Abandoned Flower

Abandoned Flower
Berhak Untuk Bahagia


__ADS_3

*4 Tahun Kemudian*


"Beliau kesana lagi??" Simon menyusun kayu bakar dibantu oleh Hally yang kini berusia 10 tahun. "Apa beliau tidak mengatakan apapun??"


"Iya!" Hally mengangkat 2 balok kayu sekaligus untuk diletakkan dekat dengan tungku api. "Belakangan nona sering sekali kepuncak gunung, ini aneh ayah. Nona juga suka merenung sendirian, terkadang dia juga menangis malam malam."


Simon menghela nafas panjang, dia mungkin bisa menerka apa yang menjadi pikiran Flo saat ini.


Mungkin saja ini karena berita yang aku sampaikan tempo hari kan? Berita tentang grand duke yang telah kembali ke ibu kota setelah bisa menguasai beberapa wilayah bagian setelah mengakhiri perang dingin yang panjang.


Berita tentang perluasan wilayah kekuasaan sudah terdengar dimana mana sejak minggu lalu, pemerintahan raja saat ini mengalami kemenangan meski yang membawa kemenangan itu jelas grand duke yang berusaha keras dimedan perang. Dan Simon mendengar itu semua saat berbelanja di pasar ibu kota lalu menceritakannya pada Flo.


Setelah selesai menyusun balok kayu, Simon berpikir untuk menghampiri Flo diatas puncak gunung. Melihat wanita itu hanya duduk diam diatas batu dekat dengan tebing dan memandang jauh punggung gunung disana.


"Bukankah anda tidak bisa meraih tempat itu hanya dengan memandanginya saja??" Ucapan Simon memecah lamunan Flo.


"Ini sudah lima tahun. Apa anda masih belum siap juga??" Simon berjalan mendekat kearah Flo dan berdiri dihadapan wanita itu.


"Siap..?" Flo menatap Simon seakan menagih maksud pria itu.


"Lalu kenapa anda datang kesini lagi?" Seakan sudah hafal tabiat Flo 5 tahun ini, jika wanita itu mendapat banyak pikiran dia hanya akan duduk ditepi tebing ini seharian tanpa melakukan apapun.

__ADS_1


Flo menatap menerawang keatas langit. "..Belakangan ini saya terus teringat sesuatu. Saya terus teringat wajah ketiga pelayan saya yang ditebas secara keji dihadapan saya padahal saya sudah menyuruh mereka untuk kabur. Ah tidak, dari pada itu saya teringat hal hal yang lebih lampau." Flo teringat bagaimana dia berusaha hanya untuk melihat Winter setiap harinya, "Ingatan ingatan akan masa lalu." Masa masa dimana Flo yang samgat berharap akan kasih sayang tapi dia tidak pernah mendapatkannya.


"Saat itu saya tumbuh dengan merasa tidak memiliki siapapun, tidak mempunyai apapun. Begitulah saya tumbuh besar dengan rasa kekurangan. Tapi... sebenarnya saat itu saya memiliki banyak hal, baru sekaranglah saya menyadarinya."


Flo tertunduk sedih. "Saya tidak yakin, apa sekarang saya bisa kembali... ke dunia dimana tidak ada yang tersisa untuk saya.."


"Tapi bukankah itu kenyataannya?" Simon ikut duduk diatas batu dan memandang ujung tebing. "Kenyataan yang harus anda hadapi. Memangnya mau sampai kapan anda terus bersembunyi disini?!"


Flo menggigit pelan bibirnya. "...Anda marah?? Saya.."


"Karena Yang Mulia Grand Duke telah kembali." Simon menyelak ucapan Flo. "Bukankah kenyataan itu terlihat semakin jelas?? Tapi anda sama sekali tidak memiliki keberanian, keberanian kembali pada kenyataan."


Simon terdiam melihat Flo, lalu dia membungkuk badannya sedikit. "...Maaf kalau saya sudah lancang, tolong lupakan saja perkataan saya tadi."


Flo bangkit berdiri dan berjalan kedekat tebing. "Beliau, sudah membuang saya... Benar, Itulah kenyataan yang paling saya takuti." Kini wajah Flo semakin sedih. "Bahkan Ethan... ah maksud saya calon penerus duke yang kadang menemui saya sudah 2 tahun tidak kesini."


"Tuan Marquis Ethan datang kesini bulan lalu." Ucapan Simon membuat Flo menoleh terkejut.


"Apa?! Kenapa anda tidak memberi tahu saya?!"


"Kalau saya memberi tahu itu, kalau saya memberi tahu anda. Apakah anda akan memberikan jawaban yang baik atas ketulusan tuan Ethan datang kesini untuk membawa anda pulang?? Anda pasti hanya akan mengabaikannya seperti biasa." Simon menjeda. "Tadi anda bertanya apa saya marah.. Benar saya marah. Orang yang menghambat nona bukanlah yang mulia grand duke atau yang telah tiada... tapi nona sendiri."

__ADS_1


Wajah Flo semakin tidak nyaman mendengar ucapan Simon yang tepat.


"Apa nona tidak kasihan pada diri anda sendiri?? Tubuh anda.. perasaan anda.. Tidakkah anda terlalu kejam dengan diri anda yang menyedihkan itu??"


"Apa anda tidak pernah berpikir bahwa mungkin saja.. bukan orang lain yang tidak mengkhawatirkan dan mencintai diri anda.. tapi diri anda sendiri??"


Flo lagi lagi tertohok dengan ucapan Simon, lalu dia kembali duduk diatas batu dan menunduk. "Jadi maksud anda aku tidak pernah berusaha mencintai diriku sendiri?"


"Iya nona. Tolong cobalah sekali saja hibur diri anda sendiri.. katakan pada diri sendiri.


Kamu sudah melakukannya dengan baik..


Kamu sudah cukup bertahan..


Kamu sudah bersusah payah selama ini..


Karena itu.. kamu bisa hidup bahagia sekarang."


Air mata Flo meluncur begitu saja dipipinya mendengar ucapan Simon, hatinya mengahangat dan terharu. Tidak pernah sekalipun dia berusaha menyanyangi dirinya sendiri dan sekarang dia tahu bahwa dia pantas mendapatkan kasih sayang sebesar itu dari dirinya sendiri. Wanita itu hanya bisa menangis sesengukan menutupi wajahnya, menangisi dirinya sendiri yang telah berusaha sekuat tenaga, berjuang dengan keras.


Aku berhak bahagia...

__ADS_1


__ADS_2