
Pagi ini Asifa masih pincang, sebab kaki nya memang belum di urut sama sekali. Setelah selesai sholat subuh Asifa membantu ibu membuat sarapan. Dan hari ini Asifa pengen makan sayur gulai daun singkong dan dengan ayam goreng. Asifa yang meracik bumbu ayam goreng dan bumbu gulai.
Sementara pak Herman sedang membantu pekerjaan Asifa. Karena Asifa sedang sakit tidak bisa bebas berjalan. Sehingga mempersulit nya untuk berjalan, maka pak Herman tidak mau putri kesayangannya mengerjakan pekerjaan rumah. Terutama yang di kerjakan dengan banyak berjalan. Asifa boleh membantu dengan memasak atau setrika baju. Yang dapat di kerjakan dengan duduk, sehingga mudah untuk Asifa.
Saat sedang menyiram tanaman, pak Herman menoleh ketika mendengar orang mengucapkan salam. Dan ternyata itu pak Edi sekeluarga, yang datang di pagi hari.
"Wa'alaikumsalam,"jawab pak Herman dengan senyum. Meski tahu beberapa minggu lalu orang ini yang membuat Asifa ketakutan. Namun pak Herman tidak mau berprasangka buruk, akan ke datangan pak Edi sekeluarga.
Dengan cepat pak Herman, mematikan kran air. Lalu menggulung kembali selang yang sudah di gunakan.
"Maaf pak Herman, sepagi ini saya mengganggu aktifitas pak Herman sekeluarga. Saya mau ada perlu dengan pak Herman dan juga nona Asifa."Kata pak Edi.
"Tidak apa-apa pak, kebetulan juga sudah selesai. Mari kita masuk ke dalam, supaya bisa di bicarakan dengan tenang dan gamblang." Pak Herman berjalan kedalam lebih dahulu.
"Silahkan duduk pak, bu, nak, saya panggil putri saya dulu." Langsung menuju ke dapur, di mana putri dan istri berada.
"Assalamualaikum sayangnya papa." Ucapannya saat sampai di dapur.
"Wa'alaikumsalam, pa."Jawab keduanya.
"Sayang tolong buatkan teh manis hangat 4 ya, itu ada pak Edi sekeluarga."Perintah pak Herman pada istrinya.
__ADS_1
Asifa langsung berubah muram dan tegang. Saat mendengar papanya menyebutkan nama pak Edi. Untuk apa pagi-pagi begini dia datang ke rumah dengan sekeluarga. Membuat jantung Asifa berdebar hebat, bukan karena dia jatuh cinta. Melainkan takut pak Edi berbuat ulah di pagi hari, dan Asifa di cap sebagai pelakor seperti tempo hari.
"Tenang sayang papa tidak akan membiarkan apa pun yang terjadi padamu. Lagian kita tidak boleh berburuk sangka kepada tamu di pagi hari. Ayo kita hadapi bersama ya, mama sayang jangan lupa teh dan camilan nya ya."Ucap pak Herman ketika melihat istrinya juga tegang. Mendengar tamu di pagi hari ini adalah pak Edi sekeluarga.
"Iya pa, mama siapkan."Langsung menjalankan tugas dari suaminya untuk menjamu nya itu.
"Ih mau ngapain sih si tua keladi itu. "Ucap Asifa dengan kesal. Dengan di tuntun papanya Asifa, berjalan pincang dan pelan sambil meringis.
keluarga pak Edi Susanto memperhatikan Asifa yang di tuntun papanya. Menuju ruang tamu dengan berjalan pincang, pun berpikir apa yang membuat Asifa jalan pincang.
"Pa, Asifa duduk sama papa saja ya."Kata Asifa saat di arahkan di sofa tunggal.
"Oh ya maaf ya, sini."Pak Herman dengan sabar menuntun putrinya.
"Monggo di minum dan di makan cemilannya."Bu Hafsah memberikan pada tamunya.
Bu Hafsah membawa teko berisi teh manis hangat. Dan cangkir teh untuk tamu kemudian menuangkan untuk tamunya. Setelah selesai dengan jamuan Bu Hafsah duduk di sebelah Asifa. Sehingga Asifa saat ini berada di tengah, antara mama dan papanya.
"Maaf bu, kami merepotkan di pagi hari."Ucap bu Rossidah, sekedar basa-basi dulu. Dan Bu Rossidah bisa melihat Asifa yang tegang, ketika melihat suaminya.
"Oh tidak sama sekali bu Ros,"kata Bu Hafsah.
__ADS_1
"Ini untuk Nona Asifa, oh kenapa dengan kakinya Nona?"tanya bu Rossidah sambil meletakkan bawaannya di meja. Tepat di hadapan Asifa, sehingga Asifa bisa lihat apa isi paper bag yang di berikan bu Rossidah.
"Bu panggil Asifa saja tidak usah pakai embel-embel segala. Karena saya sedang sendiri, tidak akan ada yang marah kok sama ibu. Terima kasih sudah datang jenguk Asifa, ini saya habis jatuh dari kursi meja makan. Jadi terkilir, dan masih sakit untuk jalan."Jawab Asifa.
Ia paham kenapa mereka jadi panggil nona, mungkin karena tayangan konferensi pers kemarin. Sehingga mereka pada takut jika bermasalah dengan keluarga Hermansyah. Karena mereka takut berurusan dengan keluarga Dinata juga. Sebab Asifa adalah anak angkat dan menantunya keluarga Dinata.
"Baik lah dek Asifa. Semoga cepat sembuh ya, jadi bisa beraktifitas seperti biasa."Ucap bu Rossidah.
"Oh ya kenalkan ini anak sulung saya namanya Sarah dan yang ini Jaka, anak kedua saya."Bu Rossidah mengenalkan anak-anaknya.
"Salam kenal juga ya bu. Pasti sudah kenal semua dengan kami. Kalau boleh tahu ada keperluan apa ya, sampai harus datang pagi-pagi sekali?"tanya bu Hafsah, mengawali pembicaraan yang utama. Sebab dirinya juga punya kesibukan yang harus di kerjakan tidak ingin membuang-buang waktu.
"Begini pak Herman, saya datang ke sini ingin meminta maaf pada dek Asifa. Sebenarnya kami sudah lama ingin ke sini, tapi waktu nya selalu tida tepat. Saat pertama kali kami ke sini saat pak Herman kedatangan almarhumah nyonya Gina. Saat itu juga saya urungkan niat saya karena melihat dek Asifa dan almarhumah, pergi ke rumah sakit. Keesokkan nya pak Herman dan dek Asifa pergi ke Jakarta. Dan yang ada di rumah ini hanya dek Aisyah. Semalam saya juga mau datang tapi, sepertinya ada tamu banyak ya pak? soalnya saya sempat lihat bapak dan rombongan di masjid."Kata pak Edi. Panjang lebar menjelaskan maksud dan tujuannya.
"Kami sudah memaafkan pak Edi, sebelum pak Edi datang dan meminta maaf. Ya memang waktu mendiang datang, itu juga sangat mendadak. Tapi kami juga sudah antisipasi jika keluarga Dinata akan datang ke sini. Terlebih jika sudah masuk media, dan benar saja. Siang itu kami pergi makan siang bersama Aisyah dan menantu tentunya. Ternyata sang supir taksi online itu ternyata mata-mata mendiang. Kami memang ada rencana untuk ke Jakarta untuk mengurus surat pindah. Karena putri saya nyaman di sini dari pada di Jakarta atau Surabaya. Untuk yang semalam para sahabat Asifa yang berada di Jogja dan dosen teman Taufiq sekaligus teman Asifa."Jawab pak Herman.
"Maaf ya saya sudah mengganggu ketentraman bapak sekeluarga. Jujur ini murni niat saya datang untuk minta maaf. Bukan karena dek Asifa adalah keluarga Dinata. Waktu itu saya memang tidak bisa berpikir jernih. Bisa di katakan saya khilaf, saat saya ingat anak saya Sarah. Saya sadar jika perbuatan saya salah besar. Dan setelah saya renungkan, untuk meminta maaf pada dek Asifa."ungkapan pak Edi, pada pak Herman sekeluarga.
"Saya sudah memaafkan pak, saya berharap pak Edi tidak mengulangi perbuatannya lagi pada siapa pun."Ucap Asifa, ia benar-benar berharap pak Edi taubat nasuha. Sehingga tidak meresahkan warga sekitar lagi.
"Insya Allah dek, saya tidak akan mengulangi lagi." Ucap pak Edi, ia sungguh malu mendengar nasehat Asifa.
__ADS_1
*****Bersambung.....