
Hal ini membuat Andik dan Asifa senang. Andik langsung berdiri dan melangkah ke arah pak Herman dan bu Hafsah. Kemudian bersimpuh di depan pak Herman, mencium tangan pak Herman. Menangis di panggung pak Herman, sungguh bahagia ia bisa merasakan lagi memiliki orang tua. Mesk ki pun bukan orang tua kandung, tapi dapat mengobati rasa rindu pada kedua orang tuanya.
Pak Herman pun bahagia bisa merasakan punya putra. Meski pun Fahmi dan Taufiq sudah di anggap putranya sendiri juga. Tapi rasanya berbeda saat tangannya di bersentuhan dengan Andik. Terasa berdebar kencang dan merasa tidak ingin kehilangan seorang anak laki-laki. Terlebih lagi saat mendengar tangis pilunya Andik. Tidak terasa air matanya pun menetes juga, karena ada rasa iba.
Bu Hafsah pun merasakan hal yang sama dengan suaminya. Sehingga ia tidak dapat menahan air mata yang mengalir deras di pipinya. Sebagai seorang ibu ia tahu betul, bahwa Andik sangat merindukan kasih sayang orang tuanya. Apa lagi lebih lama ia besar di pondok pesantren. Sudah pasti ia kurang belaian kasih sayang orang tuanya. Maka dengan di terima sebagai putra Hermansyah ia begitu bahagia. Dengan tangis pilunya itu, sebenarnya adalah ungkapan bahagia. Yang tidak bisa dengan kata-kata, melainkan dengan air mata bahagia.
Semua orang yang menyaksikan itu ikut terharu, apa lagi mereka memang masih memiliki orang tua. Walau pun hanya satu tips masih ada yang mendukung dan mensupport nya. Berbeda dengan Andik yang sedari kecil jauh dari orang tua untuk mendapatkan ilmu agama dan akhirat. Sejak usia 6 tahun ia sudah berada di pesantren, setelah itu ia kuliah di di Jakarta sambil mendirikan kelompok nya. Kemudian ada tawaran kerja dengan keluarga di bagian kantor.
"Sudah nak jangan sedih lagi ya, sekarang kamu kami ini orang tua mu juga. Kalau kamu menganggap Asifa adik mu, maka mama dan papa nya pun orang tua mu."Ujar pak Herman, sambil mengusap kepalanya Andik dengan lembut.
Andik mendapatkan usapan lembut tangan kiri pak Herman pun. Dia mengangkat kepalanya, lalu mendongak menatap wajah pak Herman yang tersenyum tulus itu. Kemudian ia mengusap air matanya yang membasahi pipinya.
"Saya bukan sedih lagi pa, tapi tangis bahagia setelah kepergian bapak, ibu dan Sifana pa. Karena saya bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang keluarga kembali. meski bukan dari keluarga kandung, saya sangat bersyukur atas apa yang Allah berikan ini. Terima kasih atas kasih sayang keluarga ini berikan pada saya. Pa, apa boleh saya meraih tangan mama, seperti saya menggenggam tangan ibu ku sendiri?"Andik minta izin pada papa barunya.
"Maaf, meski pun kamu sudah papa anggap putra sendiri. Tetap saja kalian bukan mahram, maka dari itu papa tidak memperoleh kamu bersentuhan dengan mama. Lain halnya dengan Taufiq dan Fahmi, mereka adalah menantu dan calon menantu. Sekarang saja Fahmi masih belum bisa mencium tangan mama." Jawab pak Herman, dengan menatap wajah Andik yang sedang memelas.
"Kamu juga tahu hal itu bukan? apa kamu mau melanggar hukum dan syariat Islam. Serta ajaran agama Islam pada nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam?"tanya pak Herman lagi. Andik segera menggeleng kepala pelan.
"Nauzubillah...., Andik takut di laknat Allah pa, maaf ya kalau Andik berlebihan. Seharusnya Andik bersyukur sudah berada di dalam keluarga papa Hermansyah. Terima kasih sudah mengingatkan Andik, sehingga Andik tidak terperosok jauh dari norma-norma agama Islam."Ucap Andik dengan menunduk, selain malu ia juga menghormati orang tua angkatnya. Dengan tetap duduk di lantai, seperti sedang melakukan sungkem.
__ADS_1
"Sudah duduk di tempat mu, masa kamu duduk di bawah begini sih."Ucap pak Herman.
"Selamat datang di keluarga Hermansyah ya Dik. Saat kumpul begini bagaimana perasaan mu?"tanya Taufiq, dengan senyum lembut pada saudara barunya ini. Lalu mengulurkan tangannya sebagai pelengkap ucapan selamat nya pada adik angkat istrinya.
"Ya, terima kasih mas Taufiq. Perasaan saya lebih bahagia, apa lagi memiliki kakak ipar seperti mas Taufik."Ucap Andik, menyambut uluran tangan Taufiq.
"Selamat bergabung di keluarga Hermansyah sekaligus calon kakak ipar. Dan tetap saya yang paling muda di antara mas Taufiq dan mas Andik." Ucap Fahmi, sambil mengulurkan tangannya pada Andik dengan bercanda.
Andik dan Taufiq saling tatap sejenak kemudian "Kakak bukan mas."Ucap keduanya, tertawa lah mereka semua.
"Hahahaha, biar sama dengan princess papa panggil mereka kakak."Ucap pak Herman yang menimpali ucapan Andik dan Taufiq.
Asifa menunduk, karena malu mendengar ucapan Fahmi yang menyebutnya 'princess Zahra' oleh Fahmi. Nama Zahra yang ia sebut, saat berkenalan dulu. Kini telah terpatri di hati dan lisan Fahmi. Tidak salah jika Andik meledeknya, telah mendapatkan panggilan spesial dari Fahmi calon suaminya.
Kini obrolan masih berlangsung hingga jam 22:30 malam semakin larut. Akhirnya mereka mengakhiri obrolannya, Andik dan kelompoknya pamit pulang bersama Fahmi. Sedangkan Taufiq akhirnya menginap di rumah pak Herman. Sebab istri dan kedua anaknya sudah tidur di kamar biasanya mereka tempati.
...****************...
Sebulan telah berlalu baik Asifa dan Fahmi kini usahakan sudah semakin ramai. Fahmi juga membuka cabang di Surabaya dan Jakarta.
__ADS_1
Begitu juga dengan Asifa di Surabaya sudah di buka dua toko kue AZ ZAHRA. Kemudian di Bandung di sekitar tempat tinggal Henry dan Anisa.
Dan Asifa sudah selesai dengan urusan kerja sama dengan pak Djohar. Langsung menyalurkan bantuan pada pondok pesantren Yatim-piatu di daerah pelosok. Yang di kawal oleh Andik dan kelompoknya, tidak ketinggalan yaitu Taufiq dan Fahmi.
Sebenarnya mereka berdua tidak perlu ikut, karena Fahmi yang bucin pada Asifa. Tidak mengizinkan Asifa pergi jika Taufiq dan dirinya tidak ikut. Dengan alasan apa pun, ia tetap tidak mengizinkan. Tidak perduli dengan pandangan orang lain, tentang dirinya. Yang penting baginya adalah ia dapat memastikan bahwa Asifa selamat.
Fahmi yang pernah kehilangan, maka dari itu ia tidak ingin terjatuh di lubang yang sama. Bukan tak percaya dengan ketetapan Allah, namun ia tidak ingin terjadi sesuatu. Apa lagi hari pernikahan mereka semakin dekat. Hal itu lah yang membuat Fahmi menjadi parno(takut).
Kini di mobil pun Asifa sudah membeli 2 lagi untuk para pengawal yang membawa barang bantuan dan memakai mobil Asifa yang dari pak Arya.
Tapi kalau yang di pakai ini mobil Fahmi, yang baru ia beli 2 minggu lalu. Saat ini Asifa duduk belakang bersama Fahmi, dengan menjaga jarak.
"Dek Zahra, jika ingin tidur tidur saja, perjalanan masih jauh."Ujar Fahmi, saat melihat Asifa menguap. Beberapa kali, membekap mulutnya karena menguap.
"Tapi Zahra, tidak enak masak tidur sendiri."Kata Asifa, masih dengan menatap pemandangan yang tampak dari kaca jendela mobil.
"Tidak apa-apa dek, kalau mau mas temani. Mas temani tapi tetap seperti ini, kan kita belum halal. Kalau sudah halal pasti beda caranya dek."Gombal Fahmi, dengan senyum manis menatap Asifa. Yang sejak tadi tidak mau menoleh ke arah nya sama sekali.
Asifa menoleh sekilas "Ih, mas Fahmi ini. Malah gombalin Zahra, kan lagi serius juga." Terlihat wajahnya yang sudah merona kemerahan.
__ADS_1
*****Bersambung.....