
Asifa menerima makanan yang di berikan pelayan, yang di berikan oleh Fahmi. Tak ia mengucapkan terima kasih, dan melihat ke arah Fahmi sekilas. Tersenyum bahagia Asifa mendapatkan perlakuan manis dari Fahmi.
Fahmi yang melihat Asifa menoleh sekilas dan tersenyum bahagia di wajahnya pun bahagia. Dan berharap ia bisa menyembuhkan luka di hati Asifa. Dan bisa menghapus nama Ardi di hatinya, dan ia menggantikan posisi. Menjadi satu-satunya di dalam hatinya Asifa.
Acara tersebut berlangsung sampai pukul 12 malam. Akhirnya acara selesai dan pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan Yosi, karena ia perempuan. Baik Taufiq atau Fahmi sebagai teman kerja nya. Dan juga we memiliki saudara perempuan, meminta Zaki untuk mengantarkan pulang.
Karena Zaki juga tidak sendiri maka Taufiq dan Fahmi meminta Zaki yang mengantarkannya. Zaki datang bersama ibu, anaknya dan baby sitter, sehingga aman untuk Yosi.
"Mi, aku tidak menyangka bahwa kamu pemilik restoran BERKAH BERSAMA. Dan aku pernah sekali datang ke restoran itu, kalau tidak salah pas ketemu sama kamu ya?"tanya Taufiq.
"Iya mas. Dan saat itu mas juga memberikan saya rasa, ketika mendengar satu nama yang sekarang jadi kenyataan."Jawab Fahmi dengan senyum malu.
"Eh, rasa apa? kenapa wajah mu memerah begitu?"tanya Taufiq di depan mertuanya, dan adik iparnya.
"Ya rasa berdebar jantung hati ku mas." Jawab Fahmi semakin malu dan salah tingkah, di depan calon istri dan calon mertuanya.
"Oh, jadi kamu jatuh cinta pada sebuah nama, bukan hanya pada pandangan pertama to." Tertawa lepas lah Taufiq dan pak Herman, Bu Hafsah tersenyum senang. Sedangkan Asifa jadi salah tingkah mendengar ucapan calon suaminya. Tidak berani melirik sama sekali, sama halnya dengan Fahmi.
"Asifa ke kamar duluan ya ma, pa," langsung beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju kamar dengan kaki pincang nya. Ya masih terlihat pincang walau tidak separah beberapa hari lalu.
"Kalau begitu saya juga pamit ya pa, ma, mas. Sudah malam tidak enak jika di sini terus."Langsung beranjak dari tempat duduknya bersalaman dengan pak Herman dan Taufiq. Kemudian menangkupkan tangannya di depan dadanya ketika berhadapan dengan bu Hafsah.
Ya Fahmi, Zaki, dan Taufiq pulang belakangan karena membantu membereskan peralatan masak/bakar. Karena tidak ingin membuat para karyawan capek sendiri membereskan semua peralatan.
Akhirnya Taufiq pun pamit pulang juga, karena malam semakin larut dan kini sudah menjelang pagi. Sekarang jam dinding menunjukkan pukul setengah 2 pagi.
Setelah kepergian Taufiq pak Herman mengunci pintu rumah. Dan menyusul istrinya masuk ke kamar, untuk istirahat. Sebab sekujur tubuhnya sudah sangat lah lelah, dengan aktivitas seharian full.
__ADS_1
...****************...
Hari berganti siang, rasa lelah di tubuh Asifa masih terasa. Tadi setelah sholat subuh ia tidak kembali. Sehingga tidak tahu jika rumahnya sudah di penuhi oleh para tamu.
Tamu kali ini adalah keluarga Dinata dan keluarga Daryanto, beserta anak, menantu dan cucunya. Fahmi dan Taufiq tidak tinggal diam, ia berdua membantu membongkar tenda.
Kembali ke kamar Asifa, yang kini baru bangun tidur jam 10. Segera ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia tunaikan sholat duha, lebih dulu sebelum keluar.
Saat Asifa buka pintu kamar, anak-anak lagi main di depan kamar. Semua langsung menoleh ke arahnya, dan menyapa semua.
"Hai tante," kedua keponakan Fahmi, yaitu anak Anis dan Ihsan.
"Tante incess,"Amir, Atifah dan Aulia.
"Hai semua, assalamualaikum ponakan tente yang tampan dan cantik."
"Saya Husna dan Husni adik saya."jawab Husna.
"Wah nama yang indah sama seperti orangnya." Ucap Asifa dengan senyum manisnya.
"Tante apa baru bangun?" tanya Amir, karena sesiangnya Asifa itu lebih dari jam 7 pagi.
"Hehehe, ponakan tente yang satu tau aja. Iya tante habis subuh tadi tidur lagi dan baru bangun setengah jam yang lalu."Jawab Asifa. membuat yang mendengar langsung melihat arah jam dinding dan jam tangan.
"Ya sudah tante gabung dengan orang dewasa dulu ya." Pamit Asifa, di jawab dengan anggukan kepala.
Anis melihat interaksi Asifa dengan anak-anak sangat baik. Tanpa ada paksaan, yang ada ketulusan terpancar dari tatapan Asifa.
__ADS_1
Asifa menyalami kedua calon mertuanya, kakaknya Fahmi, pak Arya dan pak Surya, kemudian Salsa. Tapi pada Ardi dan Ihsan ia hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Mama, kenapa Asifa tidak di bangunin?"tanya Asifa, merasa malu dengan para tamu. Terutama pada calon mertuanya, dan kakak iparnya.
"Tadi mama sudah ke kamar, tapi lihat kamu tidurnya pules banget tidak tega." jawab bu Hafsah, saat Asifa duduk dekat mamanya.
"Dek kenal kan aku kakaknya Fahmi, Anis Ayuningtyas. Biasa di panggil Anis, dan ini mas Ihsan suami mbak."Anis mengulurkan tangannya.
"Salam kenal juga ya mbak Anis mas Ihsan,"Asifa menyambut uluran tangan Anis. dan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya pada Ihsan.
"Iya dek Asifa salam kenal juga."Ihsan juga menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya, untuk menghormati calon istri adik iparnya.
"Sayang tadi calon suami mu, membawakan makanan. Itu mama letakkan di meja makan, kalau sudah lapar makan sana."Bu Hafsah memberitahu Asifa, jika calon menantunya membawakan makanan.
"Tapi ma, masak Asifa makan sendirian ma. Mana jam setengah sebelas lebih lagi."Gerutu Asifa, merasa tidak enak makan sendiri.
"Apa mau makan bareng mas dek?"tiba-tiba Fahmi masuk di ruang keluarga, sambil tersenyum manis pada Asifa.
Mendengar suara Fahmi yang tiba-tiba muncul di ruang keluarga. Dan tersenyum manis, ketika ia menatapnya. Asifa langsung tersipu malu, menunduk agar rona wajahnya tak terlihat.
"Iya sayang tadi calon suami mu juga belum sarapan Lo di rumah. Malah dia pesan makanan dari luar, katanya mau makan berdua sama kamu sayang." Timpal Bu Fatimah, membuat Asifa membelalak.
Asifa tidak menyangka calon suaminya rela lapar, karena dirinya belum bangun. Bahkan sekarang terlihat sangat lelah di wajahnya. Asifa jadi merasa bersalah, karena telah membuat calon suaminya menunggu.
Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya, berjalan mengajak Fahmi. "Maaf ya mas, lagian kenapa harus nunggu Zahra? Ayo kita makan, nanti keburu mas Fahmi pingsan lagi." Dengan gurauan, sambil jalan ke ruang makan.
"Kan pengen makan bareng dek Zahra, eh. rupanya masih mimpi indah." Balas gurauan Asifa, sambil mengikuti ke ruang makan.
__ADS_1
Asifa mengambil piring ke dapur lebih dahulu, setelah itu ia menyajikan. Ketika di buka ternyata isinya ada makanan favorit mereka berdua