APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
66.Tunggu mas ya dek Zahra sayang


__ADS_3

Asifa hanya mengangguk dan tersenyum pada Fahmi. Dirinya merasa ada debaran di hati, dan dapat melihat ketulusan yang dari Fahmi.


"Nak Fahmi sini kamu sarapan dulu, pasti sudah lapar. Ini saya masak banyak sekalian untuk nak Fahmi dan Asifa."Ujar bu Hafsah.


"Terima kasih bu, tapi cukup saya yang makan. Saya jadi tidak enak, masak cuma saya yang makan."Kata Fahmi sambil menunduk karena malu mendapat perhatian dari bu Hafsah.


"Siapa bilang kalau kamu sendiri yang belum sarapan, saya juga belum sarapan. Asifa juga belum sarapan, karena dia juga tidak mau makan makanan rumah sakit yang sudah dingin. "Ujar pak Herman.


"Loh, kenapa bapak belum sarapan ini sudah siang. Bagaimana kalau bapak sakit, nanti ibu jadi bingung harus menjaga Zahra atau bapak." Reflek langsung mendekati Herman mengajak sarapan bareng. Dengan raut wajah penuh kecemasan dan kekhawatiran.


"Apa ibu juga belum sarapan? mending kita sarapan bareng ya bu?" tanya Fahmi.


"Sudah nak, tadi di rumah kan ibu datang belum lama karena dapat telepon dari bapak. Kalau Asifa tidak mau makan makanan rumah sakit. Kebetulan pas sampai rumah sakit, bareng dengan pak Arya dan yang lainnya."Jawab bu Hafsah.


"Oh begitu, duh saya jadi tidak enak dengan bapak yang belum sarapan."Kata Fahmi.


"Tidak apa-apa kebetulan ini sarapannya baru datang. Sudah ayo kita makan, Ardi, Salsa, mas Arya ayo ikut sarapan. Pasti kalau naik pesawat paling pagi belum sarapan dari rumah."Ajak pak Herman pada besannya.


"Sebenarnya saya dan Salsa sudah sarapan pa. Tapi ayah hanya minum teh, karena tidak mau sarapan. Dan terus menerus ngajak berangkat ke sini."Kata Ardi.


"Iya mas, setelah melihat putri kita sudah mendingan jadi lapar."Kata pak Arya.


Fahmi yang mendengar itu langsung menyiapkan makanan, yang sudah tersedia di meja. Dia menyiapkan untuk pak Herman, lalu pak Arya kemudian untuk dirinya sendiri.


"Monggo pak kita makan mas Ardi beneran tidak mau makan. Emang tidak kangen gitu dengan masakan ibu?"tanya Fahmi, sengaja memanas-manasi Ardi.


Karena dia merasa kangen dengan masakan bu Hafsah yang sudah lama tidak makan bersama. Sebenarnya lebih rindu lagi masakan Asifa.


"Kamu ini nak bikin ibu baper saja."kata bu Hafsah ada rasa malu mendengar ucapan Fahmi.


Ardi yang mendengar ucapan Fahmi, sebenarnya ingin makan apa lagi masakan Asifa. Tapi dia harus menahannya, karena harus menjaga perasaan Salsa. Jadi Ardi hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Fahmi.

__ADS_1


Setelah selesai makan Fahmi langsung membersihkan. Di wastafel mencuci piring bekas mereka makan. Tanpa ada keterpaksaan, dengan senang hati Fahmi melakukan itu.


"Nak Fahmi sepertinya terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga ya?"tanya pak Arya.


"Saya sudah biasa pak, sejak masih mondok. Sampai sekarang, kebetulan di rumah cuma sendiri. Sekarang saja dekat sama mas Taufiq, saya sering ke rumahnya kalau lagi suntuk di rumah."Jawab Fahmi.


"Maaf apa masih punya orang tua?"tanya lagi.


"Masih pak, dan akhir bulan ini akan datang ke sini."Jawab Fahmi.


"Memang nak Fahmi aslinya mana? dan saat ini orang tuanya di mana?"jadi ingin tahu lebih dalam tentang Fahmi.


"Surabaya pak, tidak jauh kok dari rumah mas Taufiq dulu. Kalau sekarang lagi di rumah kakak saya. Dan di sana betah karena baru nerima cucu baru."Jawab Fahmi.


"Wah.., pantas betah, punya mainan baru. Nak Fahmi sendiri belum berumah tangga ya, kalau di lihat tidak jauh ya dari Ardi?"tanya pak Arya lagi dan lagi.


Fahmi yang mendapat pertanyaan bertubi-tubi pun berpikir sejenak. "Ini lebih parah dari calon mertua saja. Seperti sedang melakukan wawancara kerja saja."Kata dalam hati Fahmi.


Maksudnya Fahmi nunggu kedua orang tuanya datang dan akan langsung melamar Asifa.


"Tunggu mas ya dek Zahra sayang, sambil nunggu masa Iddah mu selesai. Gumam Fahmi, tapi ia merasa di perhatikan, karena ucapannya pun cuma menunduk. Sebab tidak ingin dirinya ketahuan sedang menunggu Asifa.


Asifa yang mendengar ucapan Fahmi. Entah mengapa tiba-tiba perasaannya mengatakan tidak rela, jika Fahmi bersama orang lain.


Pak Herman menatap Fahmi, ada rasa kecewanya. Saat mendengar ucapan Fahmi, bahwa bulan depan menuju masa depan.


"Padahal ku berharap kamu bisa bersama Asifa. Mungkin belum jodoh, semoga ada yang menerima Asifa dengan hati yang menerima kekurangan."Gumamnya pak Herman.


"Oh begitu, semoga lancar ya, kalau boleh tahu apa calon istrinya orang Jogja juga?"tanya pak Arya.


"Aamiin..., terima kasih pak doanya. Iya orang sini pak, bahkan rumahnya tidak jauh dari saya tinggal."Jawab Fahmi, penuh teka-teki.

__ADS_1


Hal itu membuat pak Herman dan Asifa jadi bingung dan bertanya-tanya. Gadis mana yang akan dipersunting Fahmi.


Fahmi beranjak dari duduknya, dan langsung berjalan menuju Asifa.


"Dek Zahra cepat sembuh ya, saya pulang dulu, sudah siang. Saya mau beberes rumah, apa lagi ini sudah siang. Insya Allah nanti kalau ada waktu saya ke sini lagi jenguk dek Zahra. Tapi kalau belum pulang sih, soalnya yang saya tahu dek Zahra tidak betah di rumah sakit."Kata Fahmi dengan senyum manisnya.


"Terima kasih ya mas, sudah ikut jaga Zahra. Mungkin kalau besok saya sudah di rumah mas."Ucap Asifa dan membalas senyuman Fahmi. Tapi cuma berani menatap wajah Fahmi sebentar. Karena haru jaga pandangan.


"Pak, bu, saya pamit pulang ya terima kasih sudah di kasih sarapan."Ucapnya sekalian pamit.


"Sama-sama nak,"kompak sekali pak Herman dan bu Hafsah.


"Saya juga mengucapkan banyak terima kasih. Karena sejak kita bertemu, kami selalu merepotkan nak Fahmi."Kata pak Herman dan di angguki bu Hafsah.


"Sama-sama pak, mungkin karena kebetulan saja. Kalau begitu saya permisi, assalamualaikum."Ucap Fahmi, langsung melangkah pergi dari ruangan tersebut.


"Wa'alaikumsalam,"jawab semua yang ada di dalam ruangan tersebut.


Setelah kepergian Fahmi, Asifa langsung memejamkan matanya karena kantuk. Ya setelah makan tadi Asifa langsung minum obat yang diberikan oleh perawat.


Tentunya obat tersebut ada obat tidur atau penenang. Karena sudah tahu riwayat Asifa, yang pernah depresi. Sehingga dokter segera memberikan penanganan yang tepat untuk Asifa.


Setelah memastikan Asifa tertidur pak Herman memberikan kecupan hangat di kening putrinya.


"Mas saya ada yang ingin di bicara pada mas, dan Ardi."Ujar pak Herman, baginya ini waktu yang tepat untuk kebaikan Asifa.


"Apa itu mengenai Asifa mas? sehingga mas memastikan bahwa Asifa benar-benar tertidur. Apa Asifa tidak boleh tahu tentang ini?"tanya pak Arya dan di angguki oleh Ardi.


"Iya mas, saya sebagai orang tua,.....


*****Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2