Meski bingung, Albert mengikuti Ellora keluar tenda.
Camell duduk dengan diam berkutat pada pikirannya dan Lloyd pun hanya diam duduk disebelah Camell. "Kenapa anda tidak bertanya dengan jelas pada saya saat dikereta kuda sepulang dari pesta keluarga Chandellum??" Suara Camell bergetar.
Lloyd memang menyadari saat itu kalau Camell berbicara seakan dia paham dengan persoalan yang terjadi, tapi dia lebih memilih untuk tidak memaksa Camell. "Karena aku menghormatimu."
Camell menjadi geram dan tanpa sadar dia berteriak marah. "Meskipun anda harus mengancam saya sekalipun seharusnya anda mencari tahu tentang itu!! Padahal saya juga tidak bisa melawan jika tuan duke memberikan perintah untuk berbicara!! Anda kan yang mulia grand duke!!! Memangnya siapa saya?!! Harusnya anda mengabaikan perasaan saya dan menggunakan kekuasaan anda untuk memaksa saya berbicara!!!" Wanita itu berteriak marah dengan mata yang berkaca kaca hingga bulir bulir air matanya jatuh berbhambur kepipinya.
Lloyd hanya diam tidak menjawab dan menarik wanita yang emosional itu kedalam pelukannya. Dia menepuk punggung Camell hangat dan membiarkan wanita itu mengeluarkan semua amarah dalam rengkuhannya.
"Aku percaya kalau kamu tidak akan diam saja mengetahui cara menangani bencana hanya karena perasaan pribadimu." Ucap Lloyd.
__ADS_1
Tidak!!! Camell terisak hingga bahunya bergetar. Saat itu aku diam karena aku benar benar dipengaruhi oleh egoku!! Keegoisanku merugikan banyak pihak!! Gadis itu menangis sesengukan dalam pelukan Lloyd, pertama kali dalam hidup Camell dia merasa kecewa pada dirinya sendiri.