Abandoned Flower

Abandoned Flower
Wanita Yang Telah Mati


__ADS_3

Seharian dipasar Flo terus menatap kearah yang sama, sedari pagi sosok yang dia cari tidak muncul disana.


Dari jauhpun tangan Winter mengepal keras melihat arah mata Flo,


Dia terus melihat kearah sana, apa dia menunggu si brengsek Ronan?! Tunggu saja semampumu! Karena Ronan telah aku larang keluar istana!


Winter berdecih sinis, namun secara tidak sengaja matanya dan Flo bertemu meski dari jarak sejauh itu, Winter yakin Flo melihat dirinya. Baru saja Winter berancang untuk menghindar, tapi yang mengejutkan dirinya adalah Flo yang membuang muka padanya.


Hari sudah petang, sudah saatnya bagi mereka untuk pulang kembali. Flo berjalan bersama ketiga pelayannya untuk kembali kerumah mereka. Gloria, Gemma dan Nora menggandeng tangan Flo sambil terus bercakap cakap, sedangkan Flo hanya diam menatap lurus.


"Hari inipun kita menjual piring dengan fantastis, besok pagi pagi sekali ayo kita kembali membuat piring lagi." Wajah Gemma terlihat gembira.


"Benar! Kalau begini terus nanti kita bisa membeli rumah yang bagus!" Nora menghayal terlalu tinggi sehingga Gloria mendorong keningnya pelan.


"Jangan banyak bermimpi! Tinggal seperti ini dengan nyonya saja aku sudah bahagia. Mari malam ini kita makan enak!" Gloria mengangkat tangannya.


Tawa mereka bertiga terhenti ketika melihat Winter berdiri dipersimpangan jalan dekat dengan rumah mereka. Gemma, Gloria dan Nora kebingungan, apakah mereka harus menyapa Winter atau bagaimana. Sebab Flo masih saja memasang wajah datar dan terus berjalan.


Winter menatap mereka dengan tajam, menunggu reaksi Flo.


Aku harus mendapatkan jawabannya, kenapa dia bisa dengan mudah tersenyum dan tertawa untuk orang lain tapi menganggap aku tak ada. Jelas jelas dia tau bahwa aku mengawasinya!!


Meski mereka melangkah pelan namun tiba juga waktunya mereka harus berpas pas an dengan Winter. Ketiga pelayan itu hanya bisa menundukkan kepala takut untuk menyapa karena Flo tidak terlihat sedikitpun akan menggubris Winter.


Pria itu semakin berang saat Flo berjalan melewati dirinya begitu saja, mengabaikan keberadaannya disana. Dengan kasar Winter menarik tangan Flo membuat wanita itu memekik terkejut.


"Aaakhh!"


"Nyo.. nyonya!" Ketiga pelayan itu berupaya untuk menolong Flo namun gentar akan tatapan mata Winter.


Flo menghela nafasnya kasar. "Kalian masuklah, dia bukan orang yang akan melukai aku." Titah Flo pada pelayannya. Meski berwajah enggan namun mereka hanya bisa mengikuti kemauan Flo dan masuk kedalam rumah.


"Lepaskan." Ucap Flo dingin.


"Angkat kepalamu!" Winter tidak menggubris ucapan Flo dan malah memerintah seenak hatinya.


"Aku bilang lepaskan!!" Flo meronta dan menggeliatkan lengannya dengan kuat agar Winter melepaskannya dan tentu saja Winter melepaskan cengkraman tangannya karena tidak ingin Flo terluka.

__ADS_1


"Kalau begitu angkat kepalamu dan tatap aku!!!" Winter marah dan memegang kedua bahu Flo erat.


Dengan dingin dia mengadahkan kepalanya dan menatap Winter datar. "Sudah cukup kan?!"


"Tidak!! Belum cukup!!" Sentak Winter. "Berani sekali kamu pura pura tidak mengenalku, mengabaikan aku! Lancang sekali kamu memperlihatkan punggungmu padaku!!" Winter semakin erat mencengkram bahu Flo membuat wanita itu dengan implusif menggigit tangan Winter agar pria itu melepaskannya.


Winter yang terkejut Flo berani menggigit lengannya langsung melepaskan Flo.


"Apa yang kamu lakukan?!" Tanya Winter shock.


Flo berdecih dan menatap Winter sinis. "Apa kamu tidak terbalik? Disini siapakah yang seharusnya lebih pantas untuk marah??" Flo menjeda. "Tolong lihat kenyataannya dengan benar, tuan duke adalah orang yang telah mencampakkan aku. Anda telah membuang saya!" Ujar Flo dingin.


Winter terdiam tak mampu menjawab Flo. "A..aku.." Pria itu menelan ludahnya kasar. "Ta.. tapi bukankah kamu tidak bisa hidup jika tidak melihat aku?? Apa kamu bisa hidup jika tidak melihat aku??" Pria itu seakan memegang kelemahan terbesar dalam diri Flo, karena dia jelas tau bagaimana setiap harinya selama 20 tahun ini Flo selalu berupaya untuk melihat dirinya saja.


Flo terdiam sebentar. "Aku sudah memohon.. meminta maaf agar kamu memikirkannya kembali. Aku sudah bersimpuh dan memohon dengan sangat, tapi kamu tetap memilih untuk mencampakkan aku dan membuang aku."


"Tidak!!!" Kilah Winter marah. "Aku sama sekali tidak membuang dirimu, aku hanya..." Lidah pria itu semakin kelu dan tidak sanggup meneruskan kalimatnya. "Kamu..."


Kamu adalah seluruhnya, semuanya.. kenangan, ingatan...


"Aku tidak membuangmu!" Hanya kalimat itu yang kekuar dari bibir Winter.


Winter mengernyitkan keningnya. "Hubungan kita bukanlah hubungan yang bisa diputus begitu saja."


Lagi lagi Flo hanya bisa terkekeh mendengar ucapan Winter. "Apakah tuan duke ini sedang bermimpi?!" Flo tersenyum sinis. "Apa kita ini saudara sekandung?? Bukankah aku hanya anak dari orang yang menghancurkan keluarga tuan duke?! Dari tempat tinggal saat ini dan kedepannya.. sudah memeprlihatkan derajat kita yang timpang. Kita sudah menjadi orang yang sangat jauh. Flower yang selama ini tuan duke kenal, sudah mati ditangan tuan duke sendiri."


Winter mengeraskan wajahnya mendengar ucapan Flo. "Ba.. bagaimana kamu dan aku bisa seperti ini??" Pria itu seakan menggumam untuk dirinya sendiri.


"Kalau begitu, apa tuan duka akan menjadikan saya sebagai duchess lagi??" Flo menatap pria itu datar. "Ppfftt.." Flo menahan tawanya. "Tidak bisa kan?? Mana mungkin tuan duke mengabaikan tetua kekuarga Ferkalon yang sangat dihormati di negri ini. Apa pendapat masyarakat tentang ini?! Bagainana bisa seorang rakyat biasa tanpa gelar bangsawan bisa menjadi seorang duchess?" Flo melangkah mundur menjaga jarak dari Winter. "Jangan datang kesini lagi, jangan pernah mengawasiku lagi dan jangan pernah menunjukkan wajah anda lagi. Aku tidak ingin bertemu dengan anda." Flo bersiap akan pergi.


Kalau kamu sudah mengayunkan pedang sebesar itu tentu saja kamu juga harus menanggung luka yang diakibatkan.


Flo menatap Winter acuh sebelum melangkah. "Mungkin saja kedepannya kita akan tidak sengaja bertemu lagi, mungkin disaat itu aku sudah bisa menceritakan kisah ini sambil tertawa. Setelah saya menemukan suami baru dan melupakan segalanya." Flo berjalan meninggalkan Winter.


"Suami?!" Desis Winter marah.


Mendengar ucapan Winter membuat Flo menatap pria itu dengan benci. "Jangan bilang tuan duke terus berharap saya hidup seperti ini selamanya?! Bukankah negara ini juga negara yang mengijinkan wanita menikah lagi??"

__ADS_1


"Keterlaluan kamu Flo!!" Hardik Winter marah. "Mau seperti apapun peraturan negara tapi kamu dulunya adalah istri seorang duke!!! Memangnya kamu pikir kamu akan diijinkan menikah lagi?!!!"


"Kapan anda menganggap saya sebagai istri anda?!!" Hardik Flo tidak mau kalah. "Sekalipun saya tidak pernah menjadi istri anda!!"


"Tidak! Kamu salah!" Kilah Winter. "Kamu adalah milikku dan wanita yang pernah menikahi bangsawan tidak diijinkan untuk menikah lagi!!!" Pria itu kini terlihat seperti anak kecil berusia 5 tahun yang kehilangan mainannya.


".. itu semua.." Flo menunduk kesal. "Itu semua anda sendirilah yang menyangkalnya. Anda yang telah menolak dan membuang saya."


"Siapa pria itu?" Tanya Winter dingin. "Katakan siapa pria itu?!!!! Apakah si anak saudagar bodoh yang selalu bersama pelayannya?!! Ethan??? Atau pengawalku sendiri??!! Sebenarnya siapa pria yang membuatmu jadi gila seperti ini?!!!" Amarah Winter semakin memuncak.


Amarah yang memancar dari kedua matamu,, juga amarah lain yang membuncah dalam hatiku. Bagaimana bisa kamu tidak mengenal aku? Mengapa tidak ada satu hal pun yang kamu tahu tentang aku?! Bagaimana kamu bisa berpikir seperti ini setelah membuangku??


Wanita itu kemudian berdecih sinis. "Terlihat dengan jelas yah??"


"...Ternyata kamu benar benar sudah gila..." Tubuh Winter sampai gemetar menahan amarahnya.


"Bagaimana aku tidak gila?!!" Flo merasa frustasi. "Justru aneh jika aku masih saja waras setelah dicampakkan seperti ini!! Memang apa yang salah dengan mereka?? Kamu menganggap mereka rendahan?? Lalu apa bedanya aku dengan mereka?? Wanita yang diusir oleh tuan duke, wanita yang dibuang dan tidak pernah dicintai, wanita yang diseret keluar, dihina dan murahan itu adalah saya. Flower Amber Dulcan!" Ucap Flo dingin.


"Tuan duke sendiri yang membuatnya jadi seperti ini. Saya lelah, anda pulanglah!" Flo berjalan pergi.


"Berhenti!!!" Winter mengejar Flo dan memaksa Flo menghadap dirinya. "Beraninya kamu pergi setelah berbicara seperti itu padaku!! Apa kamu sudah benar benar gila?!"


"Awalnya aku juga berpikir demikian!!!" Flo memberontak dan berteriak pada Winter. "Awalnya aku juga berpikir bahwa apapun yang aku lakukan, martabatku tidak akan pernah jatuh.. karena aku adalah duchess. Karena aku berharga..." Flo menatap Winter frustasi. "Tapi... lihatlah.. pakaianku, wajahku semua lusuh, jelek dan berantakan. Aku tidak berbeda dengan mereka."


Winter mencengkran tangannya sendiri dengan kuat, dia sudah kehabisan kata kata untuk Flo. "...Apa kamu makan dengan teratur??" Suara pria itu melunak.


"Ha..." Flo berdecih. "Apa kamu berharap aku mati kelaparan??"


"Sudah aku bilang jangan berprasangkan seperti itu!" Decak Winter kesal. "Tubuhmu itu sangat le..." Winter hendak memegang tubuh Flo.


Dengan kasar Flo menepis tangan Winter membuat pria itu tidak percaya. Flo membungkukkan badannya, "Saya harap ini adalah yang terakhir. Semoga tuan grand duke Winter Leonhard Ferkalon sehat selalu." Flo melangkah mundur, berbalik pergi dan membuka pintu rumah.


Jahat.. kejam.. padahal kamu sudah membuangku. Namun kamu masih melarang aku untuk meratap, kejam.


Winter mengikuti Flo, "kamu bebas menganggap aku kejam padamu. Tapi kamu harus tau bahwa semua perbuatanmu itu tidak termaafkan, menyakiti Summer dan memasukkan pria lain ke kediamanmu. Itu perbuatan yang.."


Flo tidak sanggup menatap Winter mendengar kalimat itu, tubuhnya bergetar menahan tangis. "Kenapa sekalipun kamu tidak pernah percaya padaku? Bertanya alasannya, mendengar dan memahami aku. 'Baiklah Flo jadi itu alasanmu.. Jadi itu yang kamu rasakan.' Satu kalipun kamu tidak pernah berkata demikian." Lalu wanita itu masuk dan menutup pintunya meninggalkan Winter dalam remang malam.

__ADS_1


Flo...


__ADS_2