
"Oh... ternyata benar tebakan mas, maaf ya sayang kalau sudah membuat mu kecewa dan cemburu." Ucap Taufiq yang sudah ada di belakang Aisyah, lalu tangannya mengusap kepala istrinya dan mendaratkan kecupan di kepala Aisyah. Tidak perduli dengan orang sekitar asal istrinya senang.
"Mas... Malu tu di lihat yang lainnya."Aisyah malu di perhatikan oleh yang lain.
"Biarkan saja. Kalau adek tidak mau aku perhatikan juga tidak apa-apa. Nanti mas perhatikan yang lain saja deh."Kata Taufiq, menggoda istrinya.
Bukan menjawab Aisyah langsung mencubit pinggang suaminya, karena kesal. Sudah tahu istrinya malu malah di godain.
"Sayang ih! sakit pedes. Cubitan mu ini mengalah sambal goreng di meja tau gak."Keluh Taufiq dengan nada manja.
"Lagian mas itu nyebelin banget sih. Sudah tolong bantuin itu gelar karpet di ruang keluarga. Kita makan di sana, kalau di sana cuma untuk penyajian nya saja."Ujar Aisyah pada suaminya biar gotong royong beresin ruang keluarga untuk makan bersama.
"Siap bidadari ku."Ucap Taufiq lalu pergi ke ruang tamu.
Ya Taufiq tadi berniat melihat situasi dapur dan ruang makan. Apa muat untuk makan dua keluarga plus para sahabat Asifa beserta anak-anaknya. Sekalian dirinya mau minum, karena merasa haus. Ternyata istrinya lagi curhat pada ibu dan sahabat Asifa.
"Pa, kita harus pindah sofa ke ruang tamu dulu. Sebab untuk makan malam bersama di ruang keluarga."Ucap Taufiq pada mertuanya.
"Baiklah urusan sofa biar yang mudah pak Yanto. mari kita cari karpet nya."Ujar pak Herman pada calon besannya.
"Baik pak, gotong royong biar cepat selesai. Setelah kerjaan kita selesai lalu berangkat ke masjid."Akhirnya kedua calon besan pun pergi untuk mengambil karpet. Di sebuah kamar yang khusus untuk meletakkan barang, alias gudang bersih.
Beberapa menit mereka berempat menata ruang keluarga menjadi tempat lesehan. Kemudian mereka pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat isya berjamaah.
Sementara yang perempuan juga langsung sholat isya setelah menyelesaikan tugas memasak nya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka membuat barisan dua kelompok. Yaitu kelompok untuk pak Herman dan calon besan bersama calon mantu. Kelompok dua yaitu kelompok Aisyah beserta keluarga, dan bersama dengan para sahabat Asifa.
Dan sudah pasti di bagian pak Herman ada hidangan yang menggugah selera makan Asifa. Dan sudah pasti hanya bu Hafsah saja yang lain enjoy saja.
Asifa makan malam dengan sangat lahap, tanpa menyadari bahwa Fahmi menatapnya.
Fahmi sangat senang dengan Asifa makan dengan lahap tanpa mereka malu-malu atau jaim. Sampai pada akhirnya mereka makan, Fahmi mengambil tissue untuk Asifa.
"Ini untuk mengelap bibirnya adek yang ada sisi bumbu."Ujar Fahmi.
"Hem, terima kasih mas."Asifa langsung mengambil tissue yang di berikan Fahmi untuk nya. Ia tidak menyangka kalau ternyata Fahmi memperhatikan dirinya sejak tadi.
"Sama-sama dek." Jawab Fahmi.
Para orang tua merasa senang dengan tindakan Fahmi pada Asifa. Mereka berharap kelak mereka bahagia, dengan rumah tangga mereka berdua. Yang di landasi dari sebuah kegagalan berumah tangga sebelumnya.
Setelah kepergian mereka, Asifa memilih untuk masuk kamar bersama Diana. Yang ingin tidur bersama Asifa selama beberapa hari ke depan.
...****************...
"Pak kapan kita kerumahnya pak Herman?"tanya Sarah, tidak mau bapaknya berubah pikiran untuk minta maaf pada janda muda di perumahan komplek ini.
"Iya besok pagi tadi bapak melihat pak Herman pergi ke masjid. Dan dari yang bapak lihat dia pergi berlima, tapi yang satu bapak tidak kenal. Apa itu saudara nya atau kerabat dekatnya juga. Tapi kalau di perhatikan mirip sekali dengan duda muda itu."Jawab pak Edi Susanto.
Saat ke masjid ia melihat rombongan pak Herman, di perhatikan satu persatu. Ada satu orang lagi yang ia belum pernah ketemu. Dan tanya sama pak RT, pak RT bilang itu tamu dari sore di rumah pak Herman. Bahkan di pak Herman ada mobil mewah juga di sana.
__ADS_1
"Kenapa bapak tidak menegurnya saja?"tanya bu Rossidah.
"Kan bapak tidak enak bu sama pak Herman. Kalau pak Herman masih marah, dengan bapak karena menggangu putrinya itu. Terlebih menantunya itu sangat bringas kalau lihat bapak. Bapak jadi tidak enak, lagi nantinya niat baik jangan tidak karuan. Bagaimana menurut ibu besok pagi saja, kita ke sana. Kalau bisa jam setengah tujuh, sebelum pak Herman pergi. Kan dia juga lagi mengelola toko kue AZ ZAHRA yang lagi viral. Takut tidak ketemu kalau siangan, ini masalah harus tuntas secara kekeluargaan bu."Pak Edi minta pendapat istrinya, khawatir kalau malam seperti saat ini. Terlebih saat ini, pak Herman bukan orang sembarangan.
Menurut orang-orang komplek, jangan sampai berurusan dengan keluarga Hermansyah. Jika tercium oleh media apa lagi keluarga Dinata. Bisa musnah semuanya jika berhadapan dengan keluarga Dinata.
Dari itu semua orang sekitar yang biasanya nyinyir terhadap anak angkat sekaligus mertuanya keluarga Dinata. Berbalik baik, meski tidak tulus, setidaknya ia akan aman. Tidak berada di zona merah, yang akan merugikan keluarga nya.
Kenyataan sekarang Asifa minta kebebasan dari keluarga Dinata. Tapi keluarga Dinata memang tidak akan melepas begitu saja. Karena keadaan Asifa masih jadi perbincangan semua orang. Namun untuk kenyamanan Asifa di awasi dari jarak jauh.
Bahkan berita keberadaan keluarga Dinata di rumah sakit kemarin tersebar. Sebab ada seorang dokter yang tinggal di komplek perumahan ini juga. Malah melihat langsung jika Asifa di kawal dengan ketat.
"Yang terbaik memang harus kita selesaikan dengan baik pak supaya sampai berurusan dengan keluarga Dinata."Kata bu Rossidah.
"Sayang kamu tolong belikan apa gitu buat oleh-oleh ke rumah pak Herman. Buat pantas-pantas masak ke rumah orang pagi-pagi tangan kosong. Lagian kan itu Asifa juga baru keluar dari rumah sakit. Itu artinya masih masa pemulihan, alangkah pantas kita bawa yang segar-segar. Biar itu Asifa cepat pulih, sehat kembali. Kamu itu kan anak kuliahan, dari kalangan anak muda apa yang cocok untuk orang yang baru keluar rumah sakit?" tanya pak Edi pada putri sulungnya.
Sarah tidak langsung menjawab pertanyaan bapaknya, tapi ia berpikir.
"Bagaimana kalau kita bawakan salad buah saja pak. Pasti nona Asifa juga suka itu segar juga. Tidak hanya untuk orang yang masih dalam pemulihan, orang yang sehat pun suka."Jawab Sarah.
"Baiklah, tapi bapak juga jadi ke pengen makan salad buah itu juga."Kata pak Edi.
"Ya sudah pesan yang banyak dan minta antar sekarang. Mumpung masih jam segini,nanti ke buru tutup. Kan itu bisa di si mm pan di kulkas, dan ketika kita bawa masih fresh."Perintah bu Rossidah pada Sarah.
"Siap bu, pak. Sarah pesan online sekarang."Kata Sarah dan langsung mencari salad buah yang paling enak. Melalui ponselnya, yang di mana banyak sekali stat makanan online.
__ADS_1
*****Bersambung......